PERTAMBANGAN

Kolaborasi Industri Jadi Kunci Perkuat Pertambangan Berkelanjutan di Indonesia

Kolaborasi Industri Jadi Kunci Perkuat Pertambangan Berkelanjutan di Indonesia
Kolaborasi Industri Jadi Kunci Perkuat Pertambangan Berkelanjutan di Indonesia

JAKARTA - Lubrizol bersama PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) sebagai founding partner menggelar dialog industri yang menyoroti urgensi kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk mempercepat penerapan pertambangan berkelanjutan di Indonesia. Forum ini menjadi ajang untuk membahas tantangan operasional, lingkungan, dan sosial yang saling terkait di sektor pertambangan serta mencari titik temu solusi bersama.

Pergeseran Paradigma di Sektor Pertambangan

Meningkatnya tekanan global terhadap isu lingkungan dan sosial membuat praktik pertambangan berkelanjutan menjadi perhatian serius di Indonesia. Dalam acara dialog industri yang digagas Lubrizol dan VKTR, para pelaku industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan lain berdiskusi mengenai bagaimana praktik keberlanjutan bisa diterapkan secara efektif di lapangan. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan pencapaian komitmen kebijakan nasional, tetapi juga sejalan dengan tuntutan rantai pasok global yang semakin memperhatikan aspek efisiensi energi, keselamatan kerja, dan dampak sosial.

Inisiatif yang dikenalkan dalam dialog ini adalah Alliance for Sustainable Mining Operations, sebuah platform kolaboratif bertujuan menciptakan sinergi praktik pertambangan yang lebih terkoordinasi. Aliansi ini dibentuk sebagai respons atas kompleksnya tantangan keberlanjutan yang tidak bisa diatasi oleh satu pihak saja.

Empat Pilar Dasar Penguatan Keberlanjutan

Dalam peluncuran Alliance for Sustainable Mining Operations, Lubrizol dan VKTR menekankan empat pilar utama sebagai fokus strategi implementasi. Pilar pertama adalah pembangunan kapabilitas SDM untuk memastikan tenaga kerja dan manajemen tambang memiliki pemahaman kuat tentang praktik keberlanjutan modern. Teknologi menjadi pilar kedua, yakni adopsi dan inovasi teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menekan dampak lingkungan.

Pilar ketiga berkaitan dengan peningkatan infrastruktur, terutama yang berhubungan dengan efisiensi proses, pengolahan air, dan manajemen bahan kimia. Pilar terakhir adalah pengembangan masyarakat lokal melalui pendidikan dan pelatihan, demi menjamin manfaat keberlanjutan dirasakan secara luas oleh komunitas sekitar tambang.

Tantangan dan Peluang di Lapangan

Meski berbagai kebijakan mendukung keberlanjutan sudah ada, tantangan implementasi nyata masih besar di lapangan. Variasi kondisi operasional tambang di berbagai daerah serta perbedaan kapasitas sumber daya menjadi hambatan utama. Diskusi dalam dialog ini menyoroti pentingnya harmonisasi perspektif antara regulator, perusahaan tambang, dan masyarakat lokal.

Chief of Corporate Affairs VKTR, Indah Permatasari Saugi, menyatakan bahwa pandangan dunia usaha tentang keberlanjutan kini mulai berubah; dari yang semula hanya dipandang sebagai kewajiban tambahan, kini mulai dilihat sebagai bagian integral dari strategi bisnis. Perubahan mindset ini dinilai penting untuk mendorong pelibatan aktif pelaku industri dalam inisiatif keberlanjutan yang nyata.

Peran Sektor Swasta dan Regulator

Dialog ini juga menandai langkah awal keterlibatan sektor swasta secara lebih sistematis dalam agenda keberlanjutan pertambangan. Perusahaan seperti Lubrizol dan VKTR mengambil peran proaktif dengan menginisiasi aliansi dan green paper sebagai dokumen awal yang diharapkan menjadi referensi bersama.

Green Paper yang diluncurkan dalam forum tersebut memetakan area fokus utama sekaligus arah peta jalan (roadmap) yang dapat dijadikan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak bersama. Ke depannya, aliansi ini tetap terbuka untuk diperluas dengan masukan dari industri serta mitra lain agar basis keberlanjutan yang terbentuk lebih inklusif dan adaptif.

Peran regulator juga dinilai krusial dalam menciptakan kerangka kerja yang jelas dan konsisten agar investasi dan praktik keberlanjutan dapat berjalan tanpa hambatan birokrasi. Hal ini sejalan dengan tren global di mana negara-negara yang berhasil menerapkan praktik pertambangan yang berwawasan lingkungan mampu menarik lebih banyak investasi dan memperkuat posisi mereka dalam rantai nilai global.

Mendorong Implementasi di Seluruh Rantai Nilai

Lebih jauh, keberlanjutan pertambangan tidak hanya berkaitan dengan operasi di tambang itu sendiri tetapi juga bagaimana hasil tambang diolah, didistribusikan, dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di seluruh rantai nilai industri pertambangan menjadi tema sentral dalam diskusi ini.

Partisipasi semua pihak, mulai dari perusahaan besar, usaha kecil menengah yang bergerak di sektor penunjang, hingga komunitas lokal dinilai mampu menciptakan ekosistem pertambangan yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.

Langkah Selanjutnya dan Harapan

Aliansi yang baru dibentuk ini diharapkan menjadi platform jangka panjang untuk mendorong praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab dan terukur. Melalui kolaborasi ini, diharapkan target keberlanjutan tidak hanya menjadi jargon, tetapi terwujud dalam praktik nyata yang memberikan manfaat merata.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index