Laba VICI Anjlok 44,15% di Semester I/2026 Meski Penjualan Naik 10%

Laba VICI Anjlok 44,15% di Semester I/2026 Meski Penjualan Naik 10%

BULETINFINANSIAL.COM — Laba bersih PT Victoria Care Indonesia Tbk. (VICI) merosot 44,15% menjadi Rp45,1 miliar pada semester I/2026, meski pendapatan tumbuh 10,14% menjadi Rp745,3 miliar. Pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak membuat biaya bahan baku melonjak, sementara belanja promosi dan iklan makin agresif.

Direktur VICI Erwan Irawan Noer menyampaikan tekanan terhadap profitabilitas datang dari dua sisi sekaligus. Kenaikan biaya bahan baku, baik raw material maupun material kemasan, diperparah oleh gejolak geopolitik yang memicu lonjakan harga minyak sepanjang semester I/2026.

"Peningkatan biaya bahan baku serta agresivitas belanja promosi dan iklan menekan laba perseroan," ujar Erwan dalam paparan publik, Jumat (18/9/2026).

Healthcare Jadi Penopang Utama Pendapatan

Dari sisi segmen, kategori healthcare menyumbang 51,3% dari total pendapatan perseroan. Sementara personal care berkontribusi sekitar 48%.

Kombinasi kedua segmen itu mendorong pendapatan naik dari Rp677 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pencapaian tersebut disebut Erwan telah melampaui target internal perusahaan.

Belanja Promosi Naik, Margin Kena Getahnya

Peningkatan belanja pemasaran merupakan bagian dari strategi memperkuat posisi merek dan mendukung peluncuran produk baru. Perseroan menilai langkah tersebut sebagai investasi jangka menengah hingga panjang.

Erwan menegaskan pihaknya akan lebih selektif dalam mengevaluasi setiap program promosi. "Kami akan selektif untuk senantiasa mereview terkait cost benefit terhadap pendapatan yang sudah kami keluarkan untuk program promosi maupun iklan," katanya.

Strategi itu memang menekan margin dalam jangka pendek. Namun manajemen memandang loyalitas pelanggan yang terbangun akan menopang penjualan ke depan.

Neraca Tetap Solid

Di sisi neraca, total aset VICI naik 3,27% menjadi Rp1,36 triliun. Total ekuitas perseroan juga tumbuh 4,28% menjadi Rp1,1 triliun.

Kenaikan ekuitas menunjukkan perusahaan masih membukukan laba positif meski tertekan. Modal sendiri yang lebih besar memberi ruang bagi perseroan untuk membiayai ekspansi tanpa bergantung penuh pada utang.

Target Double Digit Dipertahankan

Manajemen tetap mempertahankan target pertumbuhan penjualan double digit hingga akhir 2026. VICI bahkan berharap realisasi akhir tahun bisa melampaui 10%.

Direktur VICI Andi Sulistiawan menyatakan perseroan akan meningkatkan penetrasi ke modern beauty store, baik jaringan nasional maupun lokal. Kanal tersebut dinilai punya potensi besar seiring berkembangnya kebutuhan konsumen muda.

Perusahaan juga mengandalkan jaringan depo dan distributor yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Hubungan jangka panjang dengan distributor dan outlet menjadi tulang punggung penjualan offline.

Kanal Online Makin Dominan

Hingga Juni 2026, penjualan online berkontribusi 26,4% terhadap total penjualan VICI. Angka itu menegaskan pergeseran perilaku belanja konsumen ke kanal digital.

"VICI terus memperkuat jaringan penjualan sekaligus mengembangkan portofolio produk untuk menjangkau kebutuhan konsumen yang semakin beragam," ujar Andi.

Perluasan jangkauan konsumen diharapkan menopang pertumbuhan penjualan sekaligus membantu perseroan mengimbangi tekanan biaya yang membebani margin pada semester I/2026.

Bagi investor, tantangan VICI ke depan terletak pada kemampuan menahan laju biaya bahan baku yang sensitif terhadap kurs dan harga minyak. Tanpa perbaikan di sisi itu, pertumbuhan penjualan berpotensi tidak sejalan dengan perbaikan laba bersih.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index