BULETINFINANSIAL.COM — Tekanan terhadap mata uang Garuda kembali terasa di awal pekan. Berdasarkan data pasar, rupiah tergelincir 27 poin ke posisi Rp17.721 per dolar AS, berbalik arah dari penguatan tipis yang sempat tercatat pada pekan sebelumnya.
Menariknya, kurs referensi Bank Indonesia (JISDOR) pada hari yang sama masih menunjukkan posisi yang sedikit lebih baik di angka Rp17.703 per dolar AS. Artinya, ada jarak tipis antara kurs acuan resmi dengan harga yang terbentuk di pasar spot.
Ancaman Sanksi "D-Day Ekonomi" untuk Iran
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah kali ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal. Pemicunya adalah pernyataan pejabat tinggi AS yang akan mengumumkan sanksi paling keras terhadap Iran, bahkan menyebutnya sebagai "D-Day ekonomi".
“Pernyataan Bessent muncul setelah sejumlah pejabat AS, termasuk Presiden Donald Trump, memperingatkan adanya perang ekonomi terhadap negara tersebut, di tengah kebuntuan yang terus berlanjut di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Senin (24/8).
Menteri Keuangan AS, Bessent, dijadwalkan memaparkan detail sanksi baru tersebut dalam konferensi pers pada pukul 14.00 waktu setempat atau pukul 18.00 GMT.
Ancaman Blokade Minyak di Selat Hormuz
Ketegangan di Timur Tengah jelas menjadi momok bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Iran merespons rencana AS dengan nada keras. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaee, mengeluarkan peringatan bahwa "tidak akan ada satu tetes minyak pun yang diekspor" melalui Hormuz atau "di mana pun di Teluk Persia" jika perang ekonomi terus berlanjut.
Pernyataan ini membuat pelaku pasar khawatir terhadap potensi gangguan pasokan minyak global. Meski Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat menyerukan solusi diplomatik, sikap keras dari Dewan Keamanan Nasionalnya menunjukkan bahwa jalan tengah masih jauh dari kata pasti.
Yang Perlu Diwaspadai Pelaku Pasar
Bagi investor dan pelaku usaha di dalam negeri, situasi ini berarti fluktuasi rupiah masih akan tinggi dalam jangka pendek. Setiap perkembangan terbaru dari konflik AS-Iran berpotensi langsung memengaruhi pergerakan kurs di dalam negeri.
Kabar baiknya, posisi kurs acuan BI yang masih di bawah level pasar spot mengindikasikan adanya upaya stabilisasi dari otoritas moneter. Namun, sentimen global yang negatif bisa sewaktu-waktu menekan laju rupiah lebih dalam lagi jika tensi geopolitik terus memanas.
Dengan kondisi ini, para pelaku pasar disarankan untuk mencermati perkembangan kebijakan luar negeri AS dan respons Iran dalam beberapa hari ke depan. Keputusan bank sentral AS terkait suku bunga juga tetap menjadi faktor penentu arah dolar secara global.