JAKARTA - Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, LKM dan LJK lainnya dari Sumbernya, Jasmi membeberkan perihal hambatan bisnis multifinance di tahun ini.
Salah satu rintangan utama yang menjadi kekhawatiran yakni berkaitan dengan suku bunga.
Sebagaimana dipahami, saat ini modal atau ekuitas badan usaha multifinance mayoritas berasal dari sektor perbankan.
Artinya, apabila suku bunga bank meningkat maka biaya operasional perusahaan multifinance pun ikut membengkak.
Sekadar informasi, Bank Indonesia (BI) telah mengerek suku bunga acuan (BI-Rate) sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini dengan total peningkatan sebesar 100 basis poin (bps).
Terakhir, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Juli 2026 menetapkan untuk mempertahankan BI-Rate pada posisi 5,75%.
"Tantangan yang kami hadapi bersama pada saat ini salah satunya tentu adalah bagaimana menyikapi salah satu adalah terkait dengan perubahan suku bunga. Karena kita tahu bahwa dari sisi bisnis di multi-finance selain dari ekuitas tentunya adalah support dari pendanaan dari lembaga jasa keuangan lainnya," ujar Jasmi dalam Multifinance CEO Gathering, Selasa (11/6/2026).
Peningkatan suku bunga memang tidak terelakkan, beriringan dengan ketidakpastian ekonomi dunia yang masih terus membayangi.
Jasmi pun menaruh harapan situasi ini tidak akan berjalan panjang, supaya kemampuan belanja penduduk ke depan dapat senantiasa terpelihara.
"Mudah-mudahan tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu lama. Dengan demikian mudah-mudahan nanti juga bisa dampaknya terukur dengan baik," pungkasnya.