Dampak Konflik Timur Tengah Bikin Rupiah Tembus Rp 17.007 per Dolar AS

Dampak Konflik Timur Tengah Bikin Rupiah Tembus Rp 17.007 per Dolar AS
ilustrasi rupiah melemah, sumber: (net).

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencatat kemerosotan yang cukup tajam ketika pasar perdagangan resmi dibuka pada awal pekan.

Mata uang Indonesia terpantau mengalami depresiasi sebesar 0,16% sehingga menyentuh posisi Rp 17.007 per dolar Amerika Serikat pada Senin pukul 09.11 WIB.

Keadaan drop ini berlangsung saat performa mata uang dari sejumlah negara mitra dagang utama justru memperlihatkan penguatan, di antaranya dolar Singapura, baht Thailand, yen Jepang, dan yuan China.

Namun situasi berbeda dialami oleh ringgit Malaysia serta peso Filipina yang ikut menunjukkan pergerakan melemah dalam rentang yang masih relatif kecil.

Ketegangan yang terus berlanjut di wilayah Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel dengan pihak Iran berimbas pada kenaikan indeks dolar Amerika Serikat hingga berada di atas level 100.

Penyebab lain yang ikut mengukuhkan kedudukan indeks mata uang Negeri Paman Sam tersebut adalah data sektor ketenagakerjaan mereka yang tumbuh kuat di atas perkiraan para pelaku pasar.

Kondisi tersebut melahirkan pandangan bahwa bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve diprediksi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi mereka untuk jangka waktu yang lebih panjang.

Berdasarkan laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls, tercipta penambahan lapangan pekerjaan yang sangat masif dan menjadi rekor tertinggi sejak akhir tahun 2024.

Pada saat yang sama, tingkat pengangguran di sana menurun secara tidak terduga ke angka 4,3% karena dipicu oleh menyusutnya jumlah partisipasi dari angkatan kerja setempat.

Hasil rilis data ekonomi menunjukkan ada penambahan sebanyak 178 ribu posisi kerja baru, jumlah ini melesat jauh dari estimasi awal para analis yang memperkirakan hanya 60 ribu posisi.

Walaupun jumlah pengangguran terkoreksi turun ke level 4,3%, laju peningkatan upah pekerja dilaporkan sudah mulai merosot secara perlahan.

Kini para investor dan pelaku pasar keuangan terus memantau rilis notulen rapat terbaru dari komite kebijakan moneter demi membaca sinyal arah langkah bank sentral selanjutnya.

Situasi geopolitik dunia juga semakin memanas setelah adanya penetapan tenggat waktu baru bagi Iran serta ancaman penyerangan ke fasilitas energi nasional jika akses Selat Hormuz tetap ditutup.

Respons keras diberikan oleh otoritas terkait yang menolak paksaan tersebut dengan kembali mengarahkan serangan udara ke pusat infrastruktur energi di kawasan sekitar, sehingga jalur laut penting itu masih terisolasi.

Bursa saham di Amerika Serikat ikut terkapar akibat gelombang aksi lepas portofolio secara besar-besaran karena kecemasan terhadap lonjakan harga komoditas minyak dan energi.

Kondisi kritis ini memicu spekulasi kuat bahwa Federal Reserve dapat mengulur waktu penurunan suku bunga acuan, atau bahkan berbalik menaikkan biaya pinjaman jika tingkat inflasi kembali melonjak tidak terkendali.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index