Bukan Sekadar Wangi, Parfum Kini Gaya Hidup Harian Mahasiswa Jogja

Bukan Sekadar Wangi, Parfum Kini Gaya Hidup Harian Mahasiswa Jogja

BULETINFINANSIAL.COM — Fenomena yang disebut "Wangi 5.0" ini mengubah cara mahasiswa di kota pelajar memilih aroma. Mereka tidak lagi terpaku pada satu wewangian khas, melainkan berganti-ganti parfum sesuai mood, pakaian, dan ruang sosial yang dituju.

Mood Jadi Patokan Utama Memilih Parfum

Fajri, Senior Scent Advisor Maestro Parfum Seturan, mengamati langsung perubahan perilaku ini. Ia menilai pelanggan muda kini datang dengan kebutuhan yang lebih spesifik, bukan sekadar mencari produk.

"Yang berubah bukan hanya aroma yang dicari, tetapi cara pelanggan, khususnya mahasiswa, menjelaskan kebutuhannya. Mereka datang dengan referensi aktivitas, mood, karakter, atau aroma viral di media sosial," ujarnya di Yogyakarta, Senin (15/4).

Fase ini menandakan eksplorasi aroma menjadi hal yang lumrah. Mahasiswa bebas mencoba berbagai karakter wewangian tanpa harus terikat pada satu identitas aroma.

Produk Lokal dan Refill Jadi Pemicu Tren

Maraknya tren ini tidak lepas dari semakin mudahnya akses terhadap produk wewangian. Pilihan produk lokal yang beragam, hadirnya gerai isi ulang (refill), hingga kemasan kecil (tester) membuat mahasiswa leluasa bereksperimen.

Kemudahan ini juga didukung oleh ulasan di media sosial yang membantu mereka menemukan aroma sesuai anggaran. Dengan begitu, gaya hidup wangi tak lagi identik dengan biaya mahal.

Gerai Parfum Berbenah, Sediakan Ruang Eksplorasi

Menanggapi pergeseran ini, pelaku usaha parfum lokal di Yogyakarta mulai beradaptasi. Maestro Parfum, misalnya, memperbarui empat gerainya yang tersebar di kawasan Seturan, Gejayan, dan Jalan Magelang.

Konsep baru yang diusung adalah ruang eksplorasi aroma. Tujuannya untuk memberikan edukasi dan pengalaman mencoba wewangian secara lebih interaktif bagi para pelanggan setianya.

Literasi Produk Jadi Kunci agar Tak Konsumtif

Di balik tren yang berkembang, industri parfum dan kreator konten dinilai perlu memberikan informasi transparan. Hal ini penting agar konsumen bisa bereksplorasi secara bijak.

Informasi mengenai performa aroma pada kulit dan cuaca lokal menjadi krusial. Dengan pemahaman ini, mahasiswa dapat memilih produk sesuai kebutuhan, tanpa terdorong perilaku konsumtif yang berlebihan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index