IHSG dan Rupiah Alami Pelemahan Jelang Pengumuman Suku Bunga The Fed

IHSG dan Rupiah Alami Pelemahan Jelang Pengumuman Suku Bunga The Fed
Ilustrasi IHSG (FOTO: NET)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (14/9/2026) pagi bergerak merosot seiring langkah para investor yang memilih wait and see mengantisipasi arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, sepanjang pekan ini.

IHSG mengawali perdagangan dengan penurunan 7,51 poin atau 0,11 persen ke level 6.533,87.

Pada waktu bersamaan, kelompok 45 saham favorit atau Indeks LQ45 ikut tergerus 0,74 poin atau 0,11 persen menuju posisi 648,98.

“Apabila IHSG gagal bertahan di 6.530, koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.425, dengan support berikutnya di 6.377. Sebaliknya, apabila mampu rebound dan kembali menembus level 6.592, IHSG berpeluang menguji 6.723, sebelum menuju 6.859 sebagai resistance berikutnya,” ujar pihak dari sumbernya dalam kajiannya di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Melihat perkembangan global, perwakilan dari sumbernya memaparkan fokus para pelaku pasar dunia tertuju pada agenda rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS, The Fed, pada 15—16 September 2026 pekan ini.

Para investor memprediksikan The Fed bakal menaikkan suku bunga acuannya, menyusul rilis data inflasi AS yang memperlihatkan tekanan harga masih berada di level tinggi, yang mana inflasi headline AS berada di angka 3,4 persen pada Agustus 2026, sementara lonjakan ekspektasi inflasi konsumen mengindikasikan tekanan biaya berpotensi bertahan dalam durasi lebih lama.

Selain hal tersebut, perwakilan dari sumbernya menyampaikan kekhawatiran atas inflasi turut membayangi sentimen pasar setelah laporan Consumer Sentiment Index University of Michigan merosot menjadi 47,8 pada September 2026, dari posisi sebelumnya 51,7 pada Agustus, atau berada jauh di bawah estimasi yang sebesar 51,0.

"Penurunan utamanya dipicu oleh kenaikan harga bensin dan ketegangan perdagangan yang meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya hidup," ujar pihak dari sumbernya.

Dengan kondisi tersebut, ekspektasi inflasi konsumen AS dalam periode 12 bulan mendatang merangkak naik menjadi 4,6 persen dari patokan sebelumnya 4,0 persen, sedangkan prediksi inflasi jangka lima tahun menanjak tipis menjadi 3,4 persen dari angka sebelumnya 3,3 persen.

“Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed pekan ini,” ujar perwakilan dari sumbernya.

Di sisi lain, ancaman risiko geopolitik tetap menyita perhatian kalangan investor, usai ketegangan antara AS dan Iran memancing ketidakpastian atas keamanan jalur distribusi energi di kawasan Teluk Persia.

Kendati demikian, atmosfer sentimen sedikit membaik setelah media Pemerintah Iran mengabarkan rencana dialog Teheran bersama negara-negara Teluk di Oman guna membahas isu Selat Hormuz.

“Perkembangan tersebut membantu meredakan tekanan pada harga minyak setelah reli tajam sepanjang pekan,” ujar pihak dari sumbernya.

Beralih ke dalam negeri, penerimaan sektor pajak diproyeksikan mencapai Rp 1.409,1 triliun hingga Agustus 2026, atau baru mengamankan 59,8 persen dari target APBN 2026, walaupun mencatatkan pertumbuhan 24,1 persen year on year (yoy), sehingga sisa 40,2 persen target mesti dipenuhi dalam empat bulan tersisa.

Pengamat CITA menilai sasaran tersebut terlalu tinggi lantaran pemerintah memerlukan dana tambahan sekitar Rp 440 triliun dibanding realisasi 2025.

Bukan hanya itu, potensi shortfall penerimaan pajak diperkirakan menyentuh Rp 80—140 triliun bilamana penahanan restitusi pajak masih berlanjut.

“Kondisi ini berpotensi menekan arus kas dunia usaha dan menghambat aktivitas ekonomi serta penciptaan lapangan kerja,” ujar pihak dari sumbernya.

