Pihak BPDP Nyatakan Turunan Sawit Tersedia 24 Jam dalam Aktivitas Warga

Pihak BPDP Nyatakan Turunan Sawit Tersedia 24 Jam dalam Aktivitas Warga
Ilustrasi kelapa sawit. ( SUMBER : NET )

JAKARTA – Pihak institusi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memberikan penegasan bahwa aneka ragam produk turunan dari komoditas kelapa sawit telah menjelma menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ruang lingkup kehidupan sehari-hari publik masyarakat.

Komoditas unggulan ini tidak sekadar difungsikan sebagai bahan baku utama untuk memproduksi minyak goreng maupun bahan bakar nabati biodiesel, melainkan turut pula diaplikasikan ke dalam pembuatan produk kosmetik hingga berbagai keperluan sektor industri lainnya.

Zaid Burhan Ibrahim selaku Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan, dan Manajemen Risiko BPDP mengemukakan bahwa masyarakat sering kali tidak menyadari betapa banyak jenis produk yang mereka gunakan sehari-hari ternyata mengandung unsur bahan turunan kelapa sawit.

““Jadi kalau kami perhatikan sawit ini 24 jam secara tidak kami sadari ada dalam kehidupan kami semua. Ada yang sudah jadi kosmetik, kalau yang suka bersolek tidak sadar itu ada unsur sawitnya juga, ada yang sudah jadi bahan bakar, ada yang sudah jadi minyak goreng, dan lain sebagainya,” ujar Zaid dalam Media Briefing “Industri Sawit yang Berkelanjutan” di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7/2026) seperti dikutip dari Antara, dari Sumbernya.”

Baca juga: Tak Lagi Andalkan CPO, 80 Persen Ekspor Sawit RI Kini Didominasi Produk Hilir Berdasarkan penjelasannya, ruang lingkup pemanfaatan kelapa sawit turut mencakup pengolahan limbah hasil sisa produksi yang kemudian diubah menjadi berbagai macam barang bernilai ekonomis tambah, seperti helm pelindung, kain batik khas, hingga rompi pengaman anti peluru.

Tingkat Produktivitas Kelapa Sawit yang Paling Unggul Zaid membeberkan bahwa komoditas kelapa sawit mempunyai keunggulan kompetitif yang jauh lebih tinggi apabila dikomparasikan terhadap jenis komoditas tanaman minyak nabati yang lain, sebab sanggup memproduksi minyak sebanyak kurang lebih 4 ton untuk setiap satuan hektare lahan.

Upaya Nikel Indonesia Memenuhi Standar Global Artikel Kompas.id Kapasitas tingkat produktivitas tersebut tercatat terpaut sangat jauh apabila dibandingkan dengan komoditas kedelai yang hanya mampu menghasilkan sekitar 0,4 ton per hektare, tanaman bunga matahari di kisaran 0,6 ton per hektare, serta jenis tanaman penghasil minyak nabati alternatif lainnya.

“Inilah mengapa sawit sering disebut the most land efficient vegetable oil crop (tanaman penghasil minyak nabati yang paling efisien dalam penggunaan lahan).

Oil crop artinya apa?

Jika dunia membutuhkan minyak nabati dengan jumlah yang sama tetapi tanpa sawit, maka lahan yang dibutuhkan akan lebih luas,” ungkap Zaid, dari Sumbernya.

Menurut pandangannya, besaran tingkat produktivitas yang sangat tinggi itulah yang menjadikan kelapa sawit mampu memenuhi kebutuhan pasokan minyak nabati global secara lebih efisien dalam hal pemanfaatan luasan lahan jika disandingkan dengan komoditas lain.

Lihat Foto Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP Zaid Burhan Ibrahim dalam kunjungan kerja dengan tema Exploring the Future of Sustainable Palm Oil: From Research to Plantation Excellence di Kalimantan Tengah pada Rabu (28/7/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY) Sawit Berperan sebagai Penyumbang Devisa serta PDB Utama Zaid menuturkan bahwa sektor industri kelapa sawit juga memegang peranan vital sebagai salah satu motor penggerak utama bagi roda perekonomian nasional Indonesia.

Besaran nilai nominal ekspor komoditas ini tercatat mampu menembus angka lebih dari 20 miliar dollar AS per tahunnya, sehingga menempatkannya sebagai salah satu kontributor perolehan devisa terbesar bagi kas negara.

Ia menambahkan bahwa struktur komposisi ekspor sawit asal Indonesia pada saat ini pun telah mengalami pergeseran tren yang cukup signifikan.

Kira-kira sekitar 80 persen dari total volume ekspor kini telah berbentuk wujud produk hilir, dan bukan lagi berupa minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO), sehingga mampu memberikan penciptaan nilai tambah yang jauh lebih besar bagi kemajuan sektor industri nasional.

Di samping itu, sektor bidang perkebunan yang mencakup komoditas kelapa sawit terbukti memberikan sumbangsih kontribusi yang sangat signifikan terhadap perolehan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

“Selain memberikan devisa, sektor perkebunan juga memberikan kontribusi terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) nasional. Tahun 2025, sektor perkebunan memberikan kontribusi sekitar 4,56 persen terhadap PDB Indonesia, sekaligus menjadi bagian penting dari sektor pertanian yang merupakan salah satu penopang utama perekonomian nasional,” ujar Zaid, dari Sumbernya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index