Bank Indonesia Catat Kenaikan Kredit Baru di Kuartal II 2026

Senin, 20 Juli 2026 | 11:24:22 WIB
Ilustrasi kredit. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Penyaluran kredit baru perbankan menunjukkan akselerasi pada kuartal II 2026.

Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) yang dipublikasikan pada Senin (20/7/2026) memperlihatkan peningkatan terjadi hampir di seluruh jenis kredit, mulai dari kredit modal kerja, kredit investasi, hingga kredit konsumsi.

Meski demikian, di tengah meningkatnya permintaan pembiayaan, perbankan justru menerapkan standar penyaluran kredit yang lebih berhati-hati dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kondisi tersebut terutama terlihat pada aspek suku bunga kredit, plafon pembiayaan, jangka waktu kredit, hingga biaya persetujuan kredit.

Survei yang dilakukan BI juga menunjukkan optimisme perbankan masih terjaga.

Responden memperkirakan penyaluran kredit tetap bertumbuh pada kuartal III 2026 dan berlanjut hingga akhir tahun, meskipun laju pertumbuhannya diperkirakan lebih moderat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

Hasil Survei Perbankan BI menunjukkan penyaluran kredit baru pada kuartal II 2026 meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Hal ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru yang mencapai 93,08 persen, naik dibandingkan SBT sebesar 38,74 persen pada kuartal I 2026.

Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan SBT kuartal II 2025 yang sebesar 85,22 persen.

Peningkatan terjadi pada seluruh jenis penggunaan kredit.

Kredit Modal Kerja mencatat SBT sebesar 94,34 persen, diikuti Kredit Investasi sebesar 93,51 persen, serta Kredit Konsumsi sebesar 83,67 persen.

Ketiganya tumbuh lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.

Dari sisi kredit konsumsi, kenaikan permintaan berasal dari beberapa produk pembiayaan.

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) mencatat SBT sebesar 78,20 persen.

Selanjutnya Kredit Kendaraan Bermotor mencapai SBT 67,95 persen, Kredit Multiguna 69,71 persen, dan Kredit Tanpa Agunan (KTA) sebesar 49,70 persen.

Di sisi lain, permintaan kartu kredit masih tumbuh, tetapi mengalami perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya dengan SBT sebesar 30,18 persen.

Berdasarkan hasil survei, sektor Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi menjadi sektor dengan peningkatan penyaluran kredit tertinggi dengan SBT mencapai 91,86 persen.

Setelah itu disusul sektor Jasa Pendidikan dengan SBT sebesar 83,03 persen, Industri Pengolahan sebesar 73,78 persen, Konstruksi sebesar 73,37 persen, serta Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 70,09 persen.

Data tersebut menunjukkan peningkatan penyaluran kredit tidak hanya terjadi pada pembiayaan konsumsi, tetapi juga pada sektor-sektor produktif yang menopang aktivitas ekonomi.

Di tengah meningkatnya permintaan pembiayaan, hasil survei BI memperlihatkan bank menerapkan kebijakan penyaluran kredit yang lebih berhati-hati dibandingkan kuartal sebelumnya.

Hal tersebut tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) kuartal II 2026 yang bernilai positif sebesar 1,03.

Dalam metodologi survei BI, nilai ILS positif menunjukkan standar penyaluran kredit menjadi lebih ketat.

Pengetatan standar tersebut terutama terjadi pada kredit KPR/KPA dan kredit konsumsi lainnya.

Sementara itu, standar penyaluran kredit untuk Kredit Modal Kerja, Kredit Investasi, dan kredit UMKM justru lebih longgar.

Aspek yang diperketat dalam penyaluran kredit antara lain meliputi suku bunga kredit, plafon kredit, isi perjanjian kredit, jangka waktu kredit, hingga biaya persetujuan kredit.

Memasuki kuartal III 2026, responden survei memperkirakan penyaluran kredit baru masih akan tumbuh.

Hal tersebut tercermin dari prakiraan SBT penyaluran kredit baru sebesar 84,65 persen.

Angka ini memang lebih rendah dibandingkan capaian kuartal II sebesar 93,08 persen, tetapi masih menunjukkan ekspansi penyaluran kredit.

Survei juga menunjukkan prioritas utama bank dalam menyalurkan kredit belum berubah.

Kredit Modal Kerja diperkirakan tetap menjadi prioritas utama, diikuti Kredit Investasi dan Kredit Konsumsi.

Pada kelompok kredit konsumsi, Kredit Multiguna diperkirakan menjadi prioritas utama, kemudian KPR/KPA dan Kredit Kendaraan Bermotor.

Dari sisi sektor ekonomi, penyaluran kredit baru pada kuartal III 2026 diperkirakan terbesar mengalir ke sektor Industri Pengolahan, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Perantara Keuangan.

Berbeda dengan kondisi kuartal II 2026, perbankan memperkirakan kebijakan penyaluran kredit pada kuartal III 2026 akan lebih longgar.

Hal ini tercermin dari prakiraan ILS sebesar negatif 2,25.

Dalam metodologi BI, nilai negatif menunjukkan standar penyaluran kredit menjadi lebih longgar.

Pelonggaran tersebut diperkirakan didorong oleh Kredit Investasi, KPR/KPA, Kredit Modal Kerja, dan Kredit Konsumsi Lainnya.

Sementara itu, aspek yang diperkirakan paling longgar adalah plafon kredit dan persyaratan agunan.

Selain kredit, survei juga memproyeksikan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap bertumbuh hingga kuartal III 2026.

Secara kumulatif, penghimpunan DPK diperkirakan mencatat SBT sebesar 87,52 persen, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 88,22 persen.

Berdasarkan jenis simpanan, tabungan diperkirakan tumbuh dengan SBT sebesar 87,08 persen, sedangkan giro sebesar 76,38 persen.

Sementara itu, deposito diperkirakan tetap tumbuh dengan SBT sebesar 40,97 persen, meskipun lebih rendah dibandingkan kuartal III 2025 yang mencapai 58,75 persen.

Meski penyaluran kredit masih diproyeksikan tumbuh hingga akhir tahun, hasil survei menunjukkan laju pertumbuhannya diperkirakan lebih rendah dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

Responden memperkirakan outstanding kredit pada akhir 2026 tumbuh sebesar 7,51 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit tahun 2025 sebesar 9,69 persen.

Proyeksi tersebut juga lebih rendah dibandingkan prakiraan responden pada survei sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan outstanding kredit 2026 sebesar 8,06 persen.

Hal serupa terjadi pada penghimpunan DPK.

Responden memperkirakan DPK pada akhir tahun 2026 tumbuh sebesar 6,18 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2025 yang mencapai 13,83 persen.

Proyeksi tersebut juga termoderasi dibandingkan hasil survei sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan DPK sebesar 8,47 persen pada 2026.

Meski demikian, secara umum responden survei masih memandang pertumbuhan outstanding kredit akan terus berlanjut hingga akhir tahun.

BI menyebut kondisi tersebut didukung oleh prospek ekonomi dan moneter yang tetap positif serta risiko penyaluran kredit yang dinilai tetap terjaga.

Terkini