Hasil Tinjauan MSCI untuk Pasar Indonesia serta Rekomendasi Saham 2026

Hasil Tinjauan MSCI untuk Pasar Indonesia serta Rekomendasi Saham 2026
Ilustrasi ihsg (sumber foto: NET)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,25% ke level 6.101,33 pada perdagangan Selasa (23/6). Penopang utama pergerakan indeks datang dari saham BBRI yang naik 1,39%, BRPT menguat 5,35%, serta SRAJ yang melonjak 8,85%. Di sisi lain, tekanan terbesar berasal dari BYAN yang turun 9,85%, BBCA yang terkoreksi 1,61%, dan BMRI yang melemah 2,37%.

Investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp348,13 miliar di pasar reguler dan Rp311,60 miliar di seluruh pasar. Dari sisi sektoral, empat dari sebelas sektor ditutup di zona merah. Sektor teknologi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 1,05%, sementara sektor kesehatan mencatat kenaikan tertinggi sebesar 3,97%.

Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh hasil tinjauan tahunan klasifikasi pasar dari MSCI. Di tengah perhatian investor terhadap status pasar modal Indonesia, MSCI memutuskan tetap menempatkan Indonesia dalam kategori Emerging Market, meski sejumlah aspek terkait investabilitas masih menjadi perhatian.

Di pasar global, indeks utama Amerika Serikat juga ditutup melemah, dengan Dow Jones turun 0,09%, S&P 500 terkoreksi 1,44%, dan Nasdaq melemah 2,22%. Sementara itu, ETF EIDO naik 0,41% dan MSCI Indonesia turun 0,44%.

Dalam MSCI 2026 Market Classification Review, Indonesia berhasil mempertahankan status sebagai Emerging Market. MSCI menilai sejumlah langkah yang telah dilakukan regulator dan infrastruktur pasar, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan saham di atas 1%, penerapan kebijakan High Shareholding Concentration, serta rencana peningkatan batas minimum free float menjadi 15%.

Meski demikian, MSCI menegaskan akan terus memantau efektivitas implementasi berbagai kebijakan tersebut. Jika hingga November 2026 belum terlihat perkembangan yang dinilai memadai, MSCI dapat mempertimbangkan konsultasi terkait perubahan klasifikasi pasar Indonesia.

Di tengah perkembangan pasar, PT Rans Entertainment Indonesia tengah menjalani masa book building pada 23–25 Juni 2026 menjelang rencana pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada 10 Juli 2026. Perseroan yang bergerak di bidang media, hiburan, dan pengelolaan intellectual property (IP) tersebut memiliki basis lebih dari 155 juta pengikut di berbagai platform media sosial.

RANS menawarkan sebanyak-banyaknya 2,52 miliar saham baru atau setara 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan kisaran harga penawaran Rp135–170 per saham, perseroan berpotensi memperoleh dana hingga Rp429,25 miliar. Berdasarkan rentang harga tersebut, kapitalisasi pasar setelah IPO diperkirakan berada pada kisaran Rp1,70 triliun hingga Rp2,14 triliun.

Dana yang diperoleh dari penawaran umum direncanakan untuk beberapa keperluan berikut: Untuk percepatan pelunasan sebagian fasilitas pinjaman dari BNI sebesar 6,98% Pembangunan proyek Cipungland sebesar 18,64% Kebutuhan operasional penyelenggaraan konser artis lokal dan internasional sebesar 37,61% Pembentukan entitas usaha baru berbasis kecerdasan buatan bersama Feedloop Global Teknologi sebesar 8,15% Akuisisi saham Rans Kosmetika Indonesia/Slavina sebesar 19,80% Penyertaan modal ke entitas anak RNS untuk mendukung ekspansi usaha sebesar 8,82%

Sementara itu, PT ESSA menetapkan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp52 per saham dengan total nilai Rp895,80 miliar. Nilai dividen tersebut lebih tinggi dibandingkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tahun 2025 yang tercatat sebesar US$40,29 juta atau setara sekitar Rp713,93 miIiar. Selisih sekitar Rp181,87 miliar akan diambil dari saldo laba ditahan perseroan.

Sepanjang 2025, ESSA membukukan pendapatan sebesar US295,01juta,turun2,12301,40 juta. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun 10,83% menjadi US40,29jutadariUS45,18 juta pada 2024.

Pada penutupan perdagangan 23 Juni 2026, saham ESSA berada di level Rp660 per saham, yang mencerminkan dividend yield sekitar 7,88%. Jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 26 Juni 2026, sementara pembayaran dividen direncanakan pada 15 Juli 2026.

Rekomendasi Saham Hari Ini: AKRA - Buy 1245-1255 | TP 1270-1290 | SL 1190 ESSA - Buy 640-650 | TP 660-670 | SL 605 DEWA - Buy 354-358 | TP 364-370 | SL 334 INTP - Buy 4130-4150 | TP 4200-4270 | SL 3930 RATU - Buy 4980-4990 | TP 5100-5200 | SL 4750

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index