MAKASSAR - Selama puluhan tahun Indonesia bekerja keras menarik investor asing.
Berbagai insentif pajak diberikan, kawasan industri dibangun, regulasi dipermudah, bahkan pejabat negara berkeliling dunia menawarkan peluang investasi.
Namun, pada 21 Juli 2026, DPR mengesahkan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia, sebuah langkah yang mengisyaratkan perubahan paradigma.
Indonesia tampaknya tidak lagi sekadar ingin menjadi tempat modal dunia datang berinvestasi, melainkan ingin menjadi tempat modal dunia berkumpul, dikelola, diperdagangkan, dan dikembangkan.
Pertanyaan, apakah inilah salah satu lompatan yang dibutuhkan Indonesia menuju negara maju pada 2045.
Selama ini Indonesia dikenal sebagai negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN, tetapi belum menjadi pusat keuangan kawasan.
Banyak perusahaan nasional menerbitkan obligasi internasional, mengelola dana investasi, melakukan lindung nilai, atau menghimpun modal global justru memanfaatkan Singapura maupun Hong Kong.
Nilai tambah dari aktivitas keuangan bernilai tinggi tersebut akhirnya dinikmati negara lain.
Padahal, pada era ekonomi modern, kekuatan suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam atau kapasitas manufaktur.
Yang semakin menentukan adalah kemampuan mengelola arus modal global.
Negara menjadi pusat keuangan memperoleh manfaat berlapis: investasi, inovasi, pekerjaan berpenghasilan tinggi, serta penerimaan negara dari sektor jasa keuangan.
Dalam perspektif ini, Pusat Finansial Internasional bukanlah proyek pembangunan kawasan elite, melainkan strategi reposisi Indonesia dalam peta ekonomi global.
Indonesia ingin naik kelas, dari sekadar destination investment menjadi destination financial.
Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan Indonesia menjadi negara maju dan berpendapatan tinggi.
Namun, hampir semua negara maju memiliki satu kesamaan: mereka mempunyai pusat finansial kelas dunia.
Amerika Serikat memiliki New York.
Inggris memiliki London.
Singapura menjadi pusat keuangan Asia Tenggara.
Uni Emirat Arab membangun Dubai International Financial Centre.
Hong Kong tetap menjadi simpul utama arus modal Asia.
Kota-kota tersebut bukan hanya dipenuhi gedung pencakar langit atau bank besar.
Di sanalah berkumpul manajer investasi, perusahaan modal ventura, firma hukum internasional, perusahaan teknologi finansial, konsultan global, hingga pengelola dana pensiun dan family office.
Ekosistem inilah menghasilkan nilai tambah ekonomi jauh melampaui eksploitasi sumber daya alam.
Jika Indonesia ingin keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, pertumbuhan sektor jasa keuangan modern menjadi kebutuhan strategis, bukan lagi pilihan.
Pusat Finansial Internasional dapat menjadi salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan dan kepercayaan.
Banyak orang mengira pusat finansial dibangun melalui gedung mewah, kawasan bisnis eksklusif, atau insentif pajak.
Sesungguhnya, yang paling menentukan adalah kepercayaan.
Modal global tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga kepastian.
Mereka menilai apakah hukum ditegakkan secara konsisten, kontrak dihormati, regulator independen, sengketa dapat diselesaikan dengan cepat, dan tata kelola berjalan secara transparan.
Karena itu, keberhasilan Pusat Finansial Internasional tidak akan ditentukan oleh seberapa megah kawasan yang dibangun, melainkan oleh seberapa besar tingkat kepercayaan investor terhadap institusi Indonesia.
Dalam ekonomi modern, kepercayaan merupakan mata uang yang sama berharganya dengan modal.
Sebagian masyarakat mungkin bertanya, apa manfaat pusat finansial bagi kehidupan sehari-hari.
Jawabannya memang tidak langsung terlihat seperti pembangunan jalan tol atau rumah sakit, tetapi dampak gandanya sangat besar.
Masuknya lebih banyak dana investasi akan memperluas pembiayaan pembangunan infrastruktur, industri, dan usaha mikro kecil menengah.
Perusahaan memperoleh akses pendanaan lebih murah melalui pasar modal maupun instrumen keuangan lainnya.
Dunia usaha menjadi lebih kompetitif, sehingga mampu membuka lebih banyak lapangan kerja.
Di sisi lain, berkembangnya sektor jasa keuangan akan menciptakan ribuan pekerjaan dengan produktivitas dan pendapatan tinggi, mulai dari analis investasi, pengelola dana, ahli kecerdasan buatan untuk keuangan, aktuaris, konsultan lingkungan sosial dan tata kelola, spesialis manajemen risiko, hingga firma hukum internasional.
Aktivitas ekonomi meningkat juga akan memperbesar penerimaan pajak dan devisa negara, yang pada akhirnya dapat digunakan untuk membiayai pendidikan, kesehatan, serta perlindungan sosial.
Dengan kata lain, manfaat Pusat Finansial Internasional tidak berhenti di gedung-gedung perkantoran, tetapi dapat mengalir hingga ke masyarakat luas melalui pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas.
Namun, pengesahan undang-undang hanyalah garis start, bukan garis finis.
Indonesia akan berhadapan dengan pesaing yang telah puluhan tahun membangun reputasi sebagai pusat finansial dunia, seperti Singapura, Hong Kong, dan Dubai.
Keberhasilan Pusat Finansial Internasional tidak dapat diukur dari jumlah gedung yang berdiri atau besarnya insentif yang diberikan.
Ukurannya jauh lebih substantif: berapa banyak lembaga keuangan global yang memilih Indonesia sebagai basis operasinya, seberapa besar dana internasional yang dikelola dari Indonesia, berapa banyak pekerjaan berkualitas tercipta, serta seberapa besar kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam.
Namun, menuju 2045, kekayaan itu tidak lagi cukup.
Negara maju dibangun bukan hanya oleh tambang, sawit, atau manufaktur, tetapi juga oleh kemampuan mengelola modal, inovasi, dan kepercayaan.
Karena itu, makna strategis Pusat Finansial Internasional sesungguhnya bukan sekadar membangun kawasan keuangan baru.
Ia adalah upaya mengubah wajah ekonomi Indonesia: dari negara yang selama ini sibuk menarik modal menjadi negara yang dipercaya dunia untuk mengelola modal.
Jika transformasi itu berhasil, Indonesia tidak hanya akan menjadi ekonomi besar karena jumlah penduduknya, tetapi juga karena kemampuannya menjadi salah satu simpul utama arus keuangan global.
Di sanalah sesungguhnya salah satu fondasi Indonesia Emas 2045 sedang dibangun.