Kurs Rupiah Diproyeksi Fluktuatif Melemah Menuju Rp18.110 per Dolar AS

Kamis, 16 Juli 2026 | 10:10:58 WIB
Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah.(FOTO:NET)

JAKARTA - Kurs rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan bakal bergerak tidak menentu dengan tren melemah ke rentang Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis (16/7/2026).

Berdasarkan acuan data Doo Financial Futures pada akhir perdagangan Rabu (15/7/2026), mata uang garuda menguat sebesar 23 poin atau 0,13 persen ke angka Rp18.068 per dolar AS. Pada momen yang sama, pergerakan indeks dolar AS (DXY) stagnan pada angka 100,92.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan apresiasi nilai tukar rupiah sukar berlanjut pada sesi perdagangan Kamis (16/7/2026).

"Sore ini mata uang rupiah ditutup menguat 23 poin di level Rp18.068, dari penutupan sebelumnya di level Rp18.091. Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp18.060 sampai Rp18.110," kata Ibrahim, Rabu (15/7/2026) sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ibrahim memaparkan bahwa himpitan pada nilai tukar rupiah dipicu oleh memanasnya tensi konflik geopolitik dunia. Kondisi teranyar memperlihatkan Presiden AS Donald Trump menerapkan lagi blokade laut di pelabuhan Iran, lalu direspons Iran dengan serangan ke fasilitas militer milik AS di sana.

Iran dalam kesempatan tersebut juga menyatakan memblokir Selat Hormuz yang bertindak sebagai urat nadi distribusi minyak internasional. Langkah sepihak ini dinilai mengacaukan situasi damai setelah adanya kesepakatan gencatan senjata pada Juni lalu.

"Kenaikan ketegangan dalam beberapa hari terakhir telah meningkatkan keraguan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu akan mengarah pada penghentian permanen perang yang telah melanda negara-negara tetangga Iran," jelasnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Dari sisi internal, Ibrahim menyebutkan beban sentimen bersumber dari makin beratnya tekanan terhadap ketahanan fiskal dalam negeri. Total kebutuhan penarikan utang baru secara bruto sepanjang 2026 diestimasikan menembus Rp1.768 triliun.

Sementara itu, pihak kementerian terkait mesti menyelesaikan pembayaran pokok utang mendekati Rp900 triliun di tahun ini. Adapun besaran posisi utang luar negeri pemerintah per 31 Desember 2025 berada pada angka Rp9.638 triliun.

"Dengan tambahan pembiayaan utang neto sebesar Rp868 triliun serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan menambah nilai utang sekitar Rp100 triliun, posisi utang pemerintah pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai sekitar Rp10.600 triliun," kata Ibrahim sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Terkini