Ekonomi RI Kuartal II 2026 Diprediksi Melambat di Bawah 5 Persen LPEM UI

Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:20:52 WIB
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 (FOTO: NET)

JAKARTA - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan laju Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II 2026 bakal mengalami perlambatan menuju tingkat 4,80% secara tahunan (year on year/yoy), dengan proyeksi berada di rentang 4,78% hingga 4,82%.

Secara kumulatif, laju perekonomian nasional sepanjang tahun 2026 diproyeksikan berada di posisi 5,00% (yoy) dalam rentang 4,95% sampai 5,05%.

"Meskipun angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 masih menimbulkan sejumlah pertanyaan, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 akan berada di bawah 5%," kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky dalam publikasi LPEM FEB UI di Jakarta, dikutip dari Sumbernya, Selasa (4/8/2026).

Riefky menerangkan bahwasanya tren perlambatan ekonomi ini dipicu oleh efek pembanding yang tinggi (high base effect), mengingat laju ekonomi triwulan II tahun lalu sanggup menyentuh 5,12% (yoy).

Di samping itu, ketiadaan dorongan musiman seperti momen Ramadan dan Idulfitri yang telah terlewati di triwulan I 2026 turut memengaruhi aktivitas perekonomian domestik.

Tekanan kian terasa disebabkan dinamika eksternal, seperti lonjakan harga energi global serta pelemahan nilai tukar rupiah yang memicu inflasi barang impor (imported inflation), sehingga membengkakkan biaya manufaktur.

Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM jenis Pertamax juga dinilai menekan daya beli masyarakat lantaran merembetnya kenaikan tarif transportasi dan harga komoditas.

Indikator ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang terus merosot sepanjang triwulan II 2026, yakni dari 123,0 pada April, meluncur ke 120,9 pada Mei, dan mendarat di posisi 117,8 pada Juni.

Rata-rata IKK triwulan II tercatat sebesar 120,6, anjlok 4,4 poin dibanding rata-rata triwulan sebelumnya sebesar 125,0.

Di saat bersamaan, inflasi umum (headline inflation) merangkak naik dari 2,42% (yoy) pada bulan April menjadi 3,08% (yoy) pada Mei, lalu menembus 3,34% (yoy) pada Juni.

Lonjakan ini utamanya dipicu oleh kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) yang sempat melambung ke 6,24% (yoy) pada Mei sebelum melandai tipis ke 5,58% (yoy) di bulan Juni.

Dari sektor keuangan negara, laju belanja pemerintah melambat drastis dari 31,4% (yoy) pada triwulan I menjadi 7,04% (yoy) di triwulan II 2026, dengan total realisasi menyentuh Rp841,0 triliun.

Menariknya, penerimaan negara tercatat melampaui total belanja, yakni menembus Rp884,5 triliun atau melesat 29,81% (yoy).

Rincian pos belanja memperlihatkan lonjakan signifikan pada belanja barang yang melambung hingga 90,38% (yoy).

Porsi belanja barang merangkak dari 13,91% pada triwulan II 2025 menjadi 22,71% pada triwulan II 2026, yang didorong oleh penyaluran dana program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Adapun rincian belanja pemerintah lainnya meliputi:

Belanja Pegawai: Naik 27,33% (yoy)

Belanja Modal: Naik 5,56% (yoy)

Bantuan Sosial (Bansos): Tumbuh 4,35% (yoy)

Subsidi & Kompensasi: Mengalami kontraksi (turun) 11,40% (yoy)

Memasuki sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mesti berbalik mengalami defisit sebesar 1,6 miliar dolar AS, setelah sempat mencetak surplus 0,09 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.

Penyebab utamanya yakni lonjakan tajam impor migas yang melampaui 20 miliar dolar AS per bulan sepanjang April dan Mei.

Sementara itu, total nilai ekspor terkoreksi dari 25,3 miliar dolar AS pada April menjadi 23,2 miliar dolar AS pada Mei.

Di sisi penanaman modal, realisasi investasi triwulan II 2026 tercatat menyentuh angka Rp511,8 triliun, atau telah memenuhi 25,1% dari target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp2.041,3 triliun.

Capaian investasi ini tumbuh 7,1% (yoy) dengan proporsi yang relatif seimbang antara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA).

Tags

Terkini