BULETINFINANSIAL.COM — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terjadi pada periode sebelumnya menjadi perhatian serius dalam penyusunan kebijakan Bank Indonesia (BI) ke depan. Pelemahan kurs yang jauh melampaui asumsi makro pemerintah menjadi indikator bahwa kepercayaan pasar perlu dipulihkan secara bertahap.
Anggota Komisi XI DPR RI Thoriq Majiddanor, yang akrab disapa Jiddan, menegaskan bahwa kepercayaan publik adalah modal utama untuk menggerakkan sektor usaha. "Tentu rasa kepercayaan ini harus ditumbuhkan dulu oleh Bank Indonesia kepada masyarakat serta ke depan mesti memberikan kepastian bagi dunia usaha agar dunia usaha kita mampu bangkit kembali," ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Kurs Rupiah dan Inflasi: Dua Tantangan yang Tak Bisa Dipisahkan
Jiddan mengingatkan bahwa stabilitas nilai tukar dan inflasi harus dijaga ketat. Ia menyoroti momen ketika rupiah sempat berada di level Rp18.000 per dolar AS, jauh dari asumsi makro yang telah disepakati antara pemerintah dan DPR.
"Pasti menjaga nilai tukar, kemudian menjaga inflasi karena kita sama-sama tahu nilai tukar kita sempat masuk ke Rp18.000 lebih jauh dari asumsi makro yang ditetapkan antara pemerintah bersama DPR," ungkap Jiddan.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran berharga. Depresiasi yang dalam dan berkepanjangan berpotensi mengerek biaya impor dan menekan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya mengganggu laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Suku Bunga Perlu Dikaji Ulang untuk Beri Ruang Bisnis
Selain isu kurs dan inflasi, Jiddan menyoroti kebijakan suku bunga acuan BI Rate. Ia menilai suku bunga yang tinggi saat ini merupakan konsekuensi dari upaya menstabilkan nilai tukar, tetapi berpotensi membebani dunia usaha.
"Bank Indonesia sendiri juga harus memperhatikan suku bunga BI Rate karena kemarin demi menjaga stabilisasi nilai tukar, BI Rate naik sampai satu basis point menjadi 5,75 dan itu menjadi perhatian yang cukup serius," jelasnya.
Ia berharap era kepemimpinan Destry Damayanti dapat membawa suku bunga kembali ke level yang lebih kondusif. "Mudah-mudahan di era Bu Destri bisa kembali ke angka yang sebelumnya yang mencapai sekitar 4,5 sampai 4,75 basis point," harapnya.
Normalisasi suku bunga dinilai penting sebagai ruang bernapas bagi sektor riil. Dengan biaya pinjaman yang lebih efisien, perusahaan diharapkan dapat berekspansi kembali dan memacu penciptaan lapangan kerja baru.
Bidikan Pertumbuhan 8 Persen Butuh Kepercayaan Dunia Usaha
Jiddan menekankan bahwa target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, sebagaimana tertuang dalam Asta Cita, hanya akan tercapai jika terjadi sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal. BI, sebagai otoritas moneter, dituntut tidak hanya menjadi penjaga stabilitas, tetapi juga katalisator pertumbuhan.
"Yang paling penting satu hari ini harus menumbuhkan rasa percaya kepada masyarakat di tengah kepercayaan hasil-hasil survei yang memang kurang berpihak kepada dunia usaha," pungkasnya.
Ke depannya, pasar akan mencermati langkah awal dari kepemimpinan baru di bank sentral tersebut. Fokus utama tetap tertuju pada konsistensi kebijakan dalam menjaga stabilitas makroekonomi tanpa menghambat laju investasi di dalam negeri.