DBS Indonesia: Jaringan 19 Negara Kunci Genjot Bisnis Otomotif RI

Rabu, 16 September 2026 | 15:00:00 WIB

BULETINFINANSIAL.COM — Bank DBS Indonesia mengandalkan jaringan operasi di 19 negara untuk mendukung industri otomotif nasional selama masa transisi menuju kendaraan listrik. Strategi konektivitas regional ini membidik dua arah peluang: investasi masuk dari China dan Taiwan, serta ekspansi ekspor produsen komponen dalam negeri.

Executive Director, Head of Large Corporates & ESG Lead Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Ello Hanson, menyatakan bahwa enam pasar inti perseroan seluruhnya berada di Asia, mencakup Singapura, Hong Kong, Taiwan, China, India, dan Indonesia. Posisi geografis itu dinilai relevan dengan kebutuhan rantai pasok otomotif yang bergerak lintas negara.

"Waktu kita bicara mengenai Asian Connectivity, kita itu bicara bagaimana kita membantu industri, dari seluruh rantai pasok untuk terkoneksi secara regional," ujar Ello dalam sesi diskusi bertajuk Building a Resilient Automotive Ecosystem Beyond EV Amid Global Supply Chain Shift yang digelar CNBC Indonesia bersama DBS.

ICE dan EV Akan Berkoeksistensi dalam Waktu Panjang

Ello menjelaskan bahwa dalam fase transisi menuju ekonomi baru, kendaraan berbasis mesin pembakaran (ICE) dan kendaraan listrik akan berkoeksistensi untuk waktu yang cukup lama. Tantangan utamanya bukan sekadar peralihan teknologi, melainkan bagaimana setiap lini rantai nilai mampu beradaptasi.

Rantai nilai yang dimaksud mencakup seluruh proses dari hulu ke hilir. Mulai dari pertambangan, smelter, produksi, manufaktur, hingga perakitan. Menurut Ello, pelaku bisnis di sektor ini tidak terbatas pada manufaktur dan dealer saja.

"Pelaku bisnis di sini ini bukan hanya manufaktur, bukan hanya dealer, tapi dari hulu ke hilir," katanya.

Dua Arah Peluang yang Dibidor DBS

Dengan jaringan regional tersebut, DBS membidik dua arah peluang bisnis yang saling melengkapi.

  • Investasi masuk (inbound): perusahaan dari China, Taiwan, atau pemain di sektor EV maupun pertambangan yang ingin masuk ke pasar Indonesia dan mencari mitra lokal.
  • Ekspansi ekspor (outbound): perusahaan manufaktur Indonesia, baik produsen komponen maupun kendaraan, yang ingin memperluas pasar ke luar negeri.

Kedua arah itu dinilai sejalan dengan basis operasi DBS yang tersebar di sejumlah pasar utama Asia. Ello menambahkan, perseroan memosisikan diri sebagai mitra yang dapat membantu pelaku industri di seluruh rantai nilai untuk saling terkoneksi secara lintas negara.

Mengapa Konektivitas Regional Penting bagi Industri Otomotif

Industri otomotif Indonesia sedang berada di titik persimpangan. Di satu sisi, produksi kendaraan berbasis mesin pembakaran masih menjadi tulang punggung banyak pabrik dan tenaga kerja. Di sisi lain, tekanan global mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik, yang menuntut penyesuaian pada rantai pasok, termasuk pasokan baterai dan komponen elektronik.

Dalam konteks itu, kemampuan menghubungkan produsen dalam negeri dengan mitra regional menjadi faktor penentu. Perusahaan yang mampu mengakses jaringan lintas negara berpeluang lebih besar mendapatkan pasokan, teknologi, maupun pasar baru. Sebaliknya, pelaku yang bergerak sendiri menghadapi risiko tertinggal dalam transisi yang berlangsung bertahap ini.

DBS menyatakan fokus pada pendampingan pelaku usaha di seluruh rantai nilai, bukan hanya segmen tertentu. Pendekatan itu mencerminkan pandangan bahwa transisi energi di sektor otomotif tidak bisa diselesaikan oleh satu lini saja, melainkan membutuhkan koordinasi dari pertambangan hingga perakitan akhir.

Terkini