JAKARTA – Prospek pasar keuangan RI di sisa tahun ini belum terlepas sepenuhnya dari berbagai sentimen penekan. Ketegangan geopolitik yang kembali memanas hingga tekanan mata uang rupiah, menjadi pemberat bagi laju pasar keuangan RI. Di pasar saham, tekanan yang mulai terjadi pada triwulan pertama tahun ini, masih menghantui.
Kinerja Indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat mengalami koreksi 34,74% year-to-date (YtD) ke level 5.643,2. Dana asing juga telah menguap Rp72,56 triliun sepanjang tahun ini. Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tekanan pasar saham terbesar dibandingkan negara Asean dan Asia Pacific lain.
Sejalan dengan lesunya kinerja IHSG, sejumlah sekuritas di Tanah Air turut merevisi target IHSG mereka. Salah satu pihak sekuritas menerangkan saat ini pihaknya menargetkan IHSG berada pada level 6.600 di penghujung tahun. Pada Mei 2026 lalu, pihak sekuritas tersebut menerangkan pihaknya menargetkan IHSG bakal terparkir pada level 7.500 pada tahun ini.
”Rupiah dan arus dana asing memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap arah IHSG karena pasar Indonesia masih highly foreign sensitive. Pelemahan rupiah akan mempercepat risk-off terutama di big caps,” katanya.
Selain itu, risiko lain yang turut membayangi dinilai datang dari ketidakpastian arah suku bunga global, volatilitasa harga komoditas, hingga isu tata kelola pasar seperti yang disorot lembaga penyedia indeks MSCI Inc.
”Unfreeze dari MSCI dan perbaikan kebijakan dapat menjadi katalis positif. Kami masih menargetkan IHSG di 6.600,” katanya.
Pihak sekuritas lain menerangkan pihaknya berencana melakukan revisi terhadap target IHSG. Namun, saat ini pihak tersebut masih melakukan kajian mengenai target anyar IHSG. Dia memprediksi, bakal terjadi perlambatan kinerja earnings emiten pada paruh kedua 2026.
Kondisi rupiah yang lesu, telah membuat potensi perlambatan ekonomi semakin nyata ke depan. Pasalnya, sebagian besar pengeluaran pemerintah dan masyarakat telah terlaksana pada momentum Lebaran 2026 yang jatuh pada kuartal I. Memasuki paruh kedua 2026, perlambatan kinerja emiten diprediksi terjadi lantaran suku bunga yang tinggi pada periode ini.
“Ini sedang kami review [target IHSG]. Sepertinya kemungkinan besar akan kami revisi. Sebagian besar [sentimen] memang sudah priced-in, kenaikan suku bunga, kemudian potensi slow down, potensi adanya earnings yang akan melambat dari sisi emiten,” katanya.
Sebelumnya, analis memprediksi IHSG akan mencapai level 7.246—5.068 sebagai target optimistis dan pesimistis. Langkah emiten besar untuk memperjelas struktur kepemilikan saham bakal menjadi salah satu katalisnya. Sementara itu, pihak sekuritas lainnya memprediksi IHSG akan bertengger pada level 7.000—7.250 hingga akhir tahun. Proyeksi tersebut dengan asumsi kondisi global tidak mengalami ketegangan baru yang signifikan terhadap pasar.
Menurutnya, peluang IHSG untuk mencatatkan reli sebetulnya lebih terbuka dibandingkan periode paruh pertama 2026. Namun, reli akan bersifat gradual dan tidak sekuat kondisi recovery pascapandemi.
”Namun kami melihat semester II masih akan menjadi periode pembuktian. Agar IHSG dapat bergerak lebih tinggi secara berkelanjutan, pasar membutuhkan kombinasi stabilitas rupiah, kembalinya arus dana asing, serta pertumbuhan laba emiten yang tetap resilien,” kata salah satu pihak sekuritas.
Pihak manajemen aset berharap laju IHSG dapat mendekati level 7.000 hingga akhir tahun. Motor penggerak laju IHSG dinilai akan datang dari sentimen lanjutan MSCI dan arah pengelolaan kebijakan pemerintah.
Target IHSG Akhir Tahun:
Lembaga Target IHSG
Kiwoom Sekuritas 7.000—7.250
Mirae Asset Sekuritas 7.246—5.068
Samuel Sekuritas 6.600
Henan Putihrai AM 6.200—6.800
Batavia Prosperindo AM <7.000
Strategi Mengelola Aset Di satu sisi, pasar SBN RI dibayangi tekanan serupa. Imbal hasil acuan yang mencerminkan kondisi surat utang RI di pasar sekunder, telah jatuh ke level 7,21% hingga perdagangan hari ini. Meskipun begitu, intervensi Bank Indonesia (BI) dan stakeholder telah mampu menarik dana asing senilai Rp4,32 triliun kembali ke RI.
Kini pasar keuangan RI tampak terjepit dari dua sisi. Pengelolaan investasi yang matang menjadi kunci untuk memaksimalkan return di tengah kondisi ini. Salah satu manajer investasi menetapkan target yield SBN bertenor 10 tahun berada pada level 6,7—7,2%. Menurutnya, arah suku bunga hingga pengelolaan fiskal yang prudent bakal menjadi bahan bakar yang menggerakkan yield SBN.
”Rentang ini kami perkirakan terjadi di tutup tahun, tentunya masih bisa berubah apabila terjadi pergeseran suku bunga yang signifikan,” katanya.
Di tengah kondisi ini, pihak manajemen aset memilih untuk memendekkan durasi surat utang. Terutama, di tengah kondisi suku bunga yang tinggi, memendekkan durasi dinilai menjadi opsi yang umum dilakukan manajer investasi. Sementara terhadap saham, pihaknya mengaku saham-saham yang saat ini mengalami kenaikan di tengah laju terbatas indeks, telah sesuai prediksi perusahaan, sehingga laju reksa dana saham saat ini dapat mengejar ketertinggalan pada tahun lalu.
”Tahun ini kami beruntung kondisi market fundamentally bergerak sesuai dengan pandangan kami, harapan kami selaras dengan filosofi kami, sehingga sampai saat ini kinerja kami lebih baik dari IHSG secara cukup signifikan,” tambahnya.
Pihak manajer investasi lain menerangkan di tengah kondisi ini, pihaknya masih akan berfokus pada saham-saham berkualitas tinggi, dengan fundamental solid, likuid, hingga memiliki eksposur terhadap tema pertumbuhan domestik. Fleksibilitas alokasi kas juga dipertahankan untuk mengantisipasi volatilitas dan menangkap peluang ketika koreksi kembali terjadi.
Sementara di RDPT, strategi difokuskan pada obligasi pemerintah dan korporasi yang memiliki durasi pendek—menengah. Pendekatan ini dinilai bertujuan menjaga keseimbangan antara potensi capital gain dan mitigasi risiko pergerakkan yield. Sementara itu, RDPU tetap menjadi instrumen stabilisasi portofolio. Penempatan dioptimalkan pada instrumen berisiko rendah dan tenor pendek guna menjaga likuiditas dan memberikan imbal hasil yang kompetitif.
”Secara keseluruhan, strategi investasi kami pada semester II/2026 menitikberatkan pada balance allocation, disiplin manajemen risiko, dan penciptaan risk-adjusted return yang optimal, dibandingkan sekadar mengejar retrun jangka pendek,” tegasnya.