OJK Minta Bank di Sulut Perkuat Likuiditas Saat Kredit Ekspansif

Jumat, 17 Juli 2026 | 11:24:43 WIB
Aktivitas pelayanan di Bank Mandiri Area Manado, di Manado.(FOTO:NET)

MANADO - Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara dan Gorontalo (Sulutgo) Robert Sianipar menyatakan bahwa perbankan perlu memperkokoh kondisi likuiditasnya di tengah tren ekspansi kredit saat ini.

"Likuiditas perbankan harus terus diperkuat, karena loan deposit rasio (LDR) perbankan Sulut berada di atas angka 100," kata Robert, di Manado, Kamis.

Ia memaparkan bahwa LDR perbankan di Sulut menyentuh angka 162,48 persen per April 2026, di mana posisi ini menyusut 1,59 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang berada di angka 164,07 persen.

Ia menerangkan bahwa tingginya rasio LDR tersebut menjadi indikator bahwa volume penyaluran kredit jauh lebih besar daripada pengumpulan dana pihak ketiga.

"Ada dana dari luar yang masuk ke Sulut dan dijadikan sebagai pinjaman," katanya pula.

Oleh karena itu, ia menambahkan bahwa kondisi likuiditas tetap aman dan terjaga kendati nilai LDR perbankan Sulut tergolong tinggi.

Pihak perbankan juga disebutnya tetap menjaga ketahanan likuiditas dengan mengoptimalkan perolehan dana murah atau Current Account Savings Account (CASA).

Dengan demikian, LDR yang tinggi bukan merupakan suatu ancaman selama pihak bank memiliki cadangan dana likuid yang cukup, akses ke sumber pendanaan alternatif, serta mutu kredit yang tetap sehat.

Sampai dengan April 2026, akumulasi penyaluran kredit perbankan di Sulut menembus Rp57,77 triliun atau tumbuh sebesar 6,97 persen dari periode yang sama tahun lalu yang tercatat senilai Rp54,01 triliun.

Robert menyebutkan bahwa jika disandingkan dengan bulan sebelumnya, nominal tersebut juga mengonfirmasi adanya kenaikan sebesar 1,01 persen dari Rp57,19 triliun pada Maret 2026 menjadi Rp57,77 triliun pada April 2026.

Sementara itu, ia melansir bahwa perolehan DPK yang dikumpulkan oleh perbankan Sulut mencapai Rp35,55 triliun atau menanjak 8,01 persen daripada periode yang sama tahun lalu (2025) yang berada di angka Rp32,91 triliun.

Ia memungkasi bahwa jika diukur dari posisi akhir tahun 2025, sektor ini tumbuh sebesar 2,14 persen dari Rp34,81 triliun bergerak naik menuju Rp35,55 triliun.

Terkini