IHSG Tertekan ke Level 6130 Jelang Efektifnya Penyesuaian Indeks MSCI

IHSG Tertekan ke Level 6130 Jelang Efektifnya Penyesuaian Indeks MSCI
ILUSTRASI. pasar saham.: (NET).

JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mengalami tekanan yang cukup berat pada penutupan perdagangan. Indeks saham domestik ini merosot sebesar 1,23% menuju posisi level 6.130,19 akibat tingginya tekanan jual oleh investor luar negeri serta adanya momentum rebalancing indeks MSCI yang berlaku pada awal bulan depan.

Langkah apresiasi yang sempat ditunjukkan oleh saham-saham besar seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Barito Renewables Energy Tbk, dan PT Barito Pacific Tbk belum mampu menahan penurunan indeks secara menyeluruh. Gerak pelemahan dari saham PT Astra International Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, serta PT Bank Central Asia Tbk justru menyeret indeks ke zona negatif.

Aktivitas pemodal asing tercatat membukukan aksi lepas saham atau jual bersih yang mencapai kisaran Rp1,89 triliun pada pasar reguler. Apabila dihitung secara keseluruhan pada seluruh sektor pasar modal, maka nilai realisasi jual bersih dari investor internasional tersebut menyentuh angka sekitar Rp1,60 triliun.

Dilihat dari kontribusi per sektor, sebagian besar lapangan usaha sektoral bergerak melemah dengan sektor industri sebagai penyumbang koreksi paling dalam. Di sisi lain, sektor infrastruktur menjadi salah satu yang masih mampu bertahan dengan mencatatkan pertumbuhan yang sangat tipis.

Kondisi pasar modal dalam negeri ini berbanding terbalik dengan situasi di bursa saham Amerika Serikat yang ditutup di zona hijau. Indeks Dow Jones terpantau bergerak dalam rentang terbatas, sedangkan indeks S&P 500 bersama dengan Nasdaq kompak mengalami kenaikan.

Para pelaku pasar kini tengah mengantisipasi potensi kelanjutan dari keluarnya dana investasi asing menjelang momentum penyusunan ulang portofolio MSCI per 1 Juni 2026. Nilai aliran dana asing yang keluar dari pasar reguler dalam dua hari terakhir saja sudah menembus angka sekitar Rp3,98 triliun, ditambah lagi dengan kondisi nilai tukar rupiah yang masih terus melemah.

Pada perkembangan pasar ini, pergerakan saham GOTO menjadi salah satu emiten yang paling diperhatikan oleh pelaku pasar. Lembaga MSCI dilaporkan mengambil langkah untuk menangguhkan seluruh penyesuaian terkait total saham yang beredar, nilai Foreign Inclusion Factor (FIF), Domestic Inclusion Factor (DIF), hingga perubahan susunan portofolio untuk emiten ini pada ulasan berkala Mei 2026.

Pihak MSCI dijadwalkan akan melakukan peninjauan ulang terhadap aspek likuiditas dari saham GOTO pada periode ulasan bulan Agustus 2026 dengan mengacu pada ketentuan Global Investable Market Indexes (GIMI). Emiten teknologi ini sendiri terpantau terus bertahan pada posisi harga Rp50 sejak pertengahan bulan ini.

Hingga kurun waktu terkini, volume perdagangan saham GOTO menyentuh angka sekitar 333 juta lembar saham dengan nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp16,67 miliar. Catatan aktivitas perdagangan ini terbilang jauh lebih sepi jika dibandingkan dengan rata-rata transaksi bulanan sepanjang awal tahun yang mampu menembus miliaran lembar saham.

Pada sektor komoditas, HRUM menetapkan target volume produksi batu bara pada kisaran 2-3 juta ton untuk tahun buku 2026. Emiten pertambangan ini juga menargetkan angka produksi sekaligus penjualan komoditas nikel dalam bentuk NPI, HG Matte, serta MHP berkisar antara 107-117 ribu ton logam pada periode tahun depan.

Dalam rangka memuluskan rencana perluasan operasional dan bisnis tersebut, HRUM telah mengalokasikan dana belanja modal senilai sekitar US$310 juta. Sebagian besar dari porsi dana tersebut akan dialokasikan untuk memperkuat bisnis nikel, sedangkan sisa anggarannya dimanfaatkan untuk pemeliharaan rutin lini bisnis batu bara.

Realisasi penggunaan belanja modal atau capex dari HRUM pada kuartal pertama tahun ini dilaporkan telah terserap hingga US$139 juta. Anggaran yang sudah terpakai tersebut digunakan secara khusus demi menyokong pembangunan proyek nikel baru serta membiayai kelancaran operasional logistik pertambangan.

Sementara itu, TAPG telah menyepakati pembagian keuntungan berupa dividen tunai untuk tahun buku 2025 dengan nilai Rp180 per lembar saham atau secara akumulatif setara dengan Rp3,57 triliun. Jumlah pembagian dividen tersebut mengambil porsi sekitar 96,43% dari total perolehan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk.

Sepanjang tahun buku 2025, TAPG berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga Rp11,40 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 17,9% dari periode tahun sebelumnya. Perolehan laba bersih perusahaan juga ikut terkerek naik sebesar 18,59% menjadi Rp3,70 triliun, yang dibarengi dengan kenaikan keuntungan per saham menjadi Rp186.

Alokasi total dividen senilai Rp180 per saham ini sudah mencakup dua kali penyaluran dividen interim yang telah dibayarkan terdahulu, masing-masing sebesar Rp39 per saham dan Rp50 per saham. Dengan demikian, sisa dividen final bersih yang akan segera dibagikan kepada pemegang saham adalah sebesar Rp91 per saham dengan nilai total sekitar Rp1,81 triliun.

Adapun jadwal penting terkait hak atas pembagian keuntungan ini telah diputuskan sebagai berikut:

Batas akhir perdagangan saham dengan hak dividen atau cum date ditetapkan jatuh pada tanggal 3 Juni 2026.

Proses realisasi pembayaran untuk dividen final terjadwal akan ditransfer langsung kepada investor pada tanggal 18 Juni 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index