Dua Pertanyaan Pasca Mundurnya Gubernur BI Soal Pengganti dan Rupiah

Dua Pertanyaan Pasca Mundurnya Gubernur BI Soal Pengganti dan Rupiah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. ( sumber : net )

JAKARTA - Pengunduran Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) menimbulkan dua pertanyaan besar, yakni siapa suksesinya dan bagaimana pengaruhnya terhadap nilai tukar atau kurs rupiah.

Mengetahui siapa yang akan menjadi Gubernur definitif BI selanjutnya akan memberikan kepastian kepada investor terkait arah kebijakan moneter ke depan.

Sementara itu, efek pengunduran diri ini relatif kecil terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.

Pasalnya, kurs rupiah saat ini lebih dipengaruhi oleh sentimen global dan kondisi geopolitik.

Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menjelaskan pengunduran diri Perry Warjiyo di tengah masa jabatannya ini memang menimbulkan tanda tanya bagi kalangan luas.

Perry mundur di tengah gejolak nilai tukar rupiah yang semakin melemah.

Namun, alasan pengunduran dirinya belum diungkap secara terang.

"Ketidakpastian jabatan Gubernur BI menjadi pertanyaan investor dan masyarakat," kata dia kepada dari Sumbernya, Senin (28/7/2026).

Ia menambahkan, ketika pertanyaan seperti ini tidak bisa dijawab oleh pemerintah, isu ini akan melebar yang pada akhirnya dapat berakibat pada rupiah akan semakin melemah.

"Investor tentu butuh kepastian terkait dengan isu 'intervensi'," imbuh dia.

Nailul berpandangan, pasar akan bergejolak dan menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah.

Sedikit catatan, kurs rupiah hari ini ditutup di level Rp 18.009 per dollar AS, atau melemah 46 poin setara 0,26 persen.

Lebih lanjut, Nailul mengungkapkan, investor akan melihat ketidakstabilan di tubuh otoritas moneter sebagai bahan evaluasi akan masuk ke Indonesia atau tidak.

"Apakah investor bertahan di Indonesia juga sangat berkaitan dengan apa yang terjadi di tubuh Bank Indonesia," ucap dia.

Kebijakan BI ke depan akan sangat menentukan apakah sentimen gejolak ini bersifat temporer atau jangka panjang.

Bank Indonesia harus hati-hati menyikapi ini agar tidak menimbulkan pelemahan rupiah yang terlalu dalam.

Kemudian, publik juga menunggu aksi penyelamatan rupiah.

Hal tersebut bukan tidak mungkin butuh bantuan dari sisi fiskal.

Pasalnya, kebijakan fiskal yang tidak menerapkan prinsip kehati-hatian akan mengakibatkan rupiah melemah semakin dalam.

Bukan tidak mungkin, investor akan lebih khawatir akan keberlangsungan fiskal Indonesia.

"Apalagi, jika mundurnya Perry ini berkaitan dengan fiskal yang semakin cekak. Moneter bisa dijadikan ujung tombak menambal fiskal. Intervensi seperti ini yang membuat ekonomi kami menjadi lebih gelap," ungkap dia.

Nilai tukar rupiah dan pasar keuangan memang berpotensi mengalami peningkatan volatilitas setelah pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).

Hal ini kemungkinan akan berlangsung sampai investor memperoleh kepastian mengenai arah kebijakan moneter dan siapa gubernur definitif penggantinya.

Gubernur definitif pengganti Perry Warjiyo memang menjadi perhatian pengamat karena sangat memengaruhi persepsi investor terhadap independensi BI.

Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan, dalam jangka pendek, kejadian ini diperkirakan akan memunculkan sentimen negatif karena pasar umumnya tidak menyukai perubahan mendadak pada pucuk pimpinan bank sentral.

"Namun, apabila transisi berjalan sesuai ketentuan dan komunikasi BI tetap konsisten, dampaknya seharusnya bersifat sementara," kata dia kepada dari Sumbernya, Senin (27/7/2026).

Ia menambahkan, Indonesia membutuhkan figur yang memiliki kredibilitas tinggi di mata pasar, independen, berpengalaman dalam kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan, serta mampu berkomunikasi dengan baik kepada pelaku pasar.

Kredibilitas menjadi modal utama untuk menjaga ekspektasi inflasi dan stabilitas nilai tukar.

