PPN DTP Tiket Pesawat Dinilai Mampu Redam Tekanan Inflasi

PPN DTP Tiket Pesawat Dinilai Mampu Redam Tekanan Inflasi
Ilustrasi Pesawat, Sumber: (NET).

JAKARTA - Pemberian insentif fiskal berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) bagi tiket pesawat terbang diproyeksikan mampu memitigasi tekanan inflasi. Langkah ini diambil di tengah melambungnya harga bahan bakar avtur yang dipicu oleh ketidakstabilan global serta ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kajian teranyar dari LPEM FEB UI mengungkapkan bahwa inflasi pada April 2026 masih dibayangi oleh tekanan dari sektor transportasi. Khususnya tarif penerbangan domestik yang merangkak naik menyusul lonjakan harga avtur di sejumlah bandara dalam negeri.

Meningkatnya tarif tiket pesawat kini menjadi salah satu faktor pendorong utama inflasi, baik dalam perhitungan bulanan maupun tahunan.

“Perjalanan dengan angkutan udara sangat terdampak oleh lonjakan harga avtur akibat gangguan pasokan energi global,” tulis LPEM FEB UI dalam laporannya, dikutip Minggu (17/5).

Pada periode bulanan, kelompok harga yang dikendalikan oleh pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,69 persen pada April 2026. Kontribusi paling signifikan berasal dari tarif penerbangan yang menyumbang andil sebesar 0,11 persen poin.

Tercatat bahwa tarif angkutan udara mengalami kenaikan drastis hingga 15,25 persen dalam skala bulanan.

Guna menyikapi lonjakan biaya avtur tersebut, pemerintah merilis PMK Nomor 24 Tahun 2026. Regulasi ini menghidupkan kembali fasilitas PPN DTP untuk layanan angkutan udara niaga berjadwal domestik khusus kelas ekonomi.

Aturan baru mengenai insentif pajak angkutan udara tersebut resmi diimplementasikan mulai tanggal 27 April 2026.

Pihak LPEM UI berpendapat bahwa strategi tersebut berpeluang besar dalam mempertahankan kekuatan belanja masyarakat. Sekaligus mengendalikan laju inflasi yang bersumber dari lini transportasi.

Kendati demikian, tantangan inflasi dari pos energi diperkirakan belum benar-benar surut. Selain persoalan avtur, harga komoditas BBM non-subsidi juga mengalami pergeseran sepanjang April hingga Mei 2026.

Situasi penyesuaian harga energi ini diprediksi bisa memicu pembengkakan biaya logistik serta jalur distribusi barang untuk beberapa bulan ke depan.

Data dari LPEM UI turut memperlihatkan adanya tren penurunan pada pergerakan masyarakat yang menggunakan moda transportasi udara. Angka keterisian penumpang pesawat pada April 2026 merosot 20,14 persen jika dikomparasikan dengan masa yang sama di tahun lalu.

Kelesuan jumlah penumpang ini merepresentasikan mulai melemahnya kemampuan finansial publik akibat ongkos penerbangan yang terlampau tinggi.

Secara kumulatif, realisasi inflasi April 2026 berada di angka 2,42 persen untuk tahunan dan 0,13 persen secara bulanan. Angka ini menunjukkan grafik penurunan dibanding periode terdahulu seiring selesainya momen Ramadan dan Idulfitri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index