Kebijakan Kenaikan BI Rate 5,75 Persen Efektif Jaga Stabilitas Rupiah

Kebijakan Kenaikan BI Rate 5,75 Persen Efektif Jaga Stabilitas Rupiah
Ilustrasi bank indonesia (sumber foto: NET)

JAKARTA - Langkah Bank Indonesia dalam menaikkan suku bunga acuan sebanyak 100 basis poin pada dua bulan terakhir dianggap mampu meredam gejolak nilai tukar rupiah serta pasar keuangan dalam negeri ditengah ketidakpastian situasi global. Saat ini, BI Rate berada pada posisi 5,75%.

Kebijakan yang diambil oleh bank sentral tersebut telah menimbang berbagai situasi eksternal dan juga internal. Salah satunya adalah keputusan bank sentral Amerika Serikat yang tetap mempertahankan tingkat suku bunga yang tinggi.

Menjaga nilai tukar agar tetap stabil merupakan bagian dari tugas pokok bank sentral. Oleh sebab itu, penyesuaian pada BI Rate dilakukan dengan memperhitungkan segala macam dampak bagi ekonomi di tingkat nasional.

Langkah The Fed yang tetap menahan suku bunga pada rentang 3,25% sampai 3,5% memicu Indonesia untuk ikut menjaga jarak selisih suku bunga. Hal ini bertujuan agar pasar domestik tetap terlihat memikat bagi para investor sekaligus mengamankan sektor keuangan.

Walaupun peningkatan suku bunga ini berisiko memicu tekanan pada perputaran ekonomi dan inflasi, pihak pemerintah melihat keputusan tersebut sejauh ini mampu membuat kondisi pasar dalam negeri tetap kondusif.

“Alhamdulillah hasilnya juga cukup baik. Walaupun angkanya [Rupiah] mungkin masih Rp 17.700-Rp 17.800, tapi relatif terkendali tidak sampai ke Rp 18.000 [lagi]” ujarnya.

Kebijakan moneter dari BI ini juga dianggap ikut menyokong kekuatan pasar modal Indonesia. Terlihat dari posisi Indeks Harga Saham Gabungan yang masih sanggup bertahan di atas angka 6.000 di tengah gempuran ketidakpastian dunia.

Sinergi antara pemerintah bersama bank sentral demi mengendalikan laju inflasi juga terus berjalan secara konsisten lewat peran Tim Pengendalian Inflasi Pusat serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah.

Peningkatan suku bunga acuan secara berkala ini menjadi bentuk respons cepat atas pergerakan kondisi global yang dinamis. Peninjauan terhadap kebijakan moneter nasional pun terus dilakukan secara rutin dalam Rapat Dewan Gubernur BI.

Bank sentral dinilai mengambil posisi yang krusial dalam memperkuat stabilitas ekonomi di tingkat nasional, terutama ketika perhatian para pelaku pasar tertuju penuh pada pergerakan nilai mata uang rupiah dan laju IHSG.

“Dengan instrumen BI rate kemarin kami naikkan beberapa kali juga cukup efektif mengontrol itu,” katanya.

Pemerintah saat ini juga tengah mengamati hasil pemantauan awal dari MSCI terkait pembenahan aksesibilitas pada pasar modal Indonesia. Walaupun keputusan akhir baru akan keluar pada tanggal 23 Juni mendatang, pemerintah menaruh harapan agar bursa saham nasional tetap bertahan di dalam kelompok pasar berkembang.

“Dalam beberapa minggu, bulan ini, otoritas baik OJK, BI, kan ngebut untuk perbaikan semuanya. Di tingkat nasional dikoordinasikan betul,” ucapnya mengakhiri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index