Rupiah Ditutup Rp17.758 per USD, Melemah Tujuh Sesi Beruntun

Sabtu, 19 September 2026 | 14:45:00 WIB
Rupiah Ditutup Rp17.758 per USD, Melemah Tujuh Sesi Beruntun

BULETINFINANSIAL.COM — Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.758 per USD pada Jumat (18/9/2026), melemah tipis 5 poin atau 0,03 persen dari posisi sebelumnya Rp17.753 per USD. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah hingga tujuh sesi perdagangan berturut-turut, dibayangi sentimen geopolitik global dan kekhawatiran El Nino.

Tekanan terhadap rupiah sepanjang pekan lalu belum juga surut. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda tercatat melemah 0,83 persen secara mingguan dibandingkan posisi penutupan Jumat (11/9/2026) di level Rp17.611 per USD.

Angka itu menegaskan bahwa rupiah belum mampu keluar dari jalur pelemahan meski pergerakan hariannya relatif tipis. Sentimen eksternal dan domestik disebut menjadi biang keladi utama.

JISDOR Ikut Tertekan

Bank Indonesia mencatat kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di Rp17.745 per USD pada Jumat (18/9/2026). Posisi itu naik 8 poin dibandingkan sebelumnya Rp17.753 per USD.

Namun bila ditarik ke sepekan, JISDOR masih melemah sekitar 0,76 persen dari level Rp17.611 per USD pada Jumat pekan sebelumnya. Artinya, baik kurs pasar maupun kurs referensi BI kompak menunjukkan tekanan yang sama.

Apa yang Menekan Rupiah

Dua faktor utama disebut membebani pergerakan rupiah. Pertama, ketegangan geopolitik global yang membuat investor cenderung menghindari aset berisiko di negara berkembang.

Kedua, isu El Nino yang membayangi sektor pangan dan energi domestik. Kekhawatiran terhadap dampak cuaca ekstrem ini turut menggerus kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi jangka pendek.

Dampak ke Pelaku Usaha dan Investor

Pelemahan rupiah selama tujuh sesi beruntun membuat importir harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan bahan baku dan barang modal. Tekanan biaya ini berpotensi merembet ke harga jual di pasar domestik.

Di sisi lain, eksportir dan perusahaan berpendapatan dolar AS justru diuntungkan karena nilai penerimaan mereka naik saat dikonversi ke rupiah. Investor asing yang memegang obligasi rupiah juga mencermati apakah pelemahan ini akan berlanjut atau berbalik arah.

Bagi investor ritel, pergerakan kurs menjadi pertimbangan tambahan sebelum menempatkan dana di instrumen berbasis valuta asing. Volatilitas tujuh hari terakhir menunjukkan bahwa risiko kurs masih nyata dalam jangka pendek.

Yang perlu dicermati, pelemahan 0,83 persen dalam sepekan bukan angka yang bisa diabaikan. Pasar menunggu sinyal apakah Bank Indonesia akan masuk untuk menstabilkan kurs atau membiarkan mekanisme pasar bekerja.

Terkini