Penyebab IHSG Rontok Hingga 34,74 Persen Sepanjang Semester Satu 2026

Penyebab IHSG Rontok Hingga 34,74 Persen Sepanjang Semester Satu 2026
Ilustrasi ihsg (sumber foto: NET)

JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan sepanjang semester pertama 2026. Analis menilai, kombinasi sentimen global dan domestik memepngaruhi gerak IHSG pada perdagangan saham Januari-Juni 2026. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Rabu, (1/7/2026), IHSG anjlok 34,74% menjadi 5.643,19 hingga penutupan perdagangan Selasa, 30 Juni 2026. Kinerja IHSG berada di posisi ke-6 di ASEAN. Kinerja IHSG ini di bawah Malaysia dan Filipina yang masing-masing susut 0,96% dan 0,26%. Sedangkan di Asia Pasifik, kinerja IHSG di posisi ke-13, dan di dunia, berada di posisi ke-35.

Tekanan IHSG juga mendorong kapitalisasi pasar saham BEI turun menjadi Rp 9.897 triliun hingga penutupan perdagangan Selasa, 30 Juni 2026. Posisi ini lebih rendah dari kapitalisasi pasar 2 Januari 2026 sekitar Rp 16.014 triliun. Selain itu, sepanjang semester I 2026, investor asing melakukan aksi jual saham Rp 73,60 triliun. Tekanan yang dialami IHSG sepanjang Januari-Juni 2026 bersumber dari beberapa lapisan faktor yang saling berinteraksi, baik dari sisi domestik dan eksternal.

Dari sisi global, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang persisten serta harga minyak yang tinggi dalam empat hingga lima bulan terakhir menciptakan tekanan ganda. Yaitu arus modal keluar dari pasar berkembang atau emerging markets dan peningkatan biaya impor yang memperberat neraca berjalan. Sedangkan dari sisi domestik, pasar merespons sejumlah kebijakan pemerintah di sektor komoditas yang menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku industri dan investor.

“Beberapa di antaranya adalah pembatasan ekspor komoditas, penyesuaian skema royalti, serta perubahan pada mekanisme bagi hasil di sektor hulu migas. Kebijakan-kebijakan ini, terlepas dari niat baiknya, memunculkan pertanyaan di kalangan investor terkait kepastian berusaha dan arah kebijakan jangka panjang,” ujar sumber tersebut. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap defisit fiskal turut memperlemah sentimen, terutama dari perspektif investor asing yang mempertimbangkan implikasinya terhadap peringkat kredit Indonesia.

“Adapun dari perspektif pasar modal itu sendiri, kekhawatiran seputar aksesibilitas Indonesia dalam indeks global, seperti potensi perubahan bobot di MSCI maupun FTSE, turut mendorong rebalancing portofolio dari investor institusional asing,” kata sumber tersebut. Meski demikian, ada sentimen positif terkait langkah pemerintah untuk mengelola defisit fiskal.

“Yang menggembirakan, pemerintah kini menunjukkan kepekaan terhadap dinamika pasar dan mulai melakukan rasionalisasi atas beberapa kebijakan yang dinilai memberatkan, khususnya terkait pengelolaan defisit fiskal. Ini merupakan sinyal positif yang patut diapresiasi pasar,” kata sumber tersebut. Jika harus memilih sentimen yang mendominasi dari sentimen global dan internal yang mempengaruhi IHSG, sentimen domestik lebih mendominasi pergerakan IHSG pada semester pertama 2026.

Faktor-faktor eksternal seperti penguatan dolar Amerika Serikat dan harga minyak tentunya berkontribusi, tetapi sifatnya lebih sebagai katalis yang memperburuk kondisi yang sudah tertekan dari dalam. “Ketidakpastian yang ditimbulkan by sejumlah kebijakan di sektor komoditas, yang merupakan tulang punggung ekspor dan pendapatan emiten besar di bursa kami, berdampak langsung pada revisi proyeksi laba korporasi. Ditambah kekhawatiran terhadap profil kredit negara, investor cenderung mengambil posisi defensif terlebih dahulu sambil menunggu kejelasan arah kebijakan,” ujar sumber tersebut.

Dalam konteks ini, perkembangan domestik memiliki bobot yang lebih signifikan dalam membentuk persepsi risiko investor, baik lokal maupun asing. Tekanan IHSG pada semester pertama 2026 juga tak lepas dari kinerja sektor saham. Pada enam bulan pertama 2026, seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham energi memimpin penurunan dengan susut 42,17%. Disusul sektor saham properti dan real estate melemah 40,15% dan sektor saham infrastruktur tergelincir 37% secara year to date (ytd) berdasarkan data BEI.

Koreksi tajam di sektor energi mencerminkan akumulasi tekanan dari berbagai arah yang menghantam fundamental sektor ini secara bersamaan. "Sektor batu bara, yang bobot kapitalisasinya cukup dominan dalam indeks energi, menjadi yang paling terdampak. Wacana pembatasan ekspor batu bara menciptakan ketidakpastian besar terhadap volume penjualan dan pendapatan emiten batu bara,” ujar sumber tersebut.

Adapun emiten-emiten seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang selama ini menjadi penopang sektor energi, mengalami tekanan harga saham yang signifikan seiring revisi ke bawah atas ekspektasi pendapatan ekspor. "Secara keseluruhan, kombinasi antara risiko regulasi yang belum tuntas, tekanan harga komoditas global, dan arus keluar investor asing menjadikan sektor energi sebagai sektor yang paling terdampak di semester pertama ini,” kata sumber tersebut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index