Asing Kembali Borong SBN dan Saham Rp 909 Triliun, Rupiah Menguat

Asing Kembali Borong SBN dan Saham Rp 909 Triliun, Rupiah Menguat

BULETINFINANSIAL.COM — Bank Indonesia (BI) mencatat aliran investasi portofolio asing pada kuartal III-2026 hingga 14 Agustus mencapai net inflows US$ 1,8 miliar. Pejabat Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti, menyebut arus masuk ini ditopang penerbitan global bond pemerintah serta pembelian SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Rupiah Menguat, Asing Mulai Percaya Diri

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengungkapkan pergerakan ini mulai terlihat jelas pada Agustus 2026. Saat rupiah sempat menyentuh level Rp17.693 per dolar AS, investor asing justru menambah portofolionya dengan total arus masuk bersih mencapai US$2,08 miliar dalam sebulan.

Rinciannya, US$0,93 miliar mengalir ke SBN, US$0,08 miliar ke pasar saham, dan US$1,07 miliar ke SRBI. Yang menarik, kepemilikan asing di SBN kini mencapai Rp909 triliun per 20 Agustus, melonjak dari Rp892 triliun pada akhir Juli.

"Ini penting karena sebelumnya arus masuk sangat terkonsentrasi pada SRBI," kata Josua kepada CNBC Indonesia, Senin (24/8/2026).

Perubahan Pola Investasi Asing

Sepanjang 2026, total arus masuk ke tiga instrumen utama—SBN, saham, dan SRBI—telah mencapai US$7,72 miliar. Josua menilai penyebaran investasi ke SBN dan saham merupakan sinyal positif bagi stabilitas pasar keuangan nasional.

Dana asing yang masuk ke SBN umumnya berdurasi lebih panjang dibandingkan SRBI yang cenderung jangka pendek. Hal ini mengurangi risiko capital outflow mendadak yang kerap memicu gejolak nilai tukar dan pasar obligasi.

Syarat Agar Rupiah Terus Menguat

Josua menegaskan penguatan rupiah baru bisa berkelanjutan jika arus masuk ke SBN dan SRBI terus berlanjut. Menurutnya, pemerintah perlu mengurangi ketergantungan pada dana jangka pendek melalui SRBI.

"Hal terpenting sekarang bukan seberapa cepat rupiah menguat, tetapi apakah penguatan tersebut dapat bertahan dengan sumber yang lebih sehat, yaitu perbaikan transaksi berjalan, arus investasi langsung dan SBN, peningkatan pasokan devisa ekspor, serta berkurangnya ketergantungan pada arus dana jangka pendek," pungkasnya.

Destry optimistis aliran modal masuk akan terus berlanjut. Ketahanan eksternal Indonesia dinilai tetap kuat berkat sinergi kebijakan pemerintah dan bank sentral dalam menghadapi gejolak ekonomi global.

Kembalinya minat asing ke SBN dan saham menjadi indikator membaiknya persepsi investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia, sekaligus memperkuat posisi rupiah di tengah ketidakpastian pasar global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index