TEHERAN - Pasar minyak global mulai bersiap menghadapi kondisi ketika ketergantungan terhadap Selat Hormuz berkurang secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Sejumlah negara produsen minyak di Timur Tengah mempercepat pembangunan dan perluasan jaringan pipa untuk mengalihkan ekspor minyak dari jalur laut yang kini menjadi pusat konflik.
Dilansir dari Fortune, Senin (20/7/2026), langkah tersebut muncul setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia.
Meski AS telah berupaya membuka jalur pelayaran alternatif di selatan Selat Hormuz, rute tersebut belum mendapat kepercayaan dari perusahaan pelayaran komersial.
Pada Jumat, tidak ada kapal yang terdeteksi melintas melalui jalur yang didukung AS.
Sebaliknya, tujuh kapal tercatat tetap menggunakan jalur pelayaran yang berada di bawah pengawasan Iran.
Militer AS melalui komunikasi radio maritim menyatakan bahwa pasukannya siap menjaga kebebasan navigasi dan melindungi perdagangan internasional sesuai hukum internasional.
Namun, jaminan tersebut belum cukup meyakinkan pelaku industri pelayaran.
Bahkan, berdasarkan rekaman yang ditinjau The Wall Street Journal, seorang pelaut merespons pernyataan tersebut dengan penolakan keras.
Sejumlah negara juga mulai mengambil langkah pencegahan.
India melarang awak kapal berkewarganegaraan India melintasi Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut setelah seorang pelaut tewas dalam serangan Iran.
Sementara itu, Ketua Japan Foreign Trade Council menyatakan Selat Hormuz menjadi kawasan yang tidak layak dilalui kapal-kapal komersial selama pertempuran masih berlangsung.
Sebelum perang antara AS, Israel, dan Iran pecah pada akhir Februari lalu, sekitar 20 juta barel minyak melewati Selat Hormuz setiap hari.
Penutupan jalur tersebut oleh Iran memicu guncangan terbesar yang pernah terjadi di pasar minyak dunia.
Meski demikian, pasar global berupaya mencari berbagai alternatif untuk menjaga pasokan energi.
Beberapa kapal memilih mematikan sistem pelacak atau beroperasi secara "gelap" agar dapat melintas tanpa terdeteksi.
Selain itu, berbagai negara juga memanfaatkan cadangan minyak mereka untuk menjaga pasokan.
Selain jalur laut, distribusi minyak mulai dialihkan melalui jaringan pipa darat.
Arab Saudi mengandalkan East-West Pipeline, sedangkan Uni Emirat Arab memaksimalkan Habshan-Fujairah Pipeline.
Kedua negara juga memanfaatkan jalur kereta api untuk mendukung distribusi minyak.
Irak juga mengirimkan ribuan truk pengangkut minyak mentah menuju pelabuhan-pelabuhan Suriah di pesisir Laut Mediterania.
Akibat perubahan tersebut, Suriah kini menangani lebih dari seperempat volume ekspor minyak Timur Tengah, padahal beberapa bulan sebelumnya negara itu belum menangani pengiriman minyak dalam jumlah berarti.
Di sisi lain, Kuwait sedang berdiskusi dengan Arab Saudi dan UEA untuk memperluas jaringan pipa negara tetangganya agar ekspor minyak Kuwait tidak lagi bergantung pada Teluk Persia.
Percepatan pembangunan infrastruktur energi juga terus berlangsung.
Menurut perusahaan analisis energi Kpler, UEA mempercepat pembangunan West-East Pipeline yang kini telah mencapai sekitar 50 persen dan diperkirakan mulai beroperasi pada awal tahun depan.
UEA juga menambah kapasitas Habshan-Fujairah Pipeline, sementara Arab Saudi memperbesar kapasitas East-West Pipeline.
Di Irak, konsorsium yang melibatkan Chevron tengah mengkaji pembangunan kembali jaringan pipa dari Kirkuk menuju Pelabuhan Baniyas di Suriah yang rusak akibat Perang Irak sekitar dua dekade lalu.
Turki juga mengusulkan perpanjangan jaringan pipa Kirkuk-Ceyhan hingga Pelabuhan Basra di Irak.
Jalur tersebut akan membuka akses ekspor baru menuju Laut Mediterania sehingga ketergantungan terhadap Selat Hormuz semakin berkurang.
Analis Goldman Sachs memperkirakan tambahan kapasitas jaringan pipa di Timur Tengah akan mampu mengalihkan lebih dari 45 persen ekspor minyak Teluk sebelum perang pada akhir tahun depan.
Pada akhir 2028, kapasitas tersebut diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 60 persen.
Dalam skenario pembangunan yang dipercepat, angkanya bahkan dapat mencapai 75 persen.
Goldman Sachs menyebut rata-rata waktu pembangunan proyek pipa di kawasan tersebut sekitar 2,5 tahun, meski proses konstruksi umumnya dapat berlangsung lebih cepat ketika terjadi gangguan pasokan energi.
Perkembangan tersebut menunjukkan pasar energi global mulai membangun sistem distribusi yang lebih beragam untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.