Ekspor Batu Bara Sumbang Devisa Rp 268 Triliun di Tengah Krisis Global

Selasa, 21 Juli 2026 | 10:47:23 WIB
Ekspor Batu Bara Sumbang Devisa Rp 268 Triliun (FOTO: NET)

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan laporan kinerja ekspor mineral dan batu bara (minerba) kepada Presiden Prabowo Subianto.

Devisa Hasil Ekspor (DHE) batu bara tercatat menyentuh angka US$ 14-15 miliar atau sebanding dengan Rp 250 triliun - Rp 268 triliun (asumsi kurs Rp 17.930 per dolar).

Pernyataan ini disampaikan Bahlil setelah bertemu Presiden Prabowo usai Sidang Kabinet Paripurna.

Dia menyebutkan, raihan positif ini sukses didapatkan di tengah situasi ekonomi dunia yang serba tidak pasti.

"Devisa kami dari ekspor batu bara sudah mencapai kurang lebih sekitar US$ 14-15 miliar," kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Selasa (21/7/2026).

Bahlil menerangkan bahwa pihak pemerintah sukses mempertahankan keseimbangan pasokan dan permintaan (supply and demand) sehingga nilai batu bara tetap stabil.

Bukan hanya devisa, Bahlil juga menambahkan bahwa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor hilirisasi minerba sudah menyentuh 60 persen dari target.

Kontribusi devisa serta raihan PNBP ini diklaim menjadi bukti kesuksesan langkah yang dijalankan pemerintah.

"Sudah mulai ada tanda-tanda yang membaik dengan melihat PNBP kami naik. Devisa dari hasil penjualan yang hampir mencapai US$ 14 miliar pun semakin membaik," jelasnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia menyentuh US$ 145,6 miliar atau setara Rp 2.618 triliun (kurs Rp 17.980) pada penutupan Juni 2026.

Pencapaian ini menanjak jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Mei 2026 yang berjumlah US$ 144,9 miliar (Rp 2.606 triliun).

"Perkembangan posisi cadangan devisa Juni 2026 tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah oleh Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Kondisi cadangan devisa di akhir Juni 2026 itu setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, atau 5,4 bulan impor apabila memperhitungkan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Pencapaian ini berada jauh di atas tolok ukur kecukupan internasional yang umumnya di kisaran 3 bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," jelas Ramdan.

Ke depannya, Bank Indonesia optimistis ketahanan sektor eksternal bakal tetap tangguh, ditopang oleh posisi cadangan devisa yang mencukupi serta berlanjutnya arus modal asing yang sejalan dengan pandangan positif investor terhadap prospek ekonomi nasional.

"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tandasnya.

Terkini