Menurut dia, penunjukan Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara merupakan pilihan yang tepat untuk menjaga kesinambungan kebijakan karena yang bersangkutan merupakan Deputi Gubernur Senior dan memahami proses pengambilan keputusan di Bank Indonesia.

"Tantangan berikutnya adalah memastikan pemilihan gubernur definitif tetap mengedepankan independensi dan profesionalisme," ucap Budi.

Sedikit catatan, dilansir dari situs resmi BI, Destry Damayanti merupakan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia untuk periode 2024-2029.

Ia lahir di Jakarta pada 1963 dan meraih Gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia.

Tak hanya itu, ia juga meraih gelar Master of Science dari Field of Regional Science Cornell University, New York, USA.

Destry resmi menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI No.74/P Tahun 2019 tanggal 29 Juli 2019 untuk periode 2019-2024, dan mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 7 Agustus 2019.

Dalam jangka pendek, investor asing kemungkinan akan mengambil sikap wait and see.

Pasalnya, yang menjadi perhatian bukan hanya pergantian personel, tetapi juga apakah independensi Bank Indonesia tetap terjaga dan arah kebijakan moneter tetap konsisten.

Ketika proses suksesi berlangsung transparan, sesuai ketentuan, dan gubernur baru memiliki kredibilitas yang kuat, kepercayaan investor dapat pulih relatif cepat.

"Sebaliknya, apabila muncul persepsi adanya intervensi terhadap independensi bank sentral, premi risiko Indonesia berpotensi meningkat dan arus modal asing dapat tertahan lebih lama," ungkap Budi.

Di sisi lain, efek pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) terhadap kurs rupiah dinilai relatif terbatas.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, ketika terjadi pergerakan nilai tukar, baik berupa apresiasi maupun depresiasi, faktor yang lebih dominan tetap berasal dari sentimen global, seperti arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, kondisi geopolitik, hingga pergerakan arus modal.

"Jika berbicara dalam jangka pendek, saya melihat dampak pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia terhadap nilai tukar rupiah akan relatif terbatas," kata dia kepada dari Sumbernya, Senin (27/7/2026).

Di sisi domestik, ia menambahkan, perhatian pasar juga lebih banyak tertuju pada fundamental ekonomi dan arah kebijakan pemerintah, dibandingkan semata-mata pada pergantian pucuk pimpinan Bank Indonesia (BI).

Di sisi lain, penunjukan Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas gubernur dapat memberikan kepastian bagi pasar.

Destry bukan figur baru di Bank Indonesia.

Sebagai Deputi Gubernur Senior, Destry dinilai memiliki pengalaman panjang dalam perumusan kebijakan moneter, menjaga stabilitas sistem keuangan, serta memahami dinamika pasar keuangan.

Sebelumnya, ia juga memiliki rekam jejak yang kuat sebagai ekonom.

"Dengan latar belakang tersebut, pasar cenderung melihat proses transisi ini sebagai kelanjutan kebijakan, bukan perubahan yang drastis," imbuh dia.

Oleh karena itu, Yusuf menyebut, respons pelaku pasar terhadap pergantian kepemimpinan ini kemungkinan akan tetap kondusif.

Bagi investor asing, yang menjadi perhatian utama bukan semata siapa yang memimpin Bank Indonesia, melainkan bagaimana bank sentral menjalankan mandatnya.

Yusuf berpandangan, kredibilitas BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta memastikan stabilitas sistem keuangan akan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan persepsi investor terhadap Indonesia.

Selain itu, koordinasi antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah juga akan menjadi sorotan.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, sinergi kebijakan moneter dan fiskal sangat diperlukan, tidak hanya untuk menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi juga untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Selama koordinasi tersebut tetap terjaga dan arah kebijakan BI konsisten, saya melihat pergantian gubernur tidak akan mengubah kepercayaan investor secara signifikan," ucap dia.

Justru, ia bilang, momentum ini akan menjadi ujian bagi institusi Bank Indonesia.

Pasar akan menilai apakah proses transisi kepemimpinan dapat berlangsung dengan mulus tanpa mengganggu independensi, kredibilitas, maupun konsistensi kebijakan moneter.

"Apabila hal tersebut dapat dipertahankan, dampak pengunduran diri gubernur terhadap pasar keuangan maupun nilai tukar rupiah diperkirakan hanya bersifat sementara," tutup dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index