IHSG Melemah ke Level 5.884 Akibat Penurunan Saham BBCA BREN dan BBRI

IHSG Melemah ke Level 5.884 Akibat Penurunan Saham BBCA BREN dan BBRI
Ilustrasi ihsg (sumber foto: NET)

JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengawali perdagangan di zona merah dengan penurunan sebesar 0,19% atau terkoreksi 11,17 poin ke level 5.884,96 pada perdagangan hari Senin (29/6/2026). Pergerakan indeks yang tertahan di zona negatif ini utamanya disebabkan oleh melemahnya sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar (big caps) seperti BBCA, BREN, dan BBRI. Aktivitas pasar pada pembukaan ini mencatatkan volume transaksi awal sebesar 602,2 juta saham dengan nilai transaksi mencapai Rp452 miliar.

Pada awal sesi pagi ini, peta pergerakan saham menunjukkan sebanyak 219 saham bergerak menguat, sedangkan 240 saham mengalami penurunan, dan sebanyak 500 saham lainnya masih stagnan. Tekanan utama terhadap indeks berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar yang mengalami koreksi harga secara bervariasi pada pembukaan pasar: BBCA turun 1,62% ke Rp6.075 BREN melemah 1,19% ke Rp3.310 BBRI turun 0,70% ke Rp2.850 BMRI melemah 0,25% ke Rp3.980 ASII dibuka turun 0,63% ke Rp4.730

Pergerakan indeks domestik pada pekan ini diproyeksikan masih berada di dalam jalur tren penurunan (downtrend) untuk jangka menengah. Kondisi tersebut diperkirakan tetap membayangi pasar meskipun instrumen ini sempat mengalami pemulihan (rebound) dari level terendah 5.318 menuju ke level 6.377.

Secara analisis teknikal, indikator pasar menunjukkan belum adanya pembentukan penembusan struktur (break of structure) di atas area swing high sebelumnya. Selain itu, posisi penutupan indeks juga terpantau masih berada di bawah garis pergerakan rata-rata MA5, MA10, dan MA20. Pelemahan histogram positif MACD bersama dengan Stochastic RSI yang mulai masuk ke area pivot menjadi sinyal bahwa momentum penguatan pasar kini mulai terbatas, sehingga indeks berpeluang besar untuk menguji area support di level 5.700–5.800 pada pekan ini.

"Selama support tersebut mampu dipertahankan, pergerakan indeks diperkirakan masih akan berkonsolidasi dalam kisaran 5.500–6.400," kata Brigita, Senin (29/6/2026).

Menurut analisisnya, konfirmasi mengenai adanya pembalikan arah tren menjadi bullish baru akan benar-benar terbentuk jika indeks mampu menutup sesi perdagangan mingguan di atas level 6.452. Oleh karena itu, setiap bentuk penguatan harga yang terjadi sebelum level penutupan tersebut tercapai masih dinilai sebagai fase relief rally semata.

Jika melihat dari sisi sentimen pasar yang berkembang, para pelaku pasar saat ini dinilai masih memilih untuk bersikap wait and see akibat adanya pengaruh sentimen domestik yang saling tarik-menarik. Perhatian para pelaku pasar akan tertuju secara penuh pada rilis rangkaian data makroekonomi utama untuk periode semester pertama, yang mencakup data inflasi, neraca perdagangan, tingkat kepercayaan konsumen, sampai dengan pengumuman kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia pada pertengahan Juli mendatang.

Di waktu yang bersamaan, langkah pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi bernilai Rp26,34 triliun lewat delapan program insentif diharapkan bisa memelihara daya beli masyarakat sekaligus menstimulasi pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun 2026. Pemerintah pun terus menguatkan langkah konsolidasi fiskal lewat efisiensi anggaran negara, termasuk di dalamnya rencana pengurangan alokasi untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), penghematan alokasi subsidi energi, serta penerapan berbagai langkah reformasi kebijakan yang diproyeksikan mampu memulihkan persepsi terhadap kondisi fiskal Indonesia.

"Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta menunggu penilaian lanjutan dari lembaga pemeringkat kredit, sehingga arah arus modal asing diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan pasar domestik," tandasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index