Sosok Destry Damayanti Dinilai Tepat Memimpin BI pada Era Modern Ini

Sosok Destry Damayanti Dinilai Tepat Memimpin BI pada Era Modern Ini
Destry Damayanti menjadi calon tunggal Gubernur BI (FOTO: NET)

JAKARTA - Penunjukan Destry Damayanti sebagai kandidat tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) dipandang bukan hanya tentang keberlanjutan strategi moneter, melainkan tentang cara mematangkan bank sentral menjawab pergeseran ekonomi internasional.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, berpandangan pengalaman luas Destry memberikan dirinya modal guna membesarkan BI merespons tantangan anyar, layaknya sosok ibu yang tidak sekadar memastikan anak tetap terlindungi, namun juga membekalinya menghadapi dunia yang terus berputar.

“Menurut saya, Ibu Destry Damayanti adalah salah satu teknokrat moneter paling lengkap yang pernah dimiliki Indonesia. Beliau memahami teori ekonomi, dinamika pasar keuangan, stabilitas perbankan, hingga proses pengambilan kebijakan di Bank Indonesia,” ujar Fakhrul dari Sumbernya, dikutip Selasa (11/8/2026).

Berdasarkan pandangannya, tantangan BI mendatang semakin kompleks lantaran AI, digitalisasi, fragmentasi perdagangan, perubahan rantai pasok, transisi energi, demografi, serta geopolitik mulai merombak struktur ekonomi internasional.

“Dunia yang akan dihadapi Gubernur BI berikutnya bukan lagi dunia ketika inflasi dan suku bunga menjadi satu-satunya variabel utama. Kami sedang memasuki periode ketika AI mengubah produktivitas, digitalisasi mengubah sistem pembayaran, dan geopolitik mengubah arah arus modal global,” katanya.

Fakhrul menilai Destry juga tidak cocok dimasukkan dalam klasifikasi hawkish atau dovish.

Berdasarkan pendapatnya, metode yang dibutuhkan sejatinya keahlian memahami situasi serta menyelaraskan kebijakan, bagaikan orang tua yang mengerti kapan harus membentengi dan kapan harus memberikan ruang untuk tumbuh.

“Saya tidak melihat Ibu Destry sebagai seorang hawk ataupun dove. Saya melihat beliau sebagai central banker yang adaptif dan berorientasi pada stabilitas dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan,” ujar Fakhrul.

Persoalan tersebut, lanjut Fakhrul, menuntut BI untuk mengokohkan komunikasi, riset, sekaligus bauran kebijakan.

Bank sentral harus sanggup menjelaskan bukan sekadar pemutusan suku bunga, namun juga bagaimana seluruh sarana moneter bekerja merespons perubahan ekonomi.

“Pasar tidak hanya membutuhkan keputusan yang tepat, tetapi juga membutuhkan pemahaman mengenai mengapa keputusan tersebut diambil, bagaimana berbagai instrumen digunakan secara bersama-sama, dan ke mana arah kebijakan berikutnya,” katanya.

Fakhrul berharap kepemimpinan Destry kelak dapat mendorong BI semakin siap merespons perubahan struktural ekonomi internasional tanpa mengikis kredibilitas dan kebebasannya.

“Saya berharap Ibu Destry kelak tidak hanya dikenang sebagai Gubernur Bank Indonesia yang menjaga stabilitas, tetapi sebagai Gubernur yang berhasil membawa BI memasuki fase baru bank sentral modern,” tutur Fakhrul.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index