IHSG Bergerak Solid, Investor Nantikan Musim Laporan Keuangan

Senin, 20 Juli 2026 | 11:24:22 WIB
Ilustrasi saham. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja solid sepanjang pekan lalu dengan menguat 4,24 persen dan ditutup pada level 6.175,54.

Capaian tersebut menjadi kenaikan mingguan terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Penguatan IHSG ditopang oleh membaiknya sentimen global setelah inflasi Amerika Serikat melambat lebih cepat dari ekspektasi, serta meningkatnya optimisme terhadap fundamental ekonomi domestik menyusul keputusan S&P Global Ratings yang kembali mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level BBB dengan Stable Outlook.

Dari sisi fundamental domestik, kepercayaan investor juga diperkuat oleh data investasi asing yang menunjukkan ketahanan ekonomi nasional.

Realisasi Foreign Direct Investment (FDI) pada triwulan II 2026 mencapai Rp 257,7 triliun, meningkat 27,4 persen secara tahunan (year on year/YoY) dan menjadi level tertinggi sepanjang sejarah.

“Di tengah perlambatan ekonomi global dan masih berlangsungnya ketidakpastian geopolitik, capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu destinasi investasi yang menarik bagi investor asing,” ujar dari Sumbernya, lewat keterangan pers, Senin (20/7/2026).

Meski indeks menguat cukup signifikan, aktivitas perdagangan selama pekan lalu masih relatif rendah.

Salah satu faktor yang diperkirakan memengaruhi kondisi tersebut adalah berkurangnya perhatian pelaku pasar menjelang babak akhir Piala Dunia FIFA.

Ehrmann & Jansen (2017) menemukan bahwa selama Piala Dunia FIFA 2010 dan 2014, volume perdagangan saham di berbagai negara dapat turun hingga 48 persen ketika tim nasional masing-masing sedang bertanding.

“Seiring berakhirnya turnamen tersebut, likuiditas pasar diperkirakan berpotensi meningkat kembali sehingga dapat menjadi faktor pendukung apabila momentum penguatan IHSG berlanjut,” kata dari Sumbernya.

Memasuki pekan 20-24 Juli 2026, pasar diperkirakan akan bergerak dengan katalis makro yang relatif terbatas sehingga fokus investor kemungkinan bergeser ke musim laporan keuangan emiten kuartalan.

“Hasil kinerja perusahaan diperkirakan akan menjadi penentu utama arah rotasi sektor maupun keberlanjutan aliran dana ke pasar saham domestik,” katanya.

Ia menambahkan, dari dalam negeri perhatian pasar akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia, pertumbuhan kredit perbankan, serta data M2 Money Supply yang akan memberikan gambaran mengenai kondisi likuiditas dan aktivitas ekonomi.

Sementara itu, dari eksternal investor akan mencermati Loan Prime Rate China, ADP Employment Change Amerika Serikat, EIA Crude Oil Stocks Amerika Serikat, Initial Jobless Claims Amerika Serikat, Fed Balance Sheet Amerika Serikat, serta S&P Global Flash PMI Amerika Serikat.

Secara teknikal, IHSG berhasil melanjutkan tren kenaikan jangka pendek dengan ditutup di level 6.175,54 atau naik 1,10 persen.

Kenaikan tersebut sekaligus membawa IHSG menembus moving average lima hari (MA5) yang kini beralih menjadi support dinamis di area 6.085.

Momentum penguatan juga mulai membaik, tercermin dari ADX yang meningkat ke level 27,37, disertai DI+ (27,37) yang kembali berada di atas DI- (20,33).

Kondisi ini mengindikasikan tekanan beli mulai lebih dominan dibandingkan tekanan jual.

IHSG kini berada di area yang cukup krusial karena berhadapan langsung dengan resistance MA50 di level 6.190.

Area tersebut menjadi penentu apakah penguatan yang terjadi hanya bersifat technical rebound atau mampu berkembang menjadi pembalikan tren (trend reversal).

Selama IHSG masih mampu bertahan di atas support MA5, peluang melanjutkan kenaikan tetap terbuka.

Skenario bullish akan semakin terkonfirmasi apabila IHSG mampu menembus dan bertahan di atas resistance MA50 pada level 6.190.

Breakout tersebut berpotensi menjadi sinyal awal perubahan tren jangka pendek dan membuka ruang penguatan menuju resistance pertama di level 6.190 dan resistance kedua di level 6.381.

Apabila level 6.190 berhasil dilewati dengan volume transaksi yang meningkat, peluang IHSG melanjutkan reli menuju area 6.380 akan semakin besar.

Selama DI+ tetap berada di atas DI- dan ADX terus meningkat, momentum bullish diperkirakan masih akan terjaga.

Di sisi lain, apabila IHSG gagal menembus resistance 6.190, terdapat potensi aksi profit taking setelah reli dalam beberapa hari terakhir.

