Sektor Pertambangan Alami Kontraksi Akibat Penurunan Produksi Logam

Rabu, 05 Agustus 2026 | 11:20:51 WIB
Ilustrasi pertambangan (FOTO: NET)

JAKARTA - Lembaga statistik nasional mengumumkan bahwa aktivitas industri pertambangan dan penggalian pada kuartal kedua tahun ini mengalami kontraksi sebesar 1,64 persen secara tahunan.

Kendati demikian, sektor lapangan usaha tersebut masih mencatatkan diri sebagai salah satu penopang utama perekonomian di tanah air.

Deputi bidang analisis statistik membeberkan bahwa penurunan kinerja tersebut utamanya disebabkan oleh kontraksi pada subsektor bijih logam sebesar 9,42 persen.

Penyusutan ini terjadi menyusul turunnya angka produksi dari berbagai komoditas penting seperti bijih nikel, timah, serta bauksit.

"Lapangan usaha pertambangan terkontraksi sebesar 1,64% disebabkan oleh pertama pertambangan bijih logam terkontraksi 9,42% akibat penurunan produksi pada beberapa komoditas tambang, seperti bijih bauksit, timah, dan nikel," ujar Edy dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Dari sumbernya mengonfirmasi bahwa kendala produksi tersebut bersumber dari belum pulihnya aktivitas tambang bawah tanah di wilayah Papua Tengah pascainsiden bencana longsor.

Di sisi lain, komoditas pertambangan batu bara nasional turut membukukan angka kontraksi sebesar 1,41 persen.

Faktor pemicu penurunan batu bara ini berkaitan erat dengan kebijakan penataan kuota produksi guna menstabilkan pasokan dan mendongkrak harga di pasar global.

"Pertambangan batu bara juga terkontraksi 1,41% disebabkan oleh penataan kuota produksi melali RKAB tahun 2026 sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan perbaikan harga batu bara di pasar internasional," jelas Edy.

Belum normalnya operasional fasilitas tambang tersebut secara otomatis turut menekan pencapaian angka pertumbuhan ekonomi regional di kawasan Papua.

"Jadi ini mengalami Provinsi Papua Tengah ini mengalami kontraksi pertumbuhan ya Karena kinerja pertambangannya yang memang sedang ada masalah ya di sana waktu itu. Jadi akibat longsor yang terjadi di Provinsi Papua Tengah yaitu di Grasberg ya pada September 25 dan ini masih dilakukan perbaikan sepertinya dan belum tembus," beber Edy.

"Jadi ada musibah di tahun lalu di September dan sekarang belum pulih kembali seperti di triwulan II tahun 2026," katanya melanjutkan.

Tags

Terkini