BI dan Bank Sentral India Jajaki Transaksi Rupiah-Rupee Serta QRIS

BI dan Bank Sentral India Jajaki Transaksi Rupiah-Rupee Serta QRIS
Gubernur BI Destry Damayanti (FOTO: NET)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menjajaki penguatan konektivitas sistem pembayaran dan transaksi valuta lokal bersama Reserve Bank of India (RBI), termasuk interkoneksi pembayaran lewat QR serta pemanfaatan rupiah dan rupee pada transaksi bilateral.

Penjajakan itu dilaksanakan Gubernur BI dari sumbernya dalam pertemuan bilateral bersama Gubernur RBI dari sumbernya di sela Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral BRICS (2nd BRICS Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting/BRICS FMCBG) pada 9–10 September 2026 di Mumbai, India.

Di dalam pertemuan tersebut, BI bersama RBI membahas akselerasi kerja sama Local Currency Transaction (LCT) Indonesia-India, Local Currency Bilateral Swap Arrangement (LCBSA), beserta konektivitas pembayaran via QR antarnegara.

"Kerja sama tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkuat konektivitas ekonomi dan keuangan Indonesia-India. Penggunaan mata uang lokal memungkinkan transaksi bilateral dilakukan dengan mata uang masing-masing negara, sementara konektivitas pembayaran QR diarahkan untuk memperkuat transaksi lintas negara," ujar dari sumbernya, dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (13/9/2026).

Penjajakan bersama RBI itu juga selaras dengan agenda Indonesia di BRICS yang mendorong penguatan kerja sama nyata menerusi transaksi valuta lokal serta konektivitas pembayaran lintas negara.

Dari sumbernya menuturkan kerja sama itu krusial guna menghadapi meningkatnya ketegangan geopolitik dan fragmentasi ekonomi global.

Menurut pandangannya, BRICS memiliki kesempatan guna mengubah pelbagai tantangan global menjadi penguatan daya tahan bersama menerusi kerja sama ekonomi serta finansial yang nyata.

“Indonesia melihat peluang strategis bagi BRICS untuk mengubah berbagai tantangan menjadi resiliensi bersama melalui penguatan kerja sama konkret. Termasuk transaksi mata uang lokal dan konektivitas pembayaran lintas negara, dengan tetap memperhatikan tahapan pembangunan dan prioritas nasional masing-masing negara,” ujar dari sumbernya.

Dalam Pertemuan BRICS FMCBG, negara-negara anggota menyepakati komitmen guna memperkokoh kerja sama ekonomi maupun finansial serta meningkatkan resiliensi saat menghadapi guncangan global.

Sejumlah agenda yang diperbincangkan meliputi transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI), konektivitas pembayaran lintas negara, pemanfaatan mata uang lokal, ketahanan siber, sampai keuangan berkelanjutan.

BRICS juga menyepakati krusialnya penguatan arsitektur keuangan global, termasuk lewat reformasi tata kelola Dana Moneter Internasional (IMF) demi memperkokoh suara dan perwakilan negara berkembang.

Indonesia pada forum tersebut diwakili oleh dari sumbernya bersama Wakil Menteri Keuangan RI dari sumbernya.

Pertemuan di Mumbai dihadiri pimpinan bank sentral serta kementerian keuangan negara anggota BRICS, yakni Indonesia, Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Uni Emirat Arab, Ethiopia, dan Iran.

Indonesia menilai keanekaragaman sifat negara-negara anggota BRICS dapat menjadi kekuatan guna membangun kerja sama yang saling melengkapi serta melahirkan nilai tambah bersama.

Ke depan, Indonesia memandang penguatan ruang dialog maupun kerja sama internasional tetap krusial di tengah fragmentasi ekonomi dunia.

BI bersama pemerintah bakal terus berpartisipasi dalam agenda kerja sama internasional lewat langkah nyata yang inklusif serta seirama dengan prioritas nasional demi menopang ketahanan ekonomi maupun keuangan Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index