Rusia Jual Cadangan Emas Akibat Krisis BBM

Rusia Jual Cadangan Emas Akibat Krisis BBM
Ilustrasi cadangan emas. ( sumber : net )

MOSKWA - Rusia menghadapi tekanan ekonomi yang semakin kompleks.

Di tengah krisis pasokan bahan bakar minyak akibat gangguan terhadap infrastruktur energi, Bank Sentral Rusia terus mengurangi kepemilikan emas hingga mencapai level terendah dalam lebih dari enam tahun.

Dikutip dari sumbernya, data Bank Sentral Rusia menunjukkan kepemilikan emas negara tersebut berkurang 1,6 juta ons sejak awal 2026 menjadi 73,2 juta ons per 1 Agustus 2026.

Jumlah tersebut merupakan level kepemilikan emas terendah Rusia sejak Januari 2020.

Nilai cadangan emas bank sentral juga turun US$ 33,7 miliar selama tujuh bulan berturut-turut.

Penurunan kepemilikan emas berlangsung ketika Rusia menghadapi tekanan terhadap pendapatan sektor energi dan kebutuhan pembiayaan defisit anggaran.

Pada tahun lalu, Kementerian Keuangan Rusia menjual emas dan valuta asing dari Dana Kesejahteraan Nasional guna membantu menutup defisit akibat berkurangnya pendapatan energi.

Melalui mekanisme yang disebut mirror mechanism, Bank Sentral Rusia melakukan operasi penyeimbang di pasar domestik untuk mengurangi dampak transaksi terhadap nilai tukar rubel dan sistem keuangan.

Sebelumnya, Bank Sentral Rusia merupakan salah satu pembeli emas terbesar di dunia.

Bank sentral tersebut menyerap sebagian besar produksi emas domestik sebelum menghentikan pembelian pada awal 2020.

Pada 2022, Bank Sentral Rusia sempat kembali berkomitmen membeli emas.

Kebijakan itu membantu menyerap sebagian pasokan emas yang sulit diekspor setelah Rusia dikenai sanksi terkait invasi ke Ukraina pada Februari 2022.

Namun, pembelian emas dalam skala besar tidak kembali berlanjut.

Krisis BBM Rusia Makin Parah.

Tekanan terhadap sektor energi Rusia juga terlihat dari krisis pasokan bahan bakar minyak yang semakin meluas.

Serangkaian serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia mengganggu kapasitas pengolahan dan distribusi bahan bakar minyak domestik.

Antrean kendaraan mulai terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Moskwa.

Data aplikasi pemantauan Gdebenz menunjukkan ketersediaan bensin secara nasional hanya mencapai 28% dari total stasiun pengisian bahan bakar pada Rabu, turun dari 41% sepekan sebelumnya.

Pembatasan pembelian bahan bakar minyak juga diberlakukan di hampir seluruh wilayah Rusia.

Pembatasan tersebut mencakup batas volume pembelian per konsumen, sistem penjatahan berbasis kode QR, hingga pembatasan berdasarkan nomor pelat kendaraan.

Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar milik Gazprom Neft di Moskwa membatasi pembelian maksimal 40 liter untuk setiap pengisian.

Sementara itu, Tatneft menetapkan batas 50 liter untuk bensin dan 60 liter untuk solar.

Layanan Yandex Fuel pada Rabu menunjukkan bensin AI-92 hanya tersedia di sekitar satu dari 10 stasiun pengisian bahan bakar di Moskwa.

Krisis pasokan tersebut terjadi meskipun Rusia merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar dunia.

Serangan terhadap infrastruktur energi membuat kapasitas pengolahan dalam negeri terganggu dan memaksa pemerintah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga pasokan domestik.

Hingga awal Juli 2026, seluruh kilang minyak utama Rusia dilaporkan telah menjadi sasaran serangan setidaknya satu kali.

Dalam dua pekan pertama Agustus 2026, hampir 12 fasilitas energi kembali diserang.

Fasilitas yang terdampak antara lain kilang Yaroslavnefteorgsintez di Yaroslavl, dua kilang di Bashkortostan, serta infrastruktur ekspor di Pelabuhan Ust-Luga.

Forbes Rusia memperkirakan fasilitas kilang yang mengalami kerusakan kini mencakup sekitar 54% dari total kapasitas pengolahan minyak Rusia.

Akibatnya, produksi bensin harian Rusia turun menjadi sekitar 75.000 hingga 80.000 ton pada Juli 2026.

Angka tersebut jauh di bawah permintaan selama musim panas yang mencapai 115.000 hingga 120.000 ton per hari.

Dengan kondisi tersebut, Rusia mengalami kekurangan pasokan sekitar 35% dari kebutuhan harian.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index