Dalam skenario tersebut, area 6.085 menjadi support pertama yang perlu diperhatikan.

Apabila support itu ditembus, tekanan jual diperkirakan meningkat dengan target pelemahan menuju support pertama di level 6.085 dan support kedua di level 5.987.

Selama IHSG masih bergerak di bawah MA50, tren jangka menengah masih dapat dikatakan bearish sehingga potensi rejection di area 6.190 tetap perlu diwaspadai.

Penurunan kembali DI+ di bawah DI- atau pelemahan ADX juga akan menjadi sinyal berkurangnya momentum kenaikan.

Merespons dinamika pasar tersebut, dari Sumbernya yang telah dilengkapi fitur LADI (Live Action Done Indicator) dengan data akumulasi dan distribusi saham secara real-time serta dirancang untuk membantu investor ritel memantau tekanan beli dan jual secara langsung sekaligus mendeteksi pergerakan smart money, merekomendasikan sejumlah instrumen investasi.

Untuk saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dari Sumbernya merekomendasikan buy pada area entry 6.850 dengan target harga 7.300 dan stop loss di bawah 6.625.

Secara teknikal, ICBP berhasil menembus MA50 yang selama beberapa bulan terakhir menjadi resistance dinamis.

Breakout tersebut didukung peningkatan volume transaksi, sementara indikator ADX mulai berbalik naik dengan DI+ kembali berada di atas DI-, mengindikasikan momentum beli mulai mendominasi setelah fase konsolidasi yang cukup panjang.

Selama harga bertahan di atas area breakout, peluang penguatan menuju resistance berikutnya masih terbuka.

Dari sisi fundamental, ICBP juga didukung prospek perbaikan margin seiring normalisasi harga sejumlah bahan baku utama.

Harga gandum global masih bergerak jauh di bawah puncaknya pada 2022, sementara harga minyak sawit mentah (CPO) relatif lebih stabil dibandingkan periode volatilitas tinggi beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut berpotensi menjaga biaya produksi dan mendukung profitabilitas perseroan pada semester II 2026.

Untuk PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), dari Sumbernya merekomendasikan buy pada area entry 535 dengan target harga 585 dan stop loss di bawah 510.

Secara teknikal, EMTK mulai menunjukkan perbaikan momentum setelah berhasil membentuk pola higher low dalam beberapa pekan terakhir.

Harga saat ini bergerak di atas MA5 dan MA25.

Breakout tersebut didukung peningkatan volume transaksi dalam beberapa hari terakhir, sementara indikator ADX mulai stabil dengan DI+ kembali bergerak di atas DI-, mengindikasikan tekanan beli mulai mendominasi setelah fase koreksi yang berlangsung sejak Juni.

Sementara itu, untuk PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dari Sumbernya merekomendasikan buy pada area entry 575 dengan target harga 625 dan stop loss di bawah 550.

Secara teknikal, BSDE mulai menunjukkan perbaikan struktur harga setelah berhasil keluar dari fase konsolidasi dalam beberapa pekan terakhir.

Harga ditutup di level 575 sekaligus bergerak di atas MA50 dan MA5 yang selama ini menjadi resistance dinamis.

Breakout tersebut didukung peningkatan volume transaksi, sementara indikator ADX mulai stabil di kisaran 19 dengan DI+ berada di level 19 dan DI- di level 17.

Dari sisi fundamental, BSDE berpotensi memperoleh sentimen positif dari melandainya tekanan inflasi di Amerika Serikat.

Kondisi tersebut meningkatkan optimisme bahwa tekanan inflasi global mulai mereda sehingga membuka ruang bagi bank sentral, termasuk Bank Indonesia, untuk mengadopsi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

Selain saham, dari Sumbernya juga merekomendasikan Obligasi Pemerintah FR0091 yang diperdagangkan pada harga 96,50 dengan kupon 6,375 persen dan yield to maturity (YTM) sebesar 7,13 persen.

Menurut dari Sumbernya, obligasi pemerintah FR0091 menarik dicermati di tengah mulai meredanya tekanan inflasi global.

Inflasi Amerika Serikat turun menjadi 3,5 persen YoY pada Juni 2026 dari 4,2 persen pada bulan sebelumnya, sementara Core CPI juga melambat menjadi 2,6 persen.

Kondisi tersebut meningkatkan optimisme bahwa siklus pengetatan moneter global mulai mendekati akhir.

Meski Federal Reserve masih mempertahankan sikap higher for longer, perlambatan inflasi tersebut berpotensi mendorong penurunan imbal hasil (yield) obligasi secara bertahap dalam jangka pendek.

Di sisi domestik, fundamental Indonesia dinilai tetap solid setelah S&P Global Ratings mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level BBB dengan Stable Outlook, didukung disiplin fiskal, rasio utang pemerintah yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat.

Stabilnya fundamental tersebut diperkirakan dapat menjaga minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) dan membuka ruang bagi penurunan yield domestik.

Terkini