Pencabutan Gelar Menantu Istana, Mengintip Kekayaan Sultan Brunei

Pencabutan Gelar Menantu Istana, Mengintip Kekayaan Sultan Brunei
Sultan Brunei Hassanal Bolkiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Nama dari Sultan Brunei Hassanal Bolkiah tengah menyita perhatian publik pada awal pekan ini. Kondisi tersebut terjadi seiring melonjaknya pencarian nama Sultan Brunei di kanal Google Trend.

Meningkatnya perhatian publik ini muncul bukan tanpa sebab. Marak diwartakan, Sultan Hassanal Bolkiah telah membatalkan gelar istana yang dialamatkan bagi menantu perempuannya, yakni Pengiran Raabi'atul Adawiyyah Pengiran Haji Bolkiah.

Pengumuman perihal tersebut disampaikan resmi oleh Kantor Kepala Protokol Kerajaan atau Office of the Grad Chamberlain, seperti dikutip lewat Sumbernya, Selasa (11/8/2026).

Pelaksana Tugas Kepala Protokol Kerajaan, Pengiran Haji Raffizanna Pengiran Haji Razali, mengonfirmasi bahwa penarikan gelar tersebut dilaksanakan atas dasar instruksi langsung Sultan Hassanal Bolkiah.

Pengiran Raabi’atul Adawiyyah merupakan permaisuri dari Pangeran ‘Abdul Malik Hassanal Bolkiah, yang merupakan salah satu anak lelaki Sultan.

Mengutip laporan media penyiaran publik RTB News, penetapan tersebut diambil lantaran tindak-tanduk yang bersangkutan dipandang tak pantas bagi pendamping seorang anggota keluarga istana.

Informasi tersebut juga menambahkan bahwa kelakuan itu dinilai merusak citra lembaga monarki sekaligus menunjukkan minimnya rasa hormat kepada pihak Sultan.

Sama sekali tidak disinggung detail mendalam perihal perilaku maupun insiden spesifik yang memicu keputusan pencabutan gelar itu.

Di tengah pembicaraan mengenai Sultan Brunei, amat menarik pula untuk mencermati estimasi harta Sultan Brunei Hassanal Bolkiah yang merayakan ulang tahun ke-80 pada Rabu, 15 Juli 2026.

Menjadi salah satu sosok paling menarik perhatian pada sejarah masa kini, selaku penguasa bermasa jabatan paling lama usai hampir 59 tahun bertahta, beliau dikenal memiliki kepribadian sangat tertutup.

Melansir dari publikasi Sumbernya, penjagaan privasi yang sangat ketat menjadi ciri khas jalannya pemerintahan beliau selama nyaris enam dekade.

Hassanal Bolkiah Muizzaddin Waddaulah pertama kali naik tahta pada 4 Oktober 1967.

Sejak saat itu, beliau memegang kendali atas urusan pemerintahan secara menyeluruh.

Sultan Brunei bermukim bersama anak-anak beliau di Istana Nurul Iman, yaitu tempat tinggal resmi kerajaan terbesar nomor dua di bumi.

Kawasan istana ini memiliki luas tanah hingga 200.000 meter persegi.

Skala kemegahan istana ini hanya berada di bawah Forbidden City di Beijing, China, yang membentang seluas 720.000 meter persegi.

Kediaman utama Keluarga Kerajaan ini terhitung lebih luas ketimbang wilayah negara Vatikan serta ditunjang berbagai sarana megah, termasuk ruangan berlapis bahan emas, lebih dari 18.000 kamar, dan 290 kamar mandi, beserta deretan aula maupun sudut ruangan yang dipenuhi barang berharga tak ternilai.

Pada kawasan istana tersebut, beliau turut menempatkan koleksi kendaraan mewahnya yang sangat masyhur dengan jumlah melebihi 5.000 unit, yang menjadikannya salah satu himpunan mobil terbanyak di dunia masa kini.

Pilihan koleksinya terdiri atas merek-merek papan atas seperti Ferrari, Rolls-Royce, hingga Bentley, bahkan beliau memiliki tujuh dari 100 unit mobil balap Formula 1 buatan McLaren yang pernah dirakit.

Estimasi total nilai harta Sultan Hassanal Bolkiah diprediksi menyentuh US$ 16 miliar atau setara Rp 284,78 triliun (berdasarkan perhitungan nilai kurs dolar terhadap rupiah sekitar Rp 17.800).

Kekayaan Sultan Brunei tersebut sebagian besar didapat dari sumber cadangan minyak bumi serta gas alam plus investasi cerdas di mancanegara.

Nilai kekayaan beliau tersebut turut menempatkan namanya pada jajaran daftar figur terkaya versi majalah Forbes.

Beliau juga tercatat menguasai enam unit pesawat terbang, dua helikopter, dan satu pesawat Boeing 747, yang dikenal luas sebagai jet jumbo karena ukurannya yang amat besar dan telah diubah secara total untuk operasional pribadi.

Jet penumpang ini dibekali dua lorong kabin serta mampu memuat lebih dari 500 orang.

Wahana ini pernah memegang predikat sebagai pesawat angkut penumpang terbesar di dunia sebelum beroperasinya komersial Airbus A380.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index