Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.890 per Dolar AS karena Konflik

Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.890 per Dolar AS karena Konflik
Ilustrasi nilai tukar rupiah (sumber gambar: NET)

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini diprediksi akan berjalan fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di kisaran Rp17.840 sampai Rp17.890 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, kurs mata uang garuda ini mengalami penurunan sebesar 0,22 persen atau terpangkas 39 poin ke posisi Rp17.843 per dolar AS. Bersamaan dengan itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,14 persen menuju level 100,98.

Pelemahan ini disebabkan oleh gejolak di pasar keuangan akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi pasar sempat terguncang menyusul peringatan mengenai potensi tindakan militer tambahan, apabila pihak Iran tidak segera meredam aktivitas kelompok Hizbullah yang beroperasi di wilayah Lebanon.

"Namun, pembicaraan AS-Iran berakhir di Swiss, dengan Teheran mengatakan telah mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, meredakan kekhawatiran tentang kekurangan pasokan di pasar global dan menekan harga minyak mentah," kata seorang pengamat pasar keuangan. Meskipun demikian, putaran pertama dialog di Swiss tersebut berhasil menyepakati nota kesepahaman untuk memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari ke depan.

Selain konflik geopolitik, perkembangan kondisi ekonomi di Amerika Serikat turut memengaruhi pasar global. Pelaku pasar kini sedang mencermati rilis data ekonomi kuartal pertama tahun 2026 serta Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti. Kebijakan moneter masa depan dari Bank Sentral AS di bawah kepemimpinan barunya juga sangat dinantikan oleh para investor.

Dari faktor domestik, pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi seperti proyeksi kenaikan inflasi nasional. Bank Sentral memproyeksikan penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi akan memberikan andil terhadap peningkatan inflasi, khususnya kenaikan pada jenis:

Pertamax

Pertamax Turbo

Di samping itu, tantangan luar juga datang dari rambatan harga minyak dan komoditas global ke pasar domestik yang memicu terjadinya imported inflation. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kelompok harga yang diatur pemerintah. Risiko kedua yang patut diwaspadai adalah potensi cuaca ekstrem fenomena El Nino dari akhir Juni hingga Oktober atau November mendatang yang bisa menekan harga pangan bergejolak. Oleh karena itu, mata uang domestik diperkirakan akan kembali ditutup melemah pada perdagangan esok hari.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index