JAKARTA – Riset harian dari Kiwoom Sekuritas melaporkan bahwa Wall Street mengakhiri perdagangan hari Jumat (10/07/26) di zona hijau. Pergerakan positif tersebut kembali ditopang oleh apresiasi saham kecerdasan buatan (AI) serta semikonduktor setelah SK Hynix mencatat debut perdana yang kuat di Nasdaq.
Indeks S&P 500 mengalami kenaikan sebesar 0,42 persen ke posisi 7.575,39, yang menjadikannya berada tipis 0,45 persen di bawah rekor penutupan tertingginya. Sementara itu, Nasdaq Composite tumbuh sebesar 0,29 persen menuju 26.281,61, dan Dow Jones Industrial Average ikut merangkak naik 0,29 persen ke level 52.637,01.
Sektor teknologi memimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 1,65 persen diikuti sektor barang konsumsi non-esensial yang naik 1,46 persen. Di sisi lain, indeks semikonduktor PHLX berhasil membukukan reli kenaikan selama tiga hari berturut-turut.
Optimisme pasar tumbuh positif berkat tema AI setelah saham SK Hynix melonjak hingga 13 persen di atas harga IPO saat debut di Nasdaq. Menjelang musim laporan laba kuartal kedua, konsensus memproyeksikan keuntungan emiten S&P 500 tumbuh 24 persen YoY yang didominasi oleh sektor teknologi.
Investor tetap mencermati valuasi saham teknologi yang cukup tinggi, meski revisi ke atas proyeksi laba menurunkan valuasi forward P/E S&P 500 menjadi 20x dari 21x pada akhir Mei. Langkah pasar selanjutnya akan sangat bergantung pada publikasi data inflasi AS periode Juni serta rilis kinerja keuangan emiten pada pekan depan.
Ketegangan geopolitik global tetap menjadi perhatian setelah Presiden Donald Trump menyatakan kesiapan AS untuk kembali bernegosiasi dengan Iran pasca-berakhirnya gencatan senjata bulan Juni. Kabar baiknya, koreksi pada harga minyak dunia berhasil menekan kekhawatiran pasar terkait risiko inflasi akibat konflik di Timur Tengah.
Kini pelaku pasar sedang menanti data inflasi Juni milik AS sebagai petunjuk krusial arah kebijakan moneter The Fed. Testimoni dari Gubernur Fed Kevin Warsh di depan Komite Layanan Keuangan DPR juga akan dipantau ketat guna membaca proyeksi suku bunga ke depan.
Indeks Dolar AS (DXY) terpantau stagnan pada level 100,9 seiring sikap wait and see para investor. Di samping itu, tingkat imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun melandai ke angka 4,54 persen akibat meredanya kecemasan inflasi dari penurunan harga minyak, sedangkan tenor 2 tahun naik tipis ke level 4,22 persen.
Mata uang yen Jepang menguat mendekati ¥161 per dolar AS setelah adanya rencana pemerintah mendorong dana pensiun domestik memperbesar porsi aset keuangan lokal. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang berdurasi 2 tahun turun ke posisi 1,43 persen.
Bursa saham di Eropa mencatatkan hasil yang bervariasi pada penutupan perdagangan. Indeks FTSE 100 menguat berkat penurunan volatilitas isu Timur Tengah, CAC 40 Prancis terangkat 0,1 persen, dan FTSE MIB Italia naik 0,4 persen dipicu sektor keuangan, sedangkan DAX Jerman terkoreksi 0,2 persen akibat aksi ambil untung hingga STOXX Europe 600 naik tipis 0,04 persen ke level 641,10.
Mayoritas bursa di Asia bergerak menguat mengekor performa Wall Street yang disokong oleh saham-saham semikonduktor. KOSPI Korea Selatan melesat 2,52 persen, Nikkei 225 Jepang naik 1,2 persen, Hang Seng Hong Kong terangkat 0,6 persen, Straits Times Singapura tumbuh 0,5 persen mencetak rekor baru, serta BSE Sensex India bertambah 1,1 persen.
Kondisi sebaliknya terjadi di pasar saham Tiongkok yang melemah akibat aksi profit taking pada saham berbasis teknologi. Indeks Shanghai Composite terpangkas sebesar 1,0 persen dan Shenzhen Component jatuh sedalam 2,29 persen.
Perdagangan komoditas pada hari Jumat (10/07/26) memperlihatkan pergerakan yang fluktuatif. Harga WTI turun 0,93 persen ke kisaran US$71 per barel dan Brent merosot 0,38 persen ke kisaran US$76 per barel, walau secara mingguan masih naik 4 persen dan 5 persen dipicu isu gangguan pasokan konflik AS-Iran.
Harga batu bara Newcastle melorot hingga di bawah US$130 per ton akibat minimnya permintaan dari pasar India. Emas juga terkoreksi ke level US$4.100 per ounce dengan penurunan mingguan 1,5 persen, sementara tembaga naik menjadi US$6,26 per lb karena tingginya minat pada aset berisiko.
