JAKARTA - Pemerintah terus mencari cara berkelanjutan untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak di tengah tantangan fluktuasi pasar.
Salah satu pendekatan yang kini menjadi fokus utama adalah penguatan hilirisasi sektor peternakan, khususnya komoditas ayam, melalui sistem terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Skema ini dinilai mampu memotong rantai distribusi yang panjang serta mengurangi ketergantungan peternak pada mekanisme pasar bebas yang kerap merugikan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa hilirisasi ayam terintegrasi merupakan langkah strategis untuk membangun ekosistem peternakan yang lebih adil dan berdaya saing.
Program ini tidak hanya menyasar peningkatan produksi, tetapi juga memastikan kepastian usaha bagi peternak rakyat serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Hilirisasi Terintegrasi untuk Pemberdayaan Peternak
Menurut Mentan Amran, program hilirisasi ayam terintegrasi yang dikembangkan di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, dirancang untuk memberikan manfaat langsung kepada peternak lokal.
Dengan sistem terintegrasi, peternak tidak lagi menanggung sendiri beban biaya produksi yang tinggi dan risiko fluktuasi harga yang tidak menentu.
“Program hilirisasi ayam terintegrasi salah satunya di Kabupaten Bone akan memberikan keuntungan langsung bagi peternak sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Mentan Amran.
Ia menjelaskan bahwa program ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan hilirisasi sebagai program strategis nasional.
Melalui hilirisasi, pemerintah ingin menciptakan kepastian usaha, meningkatkan daya saing, serta menyejahterakan peternak dengan memastikan ketersediaan sarana produksi utama secara terjangkau.
Peran Negara Menjamin Akses Bibit dan Pakan
Salah satu persoalan utama yang dihadapi peternak ayam selama ini adalah mahalnya harga bibit atau Day Old Chick (DOC) dan pakan. Kondisi tersebut membuat margin keuntungan peternak semakin tipis.
Oleh karena itu, Kementerian Pertanian menghadirkan negara secara langsung untuk memastikan akses terhadap DOC dan pakan dengan kualitas dan harga yang terjamin.
“Kita ingin BUMN masuk untuk menjamin harga Day Old Chick (DOC), pakan, pullet dan terjamin kualitas serta kuantitasnya dengan harga yang membuat peternak bahagia dan untung. Ini juga diharapkan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Inilah program Presiden RI,” terang Andi Amran.
Melalui keterlibatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pemerintah berupaya memutus praktik pasar yang tidak sehat sekaligus menciptakan sistem usaha peternakan yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Kunjungan Lapangan dan Kesiapan Kawasan Peternakan
Komitmen tersebut ditunjukkan Mentan Andi Amran Sulaiman melalui kunjungan kerja ke Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone.
Dalam kesempatan itu, ia didampingi Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Agung Suganda untuk meninjau langsung kesiapan kawasan yang akan dikembangkan sebagai pusat peternakan unggas nasional.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman dan Bupati Bone Andi Asman Sulaiman. Kehadiran pemerintah pusat dan daerah menunjukkan kuatnya sinergi dalam mendorong keberhasilan program hilirisasi ayam terintegrasi.
Menurut Amran, keterlibatan semua pihak menjadi faktor penting agar sistem terintegrasi dapat berjalan optimal, mulai dari pembibitan, budidaya, pengolahan, hingga distribusi hasil ternak.
Model Produksi Modern dan Pengendalian Inflasi
Hilirisasi ayam terintegrasi diharapkan menjadi model produksi modern yang mampu menjawab tantangan industri peternakan nasional.
Dengan sistem satu rantai, seluruh proses produksi dapat dikendalikan secara efisien, sehingga biaya dapat ditekan dan kualitas produk terjaga.
“Hilirisasi ayam terintegrasi ini diharapkan menjadi model produksi modern di mana proses pembibitan, pakan, budidaya, pengolahan, serta distribusi bisa berjalan dalam satu sistem,” kata Mentan Amran.
Ia menambahkan bahwa penurunan biaya produksi, khususnya pada pakan dan bibit, akan berdampak langsung pada stabilitas harga ayam di pasar. Dengan demikian, program ini juga berfungsi sebagai instrumen pengendali inflasi pangan.
“Sekarang kita bisa swasembada, petani bahagia, harga HPP baik, stoknya banyak. Arah kita jelas, semua komoditas pertanian harus berdaulat. Ini adalah pengendali inflasi terbaik, karena nanti harga pakan turun, DOC turun,” ujarnya.
Dampak Ekonomi dan Lapangan Kerja
Selain meningkatkan kesejahteraan peternak, hilirisasi ayam terintegrasi juga diharapkan menciptakan dampak ekonomi yang luas. Sistem ini membuka peluang kerja baru, baik di sektor hulu seperti pembibitan dan pakan, maupun di sektor hilir seperti pengolahan dan distribusi.
Dengan biaya produksi yang lebih rendah dan kepastian pasar yang lebih baik, peternak dapat meningkatkan skala usaha secara berkelanjutan. Kualitas daging ayam nasional pun diharapkan meningkat, sehingga mampu bersaing di pasar domestik maupun regional.
“Kita bergerak dari hulu, lalu hilirnya menyentuh seluruh peternak di Indonesia. Kalau peternak sejahtera, negara akan kuat,” ucap Andi Amran.
Dukungan Daerah untuk Peternakan Nasional
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyatakan kesiapan penuh mendukung proyek ini. Gubernur Andi Sudirman Sulaiman menilai hilirisasi ayam terintegrasi akan memperkuat posisi Sulsel sebagai pusat pengembangan peternakan nasional serta penggerak ekonomi pedesaan.
“Sulawesi Selatan siap menjadi lumbung dan pusat pengembangan peternakan nasional. Proyek hilirisasi ini akan memperkuat ekosistem peternakan, meningkatkan daya saing daerah, serta memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat,” jelas Andi Sudirman.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BUMN, program hilirisasi ayam terintegrasi diyakini menjadi langkah konkret negara dalam membangun sistem peternakan yang efisien, berkelanjutan, dan berpihak pada peternak.