LOGISTIK

Dua Jembatan di Aceh Rampung, Pemulihan Logistik dan Aktivitas Warga Kembali Normal

Dua Jembatan di Aceh Rampung, Pemulihan Logistik dan Aktivitas Warga Kembali Normal

JAKARTA - Pemulihan pascabencana di Aceh menunjukkan kemajuan signifikan setelah dua jembatan strategis yang sempat terdampak banjir bandang akhirnya kembali dapat difungsikan. Kehadiran jembatan darurat dan jembatan lintas utama ini menjadi titik balik bagi kelancaran arus logistik, mobilitas masyarakat, serta pemulihan aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah yang sebelumnya terisolasi. Akses jalan nasional yang menghubungkan Banda Aceh dan Medan kini kembali tersambung, mengakhiri hambatan distribusi yang terjadi sejak akhir November 2025.

Jalur Nasional Banda Aceh–Medan Kembali Terhubung

Putusnya jalur nasional Banda Aceh–Medan akibat banjir bandang pada 27 November 2025 sempat menimbulkan dampak besar bagi distribusi barang dan mobilitas masyarakat. Jalur ini merupakan salah satu urat nadi utama transportasi darat di Aceh, sehingga kerusakan infrastruktur langsung dirasakan oleh masyarakat lintas kabupaten.

Kini, jalur tersebut kembali terhubung melalui Jembatan Bailey Krueng Tingkeum di Kabupaten Bireuen. Jembatan darurat ini menjadi solusi cepat untuk memulihkan konektivitas, khususnya bagi kendaraan logistik yang membawa kebutuhan pokok. Keberadaan jembatan tersebut membuat arus lalu lintas yang sebelumnya terhambat kembali bergerak, sekaligus mengurangi risiko keterlambatan distribusi barang.

Pembangunan Jembatan Bailey Rampung dalam Waktu Singkat

Jembatan Bailey Krueng Tingkeum dibangun langsung oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk bekerja sama dengan kontraktor lokal PT Krueng Meuh. Pembangunan jembatan darurat sepanjang lebih dari 60 meter ini diselesaikan dalam waktu relatif singkat, yakni 18 hari.

Proses pengerjaan melibatkan 33 personel Zeni Kodam Iskandar Muda yang bekerja secara intensif di lapangan. Infrastruktur ini dirancang dengan kapasitas beban hingga 30 ton sehingga dapat dilalui kendaraan roda dua, kendaraan pribadi, hingga truk logistik. Dengan spesifikasi tersebut, jembatan mampu mengakomodasi kebutuhan distribusi barang dalam jumlah besar yang sangat dibutuhkan pascabencana.

Bagi masyarakat Bireuen dan wilayah sekitarnya, jembatan ini menjadi simbol bangkitnya kembali produktivitas. Akses pasar lintas daerah kembali terbuka, distribusi kebutuhan pokok yang sempat tersendat mulai berangsur normal, dan layanan publik dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Pemulihan Infrastruktur Jadi Pondasi Kebangkitan Ekonomi

Direktur Utama ADHI, Moeharmein Zein Chaniago, menegaskan bahwa pemulihan akses infrastruktur merupakan pondasi utama dalam proses pemulihan pascabencana. Menurutnya, ketika jalan dan jembatan kembali berfungsi, maka distribusi bantuan, aktivitas ekonomi, dan layanan publik dapat bergerak secara bersamaan.

"Percepatan pemulihan dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab perseroan dalam menjalankan penugasan negara," kata Zein dalam keterangan tertulis, Rabu (22 Januari 2026).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur darurat bukan sekadar proyek teknis, melainkan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Kembalinya fungsi jembatan memungkinkan roda perekonomian daerah berputar kembali setelah sempat melambat akibat keterisolasian wilayah.

Jembatan Krueng Meureudu di Pidie Jaya Kembali Fungsional

Selain di Kabupaten Bireuen, pemulihan infrastruktur juga berlangsung di Kabupaten Pidie Jaya. Jembatan Krueng Meureudu yang menghubungkan lintas timur Aceh telah kembali fungsional setelah penanganan darurat rampung pada 12 Desember 2025.

Jembatan ini memiliki peran penting sebagai penghubung antarwilayah di kawasan timur Aceh. Dengan kembalinya fungsi jembatan, arus kendaraan dan distribusi barang dari dan menuju Pidie Jaya dapat berjalan normal. Hal ini sekaligus mengurangi beban jalur alternatif yang sebelumnya harus digunakan selama masa perbaikan.

Mobilisasi Alat Berat dan Dukungan Pemerintah Pusat

Tidak hanya membangun jembatan, ADHI juga memobilisasi alat berat ke sejumlah titik kritis di Aceh sejak akhir November 2025. Excavator dan dump truck dikerahkan ke berbagai wilayah seperti Aceh Tamiang, ruas Blangkejeren–Kutacane, Bireuen–Takengon, hingga Pidie. Alat berat tersebut digunakan untuk membuka akses jalan, membersihkan material longsor, serta menyiapkan lahan bagi pembangunan infrastruktur darurat.

Di tingkat nasional, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) turut memberikan dukungan besar dalam pemulihan konektivitas pascabencana. Sekitar 1.400 personel dan 1.854 unit alat berat dikerahkan untuk mendukung perbaikan infrastruktur di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa percepatan perbaikan infrastruktur menjadi prioritas utama pemerintah setelah bencana, agar tidak ada wilayah yang terputus dari akses layanan dan logistik.

"Upaya itu difokuskan pada pembukaan akses transportasi dan pengamanan alur sungai, dengan dukungan alat berat serta koordinasi lintas sektor agar penanganan berjalan cepat dan efektif," kata Dody.

Dengan rampungnya dua jembatan utama ini, Aceh memasuki fase penting dalam pemulihan pascabencana. Konektivitas yang kembali terjaga tidak hanya memperlancar arus logistik, tetapi juga menjadi fondasi bagi kebangkitan ekonomi, layanan publik, dan aktivitas sosial masyarakat di wilayah terdampak.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index