JAKARTA - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan sejumlah target utama dalam Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027 saat menghadiri Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,8% hingga 6,5% pada 2027 sebagai langkah menuju target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029.
Dalam pidatona, Presiden Prabowo menegaskan bahwa strategi ekonomi dan fiskal pemerintah akan diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata.
“Dengan strategi ekonomi yang tepat, kebijakan fiskal yang prudent dan berkelanjutan, saya yakin ekonomi Indonesia dapat tumbuh pada kisaran 5,8 hingga 6,5% di tahun 2027 menuju pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2029,” ujar Prabowo.
Dari sisi fiskal, pemerintah menetapkan target untuk pendapatan negara pada APBN 2027 berada pada rentang 11,82% sampai 12,40% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sementara itu, alokasi belanja negara dirancang pada kisaran 13,62% hingga 14,80% PDB untuk menyokong program prioritas nasional serta aneka program strategis lainnya.
Demi mengawal kesehatan fiskal, pemerintah membidik defisit APBN 2027 agar tetap berada dalam kendali pada kisaran 1,80% sampai maksimal 2,40% PDB.
Presiden pun menegaskan komitmen penuh pemerintah dalam menekan angka defisit ini secara bertahap.
“Defisit APBN akan kami jaga pada kisaran 1,80 hingga maksimal 2,40% PDB. Dan kami akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit ini,” katanya.
Pada sektor moneter dan pasar keuangan, pemerintah memproyeksikan suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun akan berada di kisaran 6,5% hingga 7,3%.
Sedangkan pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan bakal berada pada rentang Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar Amerika Serikat.
“Strategi fiskal dan moneter kita haruslah strategi yang mampu untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata uang dunia,” ujar Presiden.
Pemerintah juga membidik angka inflasi agar tetap terkendali pada kisaran 1,5% hingga 3,5%. Di sektor energi, harga minyak mentah Indonesia diproyeksikan berada pada level 70 sampai 95 dolar Amerika Serikat per barel.
Untuk target lifting minyak bumi dipatok menyentuh 602 hingga 615 ribu barel per hari, sedangkan target lifting gas berada pada kisaran 934 hingga 977 ribu barel setara minyak per hari.
Bukan hanya pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menyasar perbaikan pada berbagai indikator kesejahteraan masyarakat.
Angka kemiskinan ditargetkan dapat turun menuju 6,0% hingga 6,5%, di mana angka ini lebih rendah dari target sebelumnya yang berada di rentang 6,5% sampai 7,5%.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka dibidik turun ke level 4,30% hingga 4,87% dari target awal sebesar 4,44% sampai 4,96%.
Pemerintah juga mengharapkan rasio Gini dapat membaik ke level 0,362 hingga 0,367.
“Jarak antara yang terkaya dan yang termiskin tidak boleh semakin lebar, bahkan harus kami perjuangkan untuk terus menyempit,” tegas Prabowo.
Pada aspek pembangunan sumber daya manusia, indeks modal manusia diharapkan meningkat ke angka 0,575 dari posisi sebelumnya 0,570. Pemerintah pun menargetkan kenaikan indeks kesejahteraan petani menjadi 0,8038 dari sebelumnya 0,7731.
Presiden juga menyoroti pencapaian Nilai Tukar Petani (NTP) yang dilaporkan telah menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah pada angka 126.
“Nilai tukar petani atau NTP yang sekarang sudah mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah di angka 126, harus kami perjuangkan untuk bisa kami tingkatkan lagi,” ujarnya.
Di samping itu, pemerintah membidik kenaikan proporsi lapangan kerja formal menjadi 40,81% pada tahun 2027, meningkat dari angka 35,00% pada tahun 2026.