Indeks Bisnis-27 Melemah Pagi Hari Ini Saham ANTM BRMS MEDC Menguat

Indeks Bisnis-27 Melemah Pagi Hari Ini Saham ANTM BRMS MEDC Menguat
Ilustrasi bursa efek indonesia (sumber foto: NET)

JAKARTA – Indeks Bisnis-27 mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan pagi, Senin (29/6/2026). Walau demikian, beberapa saham terpantau tetap menguat, di antaranya ANTM, BRMS, dan MEDC.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks yang dikelola bersama Harian Bisnis Indonesia tersebut merosot 0,33% menuju level 403,17. Dari total 27 emiten di dalamnya, tercatat 11 saham mengalami kenaikan, 12 saham terkoreksi, dan 4 saham tidak bergerak. Kenaikan harga tertinggi dipimpin oleh PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) yang tumbuh 2,95% ke level Rp2.790, disusul PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang naik 2,41% ke Rp510, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) naik 2,36% ke Rp1.085, serta PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang menguat 2,13% menjadi Rp144.

Beberapa emiten lain yang juga mencatatkan penguatan harga meliputi: PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) naik 1,89% ke Rp6.725 PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) naik 1,31% ke Rp310 PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) naik 1,27% ke Rp800 PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) naik 0,89% ke Rp2.270

Di sisi lain, penurunan harga terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang merosot 1,62% ke Rp6.075, PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) yang turun 2,76% ke Rp1.235, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang melemah 3,08% ke Rp1.415, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) yang jatuh 4,61% menjadi Rp1.450.

Kemerosotan harga saham juga membayangi beberapa emiten berikut: PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) turun 0,63% ke Rp3.140 PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) turun 0,66% ke Rp1.505 PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) turun 1,02% ke Rp1.945 PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) turun 1,61% ke Rp2.440

Pergerakan IHSG untuk pekan ini diproyeksikan masih berada dalam jalur penurunan jangka menengah, kendati sebelumnya sempat merangkak naik dari titik terendah 5.318 menuju posisi 6.377. Secara teknikal, pergerakan indeks dinilai belum mampu menembus batas atas area swing high terdahulu, sementara posisi penutupan pasar pun masih berada di bawah garis MA5, MA10, dan MA20. Berkurangnya histogram positif MACD dan indikator Stochastic RSI yang mulai mendekati area pivot menunjukkan bahwa daya dorong penguatan pasar kian terbatas, sehingga IHSG berpotensi menguji titik support di rentang 5.700–5.800 pada minggu ini.

"Selama support tersebut mampu dipertahankan, pergerakan indeks diperkirakan masih akan berkonsolidasi dalam kisaran 5.500–6.400," kata analis pasar, Senin (29/6/2026).

Kepastian mengenai perputaran arah tren menjadi menguat baru bisa dipastikan jika IHSG sukses menutup perdagangan pekanan di atas angka 6.452. Dengan demikian, segala bentuk kenaikan yang terjadi sebelum angka tersebut terlampaui dinilai masih sebatas pemulihan sementara atau relief rally. Dari sudut pandang psikologis pasar, para investor kini terlihat lebih memilih mengambil sikap wait and see akibat pengaruh sentimen yang saling bertolak belakang. Fokus perhatian pelaku pasar akan mengarah pada rilis data makroekonomi utama paruh pertama tahun, mulai dari angka inflasi, neraca perdagangan, tingkat optimisme konsumen, hingga keputusan terkait tingkat suku bunga acuan oleh Bank Indonesia pada pertengahan bulan Juli mendatang.

Di saat yang sama, pihak otoritas mulai menggulirkan program stimulus perekonomian bernilai total Rp26,34 triliun melalui delapan bentuk insentif guna memelihara tingkat konsumsi masyarakat sekaligus memacu roda pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun 2026. Langkah penguatan konsolidasi anggaran juga terus ditempuh lewat jalur efisiensi belanja negara, yang mencakup skema pemotongan porsi program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengetatan subsidi sektor energi, dan beragam program pembenahan kebijakan demi memulihkan penilaian positif atas kondisi fiskal nasional.

"Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta menunggu penilaian lanjutan dari lembaga pemeringkat kredit, sehingga arah arus modal asing diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan pasar domestik," tandasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index