CPO Malaysia jatuh hingga di bawah MYR4.600 per ton sebagai imbas penguatan mata uang ringgit dan lesunya minyak nabati di Bursa Dalian. Di sektor logam, timah jatuh ke kisaran US$52.000 per ton karena keraguan atas belanja infrastruktur AI, sedangkan nikel bertahan pada kisaran US$16.350 per ton akibat proyeksi lonjakan pasokan dari Indonesia.
Agenda ekonomi pekan ini dari China meliputi rilis Neraca Perdagangan, Ekspor-Impor, PDB Kuartal II 2026, serta Produksi Industri dan Penjualan Ritel periode Juni. Untuk Amerika Serikat, pasar menanti data inflasi CPI, Core CPI, PPI, Penjualan Ritel, Izin Bangunan, hingga kesaksian Ketua Fed Kevin Warsh di Kongres.
Agenda global lainnya mencakup keputusan suku bunga serta Laporan Kebijakan Moneter Bank of Canada (BoC). Sementara itu, dari kawasan Eropa, Inggris dijadwalkan merilis data pertumbuhan ekonomi (PDB) bulanan untuk periode Mei.
Di dalam negeri, realisasi pengembalian pajak semester I 2026 tercatat sebesar Rp171,2 triliun atau merosot sebesar 31,5 persen YoY. Penurunan terbesar disumbang oleh restitusi PPh Badan yang anjlok 40 persen YoY serta restitusi PPN Domestik yang turun 29,7 persen YoY.
Pengamat berpendapat bahwa perlambatan restistusi ini mengindikasikan adanya penundaan pencairan dana demi menjaga kondisi arus kas internal pemerintah. Strategi fiskal jangka pendek ini dinilai berisiko menghambat likuiditas korporasi serta memperbesar beban pembayaran pemerintah di masa mendatang jika penundaan terus berlanjut.
Di sisi lain, target pembiayaan APBN 2026 dinaikkan oleh pemerintah menjadi Rp734,3 triliun dari proyeksi awal yang sebesar Rp689,1 triliun. Realisasi pembiayaan hingga akhir semester pertama sudah menyentuh Rp452 triliun atau setara dengan 65,6 persen anggaran awal.
Kementerian Keuangan memaparkan tingginya angka realisasi tersebut merupakan langkah taktis guna mengantisipasi gejolak pasar di awal tahun. Berkat stabilitas pasar obligasi lokal serta ketersediaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp255 triliun, intensitas penerbitan utang di semester kedua dapat dikurangi.
Proses pembiayaan ke depan akan tetap memprioritaskan instrumen bermata uang rupiah dengan porsi 70 persen hingga 75 persen. Sedangkan untuk penerbitan obligasi global (global bond) hanya akan dilakukan secara oportunistik dengan melihat situasi pasar.
IHSG (JCI) ditutup menguat sebesar 0,20 persen ke level 5.924,36 dan bergerak pada rentang harian 5.887,84 hingga 5.949,99. Stimulus positif berasal dari membaiknya konsumsi domestik, di mana penjualan mobil Juni naik 12 persen YoY dan mendorong pertumbuhan semester I 2026 mencapai 15,9 persen YoY.
Kendati daya beli masyarakat membaik, investor asing mencatatkan net sell senilai Rp421,70 miliar di seluruh pasar. Angka ini menambah akumulasi penjualan bersih asing sepanjang tahun berjalan (YTD) menjadi sebesar Rp76,58 triliun.
Aksi lepas saham oleh investor asing dominan terjadi pada saham BBRI, BBCA, TLKM, DEWA, dan ASII. Sebaliknya, investor lokal terpantau melakukan akumulasi beli pada saham BMRI, ADRO, BRMS, UNTR, serta ELSA.
Di pasar spot, mata uang Rupiah ditutup melemah sebesar 0,35 persen ke level Rp18.065 per US$. Penurunan ini mematahkan tren penguatan harian akibat kecemasan pasar domestik atas risiko global serta tren keluarnya modal asing.
Secara analisis teknikal, IHSG masih tertahan di zona bearish meskipun ada indikasi perlawanan setelah mampu bertahan di atas EMA10 (5.897). Namun posisi indeks masih berada di bawah EMA20 (5.948) serta EMA50 (6.293) dalam kanal tren menurun, sehingga sinyal bullish belum terkonfirmasi.
Indikator RSI (14) bertengger di posisi 46,23 yang menandakan momentum mulai pulih namun masih berada di area netral. Peluang kenaikan lanjutan masih terbuka jika indeks mampu menjaga posisinya di atas level psikologis saat ini.
“Selama JCI mampu bertahan di atas area 5.900–5.882, peluang untuk melanjutkan rebound teknisnya tetap terbuka dengan target pengujian 5.948–6.000 (EMA20 serta resistensi psikologis), diikuti oleh 6.100–6.220 jika berhasil menembus batas atas saluran. Sebaliknya, jika jatuh kembali di bawah 5.900, indeks berisiko menguji support di 5.839–5.805 lagi, sebelum menuju area gap di sekitar 5.744. Konfirmasi perubahan tren yang menjadi lebih positif masih membutuhkan penembusan di atas EMA20 yang didukung oleh peningkatan volume transaksi serta akumulasi investor asing yang berkelanjutan,” sebagaimana dilansir dari sumber berita.