JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terpantau mengalami fluktuasi yang lebih liar jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan Asia.
Sebagai gambaran, mata uang rupee India sebenarnya turut tertekan hampir menyamai rupiah, dengan penurunan terdalam menembus angka 44,13 persen dalam periode sepuluh tahun.
Nilai tukar rupee bergerak dari angka INR 66.153 per dolar AS pada akhir tahun 2015 menjadi INR 95.347 per dolar AS pada Selasa, 26 Mei 2026.
Meski demikian, naik turunnya nilai mata uang rupee India terlihat lebih terkendali lantaran disokong oleh fondasi ekonomi yang kokoh.
Perekonomian negara India tersebut diprediksi dapat tumbuh sebesar 7,1 persen pada triwulan I 2026 dan sebesar 6,4 persen pada triwulan II 2026 saat harga minyak global tengah menanjak.
Bukan cuma bertumpu pada konsumsi dalam negeri sebagai penggerak utama roda ekonomi, India pun menyimpan cadangan devisa dalam jumlah besar yang menyentuh angka US$728,5 atau setara dengan 11,3 bulan impor.
Situasi tersebut memberikan ruang yang jauh lebih leluasa bagi otoritas setempat untuk melakukan intervensi jika dibandingkan dengan kondisi di dalam negeri.
Pemerintah India pun menjalankan kebijakan administratif guna mengerem tingginya permintaan terhadap dolar AS, salah satunya lewat peningkatan tarif bea masuk untuk komoditas perak serta emas yang selama ini menjadi pemicu utama perburuan dolar AS di sana.
Karakteristik dan struktur ekonomi pada tiap-tiap negara memang menjadi faktor penentu utama bagi pergerakan mata uangnya masing-masing.
Fenomena tersebut dapat dicermati pada mata uang ringgit Malaysia serta dolar Singapura yang posisinya relatif lebih kokoh.
Ketahanan mata uang ringgit Malaysia terbantu oleh meroketnya harga sejumlah komoditas, mengingat negara jiran tersebut mengantongi volume ekspor gas, minyak bumi, dan CPO yang melimpah untuk menopang neraca perdagangan mereka.
Di lain pihak, Singapura didukung oleh sistem kebijakan nilai tukar yang sangat tepercaya, kedalaman pasar keuangan, sekaligus statusnya sebagai salah satu pusat finansial global.
Sementara itu, negara Thailand terpantau lebih sensitif terhadap dinamika di sektor energi, namun pasokan valuta asing mereka terbantu oleh geliat industri pariwisata yang masif.
Filipina juga tergolong rentan karena ketergantungan pada impor energi serta tingginya keperluan valuta asing, tetapi pergerakannya terbantu oleh dana remitansi dari para tenaga kerja mereka di luar negeri.
Sedangkan negara Vietnam memiliki tameng penahan berupa kegiatan ekspor sektor manufaktur serta suntikan investasi asing secara langsung dengan manajemen nilai tukar yang jauh lebih terarah.
Posisi Indonesia sendiri berada di area pertengahan, yaitu disokong oleh pasar domestik yang luas serta kekayaan komoditas, namun di sisi lain ikut dibayangi oleh tingginya angka impor energi, besarnya keperluan dolar pada musim-musim tertentu, serta kondisi pasar keuangan yang amat sensitif terhadap perputaran arus portofolio.
Khusus untuk situasi di dalam negeri, kendala utama yang dihadapi bukan semata-mata karena indikator fundamental ekonomi domestik yang buruk.
Kondisi ekonomi nasional sejatinya terpantau masih mencatatkan pertumbuhan, tingkat inflasi masih cukup aman, dan posisi cadangan devisa pun dinilai masih dalam level memadai.
Namun demikian, pelaku pasar memandang bahwa ruang aman yang dimiliki oleh Indonesia saat ini penurunannya semakin menyempit.
Jumlah cadangan devisa yang dikantongi Indonesia saat ini berada pada angka US$146,2 miliar atau sebanding dengan 5,8 bulan impor, atau setara 5,6 bulan impor serta penyelesaian kewajiban utang luar negeri, yang mana perolehan ini lebih rendah jika berkaca pada posisi di bulan Maret.
Penyusutan pada instrumen cadangan devisa tersebut dipicu oleh pemenuhan kewajiban pembayaran utang luar negeri serta berbagai upaya dalam rangka menstabilkan nilai tukar rupiah.
"Ini memberi sinyal bahwa BI masih punya amunisi, tetapi pasar juga melihat bahwa tekanan rupiah membutuhkan biaya. Karena itu, rupiah bisa tetap volatil meskipun fundamental tidak runtuh, sebab pasar sedang menguji konsistensi kebijakan moneter, fiskal, dan eksternal secara bersamaan,"
Demi menjaga agar posisi nilai tukar rupiah dapat lebih aman serta tidak mengalami gejolak yang terlampau tajam, ada sejumlah strategi yang dapat diimplementasikan.
Poin pertama, otoritas bank sentral tidak boleh hanya bertumpu pada opsi kebijakan menaikkan tingkat suku bunga ataupun tindakan intervensi valas semata.
Upaya intervensi memang tetap wajib dijalankan guna meredam volatilitas yang tengah terjadi, namun langkah tersebut tidak ditujukan untuk mempertahankan target angka tertentu secara kaku.
Poin kedua, pemerintah wajib membenahi sektor pasokan valuta asing dengan cara memperkuat pengelolaan devisa hasil ekspor, menggenjot aktivitas ekspor yang memiliki nilai tambah tinggi, mengendalikan laju impor energi, serta memperbanyak implementasi transaksi menggunakan mata uang lokal bersama para mitra dagang di kawasan ASEAN.
Poin ketiga, meningkatkan volume penggunaan mata uang lokal dalam aktivitas transaksi perdagangan antarnegara di kawasan ASEAN.
Strategi ini dinilai mampu memangkas tingkat ketergantungan terhadap mata uang keras sekaligus meminimalkan efek gejolak mata uang asing terhadap pergerakan harga komoditas impor.
"Ini relevan karena sebagian tekanan rupiah berasal dari kebutuhan dolar yang berulang, bukan hanya dari sentimen pasar,"
Poin keempat, meminimalkan pemicu bagi pelaku pasar dalam menetapkan premi risiko yang jauh lebih tinggi bagi Indonesia.
Metode yang dapat ditempuh yaitu dengan terus memelihara kredibilitas dari setiap kebijakan yang dikeluarkan serta menjaga postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Bukan hanya itu, penyaluran subsidi sektor energi harus diarahkan agar lebih tepat sasaran, penyampaian komunikasi kebijakan wajib dilakukan secara konsisten, serta regulasi yang berkaitan dengan ekspor komoditas ataupun devisa tidak boleh memunculkan kesan yang tiba-tiba atau terlampau intervensionis.