IHSG Ditutup Melemah Tipis ke 6.496, Saham Kesehatan Justru Melonjak 5,28%

IHSG Ditutup Melemah Tipis ke 6.496, Saham Kesehatan Justru Melonjak 5,28%

BULETINFINANSIAL.COM — Pergerakan IHSG pada sesi pertama kali ini bisa dibilang naik-turun. Indeks sempat dibuka di zona hijau pada level 6.507,14 dan bahkan menyentuh level tertinggi 6.532,17. Namun, tekanan jual yang datang kemudian membuat indeks anjlok hingga level terendah 6.422,61 atau terkoreksi lebih dari 1%.

Menjelang akhir sesi, tekanan jual itu berhasil dipangkas sebagian besar. Alhasil, IHSG hanya kehilangan 4,78 poin dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di 6.501,66. Kondisi ini terjadi setelah bursa domestik libur satu hari pada Selasa (25/8/2026) memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Meski berakhir di zona merah, data perdagangan menunjukkan aksi beli masih cukup dominan di akhir sesi. Nilai transaksi tercatat Rp8,98 triliun dengan volume 232,12 juta lot dari 1,4 juta kali transaksi.

Kok Bisa Beda Arah dengan Bursa Asia?

Di saat IHSG memerah, mayoritas bursa kawasan justru menghijau. Kospi Korea Selatan memimpin penguatan dengan melonjak 1,99%, disusul bursa Taiwan yang naik 1,37%, dan Shenzhen menguat 1,23%. Nikkei Jepang, Hang Seng Hong Kong, dan Shanghai Composite juga kompak berada di zona positif.

Secara internal, pelemahan IHSG lebih disebabkan oleh aksi jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi pemberat utama dengan kontribusi negatif 4,67 poin. Disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang menekan indeks 1,74 poin, serta PT Indosat Tbk (ISAT) sebesar 1,68 poin.

Dari 11 sektor yang ada, hanya empat sektor yang bertahan di zona hijau. Sektor kesehatan menjadi pendongkrak utama dengan melonjak 5,28%, diikuti properti yang naik 2,24%, barang baku 0,28%, dan energi 0,14%. Sementara itu, sektor utilitas menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 0,86%.

Secara keseluruhan, sebanyak 419 saham tercatat melemah, 209 saham menguat, dan 160 saham stagnan.

Saham Rumah Sakit dan Tambang Jadi Penopang

Di tengah pelemahan, sejumlah saham justru mencatatkan kontribusi positif yang signifikan terhadap IHSG. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), emiten rumah sakit yang mengelola RS Mayapada, menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan kontribusi 8,06 poin.

Disusul PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) yang menyumbang 5,22 poin dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 5,21 poin. Saham tambang emas dan tembaga PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga ikut mendorong indeks 3,72 poin, bersama anak usahanya PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang menambah 1,98 poin.

Yang Ditunggu Investor Pekan Ini

Pelaku pasar saat ini tengah menantikan sejumlah agenda penting. Dari dalam negeri, uji kelayakan calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjadi sorotan utama. Selain itu, pasar juga menunggu perkembangan pembentukan bursa mineral dan komoditas strategis.

Dari global, perhatian tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat, terutama indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) periode Juli. Data ini menjadi indikator utama The Fed dalam menentukan arah suku bunga acuan ke depan.

Eskalasi perang dagang antara AS dan Kanada juga membayangi sentimen pasar. Ottawa baru saja mengumumkan tarif balasan terhadap lebih dari 700 jenis barang asal AS senilai US$20 miliar, sebagai respons atas tarif 50% yang diberlakukan Presiden Donald Trump. Langkah "dolar untuk dolar" ini mencakup produk mulai dari anggur, semen, hingga tongkat hoki.

Dengan berbagai sentimen yang bercampur tersebut, pergerakan IHSG pada sesi kedua siang nanti diprediksi masih akan volatil. Investor tampaknya akan lebih berhati-hati menunggu kepastian data inflasi AS dan perkembangan konflik dagang terbaru.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index