BULETINFINANSIAL.COM — Aplikasi ini dibangun oleh Nathan Sharp dan Ryan Olson, dua mantan insinyur produk Instagram. Mereka berangkat dari kegelisahan terhadap linimasa media sosial modern yang dipenuhi konten kreator dan unggahan AI yang tidak relevan. Retro hadir sebagai ruang pribadi untuk berbagi foto dan video secara lebih langsung dengan orang-orang terdekat, tanpa perlu berkompetisi dengan algoritma.
Kebutuhan Berbagi ke Teman yang Masih Terbuka
Sharp sempat menegaskan bahwa kebutuhan mendasar pengguna untuk melihat momen teman-temannya tidak akan hilang, meskipun feed bergaya "For You" kini mendominasi platform besar. "Foto dan video yang Anda ambil perlu menemukan tempat di mana mereka bisa menjangkau audiens yang dituju," ujarnya kepada TechCrunch pada Desember tahun lalu.
Filosofi ini menjadi fondasi pengembangan fitur Retro sejak diluncurkan pada 2023. Awalnya berupa jurnal foto pribadi, aplikasi ini kini memungkinkan pengguna berbagi rangkuman aktivitas mingguan, membuat album bersama, hingga fitur "rewind" untuk bernostalgia melihat kembali kenangan lama.
Model Bisnis Langganan Tanpa Iklan
Salah satu daya tarik utama Retro adalah absennya model monetisasi berbasis iklan. Sebagai gantinya, perusahaan menawarkan langganan dalam aplikasi (in-app subscription) dengan beragam keuntungan. Pengguna berbayar mendapatkan dukungan komentar video dan GIF, pilihan gaya tambahan, riwayat unggahan tanpa batas, serta ikon aplikasi eksklusif.
Strategi ini mulai menunjukkan hasil. Data dari Appfigures mencatat total unduhan Retro telah mencapai sekitar 7 juta kali sejak perilisan. Lebih penting lagi, belanja dalam aplikasi (in-app spending) melonjak lebih dari 460 persen dalam 180 hari terakhir. Meski jumlah pelanggan berbayar masih merupakan sebagian kecil dari total pengguna, perusahaan meyakini mereka yang berlangganan adalah pengguna setia yang menjadikan Retro sebagai aplikasi berbagi foto harian.
Daftar Investor dan Prospek ke Depan
Putaran pendanaan ini diikuti sejumlah nama besar di industri teknologi dan modal ventura. Mereka termasuk Thrive Capital, CEO Figma Dylan Field, Scribble Ventures, Box Group, Imaginary Ventures, Coalition, Conviction, Copper, Positive Sum, serta sejumlah angel investor.
Dengan modal segar ini, Retro berada di posisi yang lebih kuat untuk mengembangkan fitur dan bersaing di segmen sosial berbasis pertemanan. Bagi pengguna yang lelah dengan konten berbayar dan unggahan tidak relevan di platform arus utama, Retro menawarkan alternatif yang lebih intim dan personal.