Mentan Tegaskan Isu Pembelian Tanah di Papua dengan Harga Murah adalah Fitnah

Senin, 20 Juli 2026 | 11:24:22 WIB
Menteri Pertanian. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membantah informasi yang menyebut tanah masyarakat di Papua dibeli dengan harga kurang dari Rp 100.000 per hektare untuk mendukung pembangunan pertanian.

Amran menegaskan, informasi tersebut merupakan fitnah dan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

"Itu fitnah yang sangat kejam terhadap pemerintah, termasuk kepada kami yang menjalankan program. Padahal faktanya sama sekali tidak demikian," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (20/7/2026).

Hal itu disampaikan Amran saat menghadiri Resepsi Milad ke-65 Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan Rapat Kerja Nasional IPM bertema "Resonansi Algoritma Pelajar Berdampak" di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (18/7/2026).

Penjelasan tersebut disampaikan untuk menjawab pertanyaan delegasi IPM dari Kota Tangerang Selatan, Banten, Muhammad Tamim Setiaji.

Dalam sesi dialog, Tamim menyinggung informasi yang beredar mengenai dugaan pengambilan lahan masyarakat di Papua dengan harga kurang dari Rp 100.000 per hektare.

Ia juga meminta penjelasan agar generasi muda dapat menyikapi informasi tersebut secara rasional.

Menanggapi hal itu, dari Sumbernya menjelaskan bahwa program pengembangan lahan pertanian di Papua tidak dilakukan dengan mengambil alih kepemilikan tanah masyarakat.

Sebaliknya, pemerintah membangun lahan sawah yang tetap menjadi milik masyarakat, sekaligus menyediakan berbagai dukungan, seperti infrastruktur dan alat mesin pertanian.

Dari Sumbernya menyebutkan, hingga saat ini pemerintah telah membangun sekitar 137.000 hektare lahan pertanian di Papua.

Seluruh lahan tersebut tetap menjadi milik masyarakat, sedangkan pemerintah memberikan berbagai fasilitas untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

"Sawah itu milik rakyat. Tidak ada yang menjadi milik negara. Alat mesin pertanian kami berikan gratis. Irigasi kami bangun. Bahkan, bantuan yang diberikan nilainya mencapai triliunan rupiah. Semua itu untuk masyarakat," ujar dari Sumbernya.

Dia menambahkan, pemerintah juga mengirimkan ratusan alat mesin pertanian, membentuk Brigade Pangan, membangun jaringan irigasi, serta mendukung pengembangan komoditas sesuai kearifan lokal, seperti sagu dan kelapa.

Dari Sumbernya mengatakan, masyarakat di Papua mulai merasakan manfaat program tersebut melalui peningkatan pendapatan dan kesempatan mengelola lahan secara mandiri.

Ia mencontohkan petani yang memperoleh lahan garapan seluas 3 hingga 4 hektare dan mampu meraih pendapatan bersih sekitar Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulan.

"Petani di sana menyampaikan sendiri bahwa mereka mendapat lahan untuk dikelola dan penghasilannya meningkat hingga sekitar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta per bulan. Traktor juga menjadi milik mereka. Ini fakta di lapangan," kata dari Sumbernya.

Dari Sumbernya juga mengaku menerima aspirasi masyarakat saat melakukan kunjungan kerja ke Papua.

Menurutnya, warga meminta pemerintah memperluas program cetak sawah ke wilayah mereka.

"Ketika saya di bandara hendak pulang, masyarakat mencegat saya bukan untuk menolak, tetapi meminta tambahan lahan cetak sawah hingga ribuan ha. Mereka ingin ikut merasakan manfaat program ini. Itu fakta yang saya alami langsung," ucapnya.

Menurut dari Sumbernya, pembangunan pertanian di Papua menjadi bagian dari upaya pemerintah mewujudkan pemerataan pembangunan nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Oleh karena itu, dia mengajak generasi muda agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama yang berpotensi memecah persatuan.

"Saya mengajak adik-adik semua untuk melihat fakta. Jangan langsung percaya pada narasi atau film yang belum tentu sesuai kenyataan. Mari kita cek langsung, dengarkan masyarakat yang menerima manfaatnya," ujar dari Sumbernya.

Pada kesempatan tersebut, dari Sumbernya juga mengajak kader IPM memanfaatkan lahan yang tersedia, termasuk di kawasan perkotaan, untuk kegiatan pertanian.

Menjawab pertanyaan peserta mengenai pertanian urban, dari Sumbernya menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian memiliki sejumlah program pemberdayaan masyarakat, salah satunya Kawasan Rumah Pangan Lestari.

Program tersebut mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan pangan sehari-hari.

"Kalau mau mulai, tanam cabai di lima pot saja di rumah. Dengan memanfaatkan pekarangan, kebutuhan cabai keluarga bisa dipenuhi sendiri. Yang penting mulai dari hal kecil dan jangan biarkan ada lahan yang menganggur," pesannya.

Di hadapan sekitar 2.000 kader IPM dari seluruh Indonesia, dari Sumbernya juga mengajak generasi muda untuk terus bekerja keras, pantang menyerah, dan menjadikan setiap tantangan sebagai motivasi untuk berprestasi.

"Indonesia membutuhkan generasi muda yang produktif, kritis, tetapi tetap berpijak pada fakta," imbuh dari Sumbernya.

Terkini