Tertekan Yield Obligasi, Harga Perak Spot Anjlok ke Area $73,11

Tertekan Yield Obligasi, Harga Perak Spot Anjlok ke Area $73,11
perak

JAKARTA – Pasar logam mulia baru saja menyaksikan momentum yang cukup berat bagi komoditas perak yang harus merelakan posisinya di papan perdagangan. Pelemahan ini membawa harga perak tersungkur ke titik terendah dalam kurun waktu tiga minggu terakhir akibat tekanan eksternal yang sangat masif.

Kondisi tersebut dipicu oleh dominasi mata uang dolar AS yang kian perkasa serta lonjakan imbal hasil obligasi global secara serentak. Kombinasi kedua faktor ini menciptakan lingkungan yang kurang bersahabat bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti logam mulia.

Pada penutupan perdagangan terbaru, harga perak spot terpantau berakhir merosot tajam sebesar 3,18% dan bertengger di level $73,11. Penurunan ini mencerminkan betapa kuatnya aksi jual yang terjadi di pasar fisik sepanjang sesi perdagangan berlangsung.

Setali tiga uang, kontrak berjangka juga tidak mampu menahan gelombang tekanan yang datang dari sentimen makroekonomi global. Harga perak berjangka AS kontrak Mei 2026 berakhir merosot 2,41% pada $73,21.

Ada faktor lain yang turut memperkeruh suasana perdagangan, yakni lonjakan harga minyak mentah yang melesat hingga 3% pada hari Selasa. Kenaikan drastis komoditas energi ini terjadi menyusul penutupan Selat Hormuz yang hingga kini masih berlangsung tanpa kepastian.

Kondisi ini secara otomatis memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi di mata para pelaku pasar internasional. Investor mulai khawatir bahwa lonjakan biaya energi ini akan memaksa bank sentral di berbagai belahan dunia untuk mengambil langkah drastis.

Kenaikan inflasi tersebut dapat mendorong bank sentral dunia untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat, yang secara historis menjadi faktor bearish bagi logam mulia. Kebijakan suku bunga tinggi biasanya membuat investor lebih memilih aset produktif dibandingkan menyimpan perak.

Namun, di tengah awan mendung tersebut, masih ada secercah harapan yang menjaga harga agar tidak jatuh lebih dalam lagi. Geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran memberikan sedikit bantalan bagi harga komoditas ini.

Ketegangan yang masih berlangsung antara kedua negara tersebut berdampak positif terhadap permintaan logam mulia sebagai aset safe-haven. Status perak sebagai penjaga nilai di masa krisis kembali diuji di tengah ketidakpastian keamanan jalur perdagangan laut.

Pasar terus memantau situasi di Timur Tengah karena AS dan Iran sama-sama mempertahankan blokade Selat Hormuz yang sangat krusial. Hal ini menciptakan dilema bagi investor antara menghindari risiko atau mengikuti tren penguatan dolar.

"Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga perak dapat bergerak naik jika harga minyak menurun," sebagaimana dilansir dari vibiznews.com, Rabu (29/04). Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa korelasi antara energi dan logam mulia saat ini sangatlah erat.

Selain faktor minyak, para pengamat juga melihat adanya celah penguatan jika kondisi keamanan dunia semakin memburuk. Harga perak bisa naik jika permintaan safe haven meningkat, seiring masih berlangsungnya ketegangan AS-Iran.

Jika melihat dari sisi teknikal, pergerakan harga saat ini sedang menguji batas-batas krusial yang telah dipetakan oleh para ahli. Volatilitas diprediksi masih akan tetap tinggi mengikuti perkembangan berita politik dan ekonomi terbaru.

Untuk perdagangan di pasar fisik, harga perak spot diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $74,24-$72,79. Area ini menjadi benteng pertahanan bagi para pembeli untuk menahan kejatuhan harga lebih lanjut.

Namun, apabila sentimen pasar berbalik menjadi positif, perak berpotensi melakukan rebound dalam waktu dekat. Jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $76,88-$78,07 sesuai dengan proyeksi pasar saat ini.

Di sisi lain, para pemain di pasar derivatif juga harus memperhatikan level-level kunci agar tidak terjebak dalam fluktuasi yang merugikan. Margin perdagangan kemungkinan akan tetap ketat seiring dengan perubahan imbal hasil obligasi pemerintah.

Harga perak berjangka AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $71,38-$69,55 pada sesi perdagangan mendatang. Level ini dianggap sebagai titik jenuh jual yang mungkin memicu aksi beli kembali oleh para spekulan.

Jika fundamental ekonomi mulai melunak dan dolar sedikit melemah, peluang untuk pemulihan harga masih terbuka lebar bagi para trader. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $75,60-$77,99.

Saat ini, fokus utama pasar tetap tertuju pada bagaimana bank sentral merespons ancaman inflasi dari sektor energi yang belum mereda. Setiap pernyataan dari pejabat moneter akan sangat menentukan arah gerak perak di sisa pekan ini.

Dinamika yang terjadi di Selat Hormuz tetap menjadi variabel liar yang sulit diprediksi arah perkembangannya secara akurat. Investor disarankan untuk tetap waspada dan memperhatikan manajemen risiko di tengah ketidakpastian global yang masih menyelimuti pasar logam mulia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index