Faktor Eksternal dan Kebijakan Ekspor Bayangi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Faktor Eksternal dan Kebijakan Ekspor Bayangi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Ilustrasi rupiah, Sumber: pajakku.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diproyeksikan masih terus berada dalam tren penurunan pada sesi perdagangan Kamis, 28 Mei 2026.

Situasi tersebut dipicu oleh sikap para pelaku pasar serta investor yang memilih mengambil langkah aman sembari menantikan publikasi sejumlah data ekonomi krusial dari Amerika Serikat.

Pada sesi transaksi di pasar spot sebelumnya, mata uang Indonesia tersebut sudah mengalami penurunan sebesar 0,03 persen secara harian menuju level Rp17.801 per dolar Amerika Serikat pada Rabu, 27 Mei 2026.

Sementara pada satu hari sebelumnya yakni Selasa, 26 Mei 2026, rupiah juga sudah ditutup merosot sebesar 0,30 persen secara harian ke posisi Rp17.796 per dolar Amerika Serikat.

Kombinasi faktor dari luar dan dalam negeri ikut memberikan tekanan terhadap pergerakan ini, terlihat dari performa negatif pasar saham domestik yang mengindikasikan ketertarikan investor asing pada aset berisiko belum membaik.

Kebijakan bank sentral dalam mengerek tingkat suku bunga acuan pada pekan sebelumnya dianggap belum mampu mengembalikan kepercayaan pasar secara optimal, bahkan sejumlah pelaku pasar memperkirakan adanya peluang kenaikan berikutnya.

“Hal ini membuat investor cenderung wait and see dan menghindari SBN,”

Aspek lain yang menjadi fokus perhatian pelaku pasar ialah kondisi defisit neraca transaksi berjalan yang berada dalam jumlah cukup masif, ditambah dengan program ekspor satu pintu lewat Danantara Sumberdaya Indonesia yang dinilai belum memperoleh tanggapan positif.

Para penanam modal saat ini juga terus memantau rilis kedua data Produk Domestik Bruto Amerika Serikat serta data inflasi inti Personal Consumption Expenditures yang akan segera dikeluarkan.

“Kecuali ada perkembangan positif seputar proposal damai AS dan intervensi Bank Indonesia, sulit bagi rupiah untuk menguat,”

Dalam jalannya transaksi hari ini, mata uang tanah air diperkirakan bakal berfluktuasi dalam batas area antara Rp17.700 sampai dengan Rp17.850 per dolar Amerika Serikat.

Langkah penyatuan aktivitas ekspor komoditas melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia dinilai cukup mengejutkan bagi institusi pemeringkat global seperti S&P, yang berpandangan bahwa strategi tersebut sukar diterapkan dalam waktu singkat.

Proses eksekusi yang dinilai kurang matang tersebut ditakutkan bisa memicu gangguan pada kelancaran operasional perdagangan internasional.

Selain itu, lembaga Moody’s juga memberikan pandangan bahwa aturan anyar ini berisiko melahirkan ketidakseimbangan pada sistem pasar konvensional karena adanya perubahan pola perdagangan.

“Ini membuat masalah tersendiri sehingga wajar arus modal asing keluar dari Indonesia. Ini yang membuat rupiah melemah dalam perdagangan hari ini,”

Di luar permasalahan pemusatan komoditas ekspor tersebut, eskalasi geopolitik yang terjadi di wilayah Timur Tengah juga diproyeksikan tetap memegang andil besar terhadap pergeseran nilai mata uang.

Estimasi pergerakan nilai tukar rupiah untuk keseluruhan sesi perdagangan hari ini diperkirakan bakal berada pada rentang Rp17.790 hingga Rp17.850 per dolar Amerika Serikat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index