Tambahannya, perwakilan dari sumbernya mengutarakan ekspektasi para pelaku bisnis terhadap dinamika makroekonomi kuartal III 2026 kian melemah, terlihat dari Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) yang turun ke angka 28 dari 37 pada kuartal sebelumnya hingga terperosok ke zona pesimistis.

"Pelaku usaha memperkirakan pertumbuhan ekonomi lebih moderat setelah berakhirnya faktor musiman seperti Ramadhan, Idul Fitri dan libur sekolah," ujar perwakilan dari sumbernya.

Dirinya melanjutkan bahwa tekanan juga bersumber dari potensi pelemahan nilai tukar rupiah serta lonjakan inflasi imbas tingginya harga energi dunia, penyesuaian tarif BBM nonsubsidi, depresiasi rupiah, hingga ancaman El Nino pada harga komoditas pangan.

“Kondisi tersebut meningkatkan potensi kenaikan BI-Rate secara pre-emptive untuk menjaga stabilitas Rupiah dan ekspektasi inflasi, sementara aktivitas manufaktur masuk ke zona kontraksi dengan PMI turun menjadi 49 pada Agustus 2026,” ujar pihak dari sumbernya.

Pasar bursa Eropa kompak melaju menguat pada penutupan Jumat (11/9), di antaranya Euro Stoxx 50 melompat 0,90 persen, indeks FTSE 100 Inggris naik 0,39 persen, indeks DAX Jerman terangkat 0,80 persen, dan indeks CAC 40 Prancis terangkat 0,78 persen.

Bursa Wall Street di AS turut ditutup menguat serentak pada Jumat (11/9), di antaranya indeks S&P 500 melambung 0,86 persen ke level 7.656,98, indeks Nasdaq Composite menanjak 0,96 persen ke 26.333,04, serta Dow Jones Industrial Average naik 0,98 persen ke 52.573,29.

Pasar saham regional Asia pagi ini mencatatkan pergerakan bervariasi, antara lain indeks Nikkei turun 0,85 persen ke 63.465,00, indeks Shanghai naik 0,05 persen ke 3.886,25, indeks Kospi anjlok 2,21 persen ke 6.757,46, indeks Hang Seng tergerus 0,35 persen ke 24.719,00, dan indeks Straits Times menguat 0,29 persen ke 5.522,98.

Mengenai nilai tukar, posisi mata uang rupiah atas dolar AS pada pembukaan sesi perdagangan Senin merosot 3 poin atau 0,02 persen menuju Rp 17.614 per dolar AS dibanding posisi penutupan sebelumnya pada level Rp 17.611 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara dari sumbernya menuturkan depresiasi mata uang rupiah dipengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp 17.600—Rp 17.680 dipengaruhi oleh global melemahnya mayoritas mata uang kawasan akibat kenaikan harga minyak seiring meningkatnya risiko geopolitik dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed Kamis (17/9) minggu ini,” ungkapnya di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Ia memaparkan perkiraan suku bunga The Fed bakal naik sebesar 25 basis points (bps) hingga menjadi 4 persen.

Ekspektasi pengetatan suku bunga itu berpotensi mendorong Bank Indonesia (BI) mengambil sikap hawkish pada pekan depan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), ditambah kecenderungan peningkatan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati 5 persen di level 4,96 persen serta indeks dolar yang telah menyentuh 99.

Di samping hal tersebut, lanjutnya, ruang fiskal pemerintah semakin menyempit guna mentransmisi selisih harga minyak dengan tolok ukur Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar 70 dolar AS per barel.

Merujuk laporan Xinhua, harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Oktober menembus level 100 dolar AS per barel pada Kamis (10/9).

Harga WTI pengiriman Oktober sempat melonjak ke level 100,88 dolar AS per barel, terangkat 4,83 dolar AS atau 5,03 persen dari hari Rabu (9/9).

Capaian ini mencatatkan posisi tertinggi bagi kontrak berjangka minyak mentah WTI sejak 20 Mei.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index