Meta Ray-Ban Display Setahun Kemudian: Canggih, Tapi Masih Terasa Setengah Jadi

Kamis, 17 September 2026 | 13:11:00 WIB

BULETINFINANSIAL.COM — Meta Ray-Ban Display sudah setahun beredar dengan harga USD 799, tetapi jumlah aplikasi yang tersedia baru 26 buah. Bagi calon pembeli di Indonesia, kacamata pintar ini masih lebih tepat disebut gadget mahal ketimbang perangkat sehari-hari. Meta disebut terus memperbarui perangkat kerasnya, namun ekosistem pengembangnya jalan di tempat.

Meta memperkenalkan Ray-Ban Display di ajang Meta Connect tahun lalu. Perangkat itu bukan versi penuh dari kacamata AR Orion yang sempat dipamerkan, melainkan kompromi agar bingkainya tetap enak dipakai dan harganya masuk akal. Setahun berjalan, pertanyaan besarnya belum berubah: apakah pembelian ini sepadan, atau sebaiknya menunggu generasi berikutnya?

Layar Satu Mata Jadi Pembeda Utama

Ray-Ban Display dijual USD 799 dan tersedia di toko seperti Best Buy. Kacamata ini mendukung rentang resep lensa yang sempit, jadi pastikan resep mata sudah diisi saat memesan. Lensa tidak bisa ditukar dengan mudah setelah pesanan masuk.

Layar hanya tertanam di lensa kanan. Tujuannya menekan bobot dan konsumsi baterai. Panelnya berwarna penuh, tanpa distorsi atau kebocoran cahaya seperti yang sering muncul di kacamata sejenis.

Teknologi waveguide buatan Lumus membuat tampilan itu tetap privat. Orang lain tidak bisa melihat isi layar, bahkan bila wajahnya ditempelkan ke sisi luar lensa.

Integrasi WhatsApp dan Instagram Jadi Nilai Jual

Perangkat lunak Meta jauh lebih matang dibanding platform kacamata pintar lain yang pernah dicoba. Kacamata ini terhubung langsung dengan layanan kebugaran populer seperti Garmin dan Strava, sekaligus mendukung aplikasi Meta seperti WhatsApp dan Instagram.

Membaca pesan, menavigasi jalan, memeriksa notifikasi, dan mengatur musik termasuk tugas yang paling mulus dijalankan. Kamera bawaannya juga tajam, dan pengguna bisa memperbesar lewat viewfinder — fitur yang tidak ada di kacamata Meta AI tanpa layar.

Menelusuri feed Instagram di layar memang terasa baru. Namun karena tampilannya hanya di satu mata, aktivitas ini cepat melelahkan. Layarnya sangat terang, bahkan di bawah sinar matahari langsung, tetapi penglihatan monokuler tetap mengganggu untuk sebagian tugas.

Pembaruan Perangkat Lunak Datang, Aplikasi Tetap Seret

Saat diluncurkan, Ray-Ban Display terasa seperti produk beta. Fitur pengenalan tulisan tangan yang sempat dipamerkan Mark Zuckerberg di atas panggung bahkan belum ikut dikirim. Setahun kemudian, fitur itu dan janji-janji lain sudah tersedia, plus beberapa tambahan yang tidak pernah dipromosikan.

Tambahan favorit sejauh ini adalah dukungan aplikasi. Sayangnya ada syarat besar: semua aplikasi butuh koneksi ke ponsel dan harus dipasang lewat panel UI beta di aplikasi Meta AI. Cara termudah menemukannya adalah lewat situs Meta Glasses Apps, yang memberi kode QR untuk dipindai.

Masalahnya, aplikasi yang tersedia baru 26 buah. Meta jelas kesulitan meyakinkan pengembang untuk membuat konten bagi kacamata ini, sama seperti ketika mereka membujuk pengembang menghadirkan aplikasi 2D untuk headset Quest.

Di situlah letak persoalan intinya. Meta berulang kali membuktikan diri mampu merawat produk perangkat kerasnya lewat pembaruan rutin. Namun menggaet pengembang untuk ekosistemnya tetap jadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Neural Band: Sisi Terbaik Sekaligus Terburuk

Neural Band wajib dipakai untuk berinteraksi dengan hampir seluruh antarmuka Ray-Ban Display. Gelang ini bisa dibilang bagian paling cemerlang dari keseluruhan paket. Pengguna tidak perlu menunjuk atau mengangkat tangan ke udara.

Kendali yang diberikannya atas UI melayang di depan mata tergolong luar biasa. Umpan balik haptic di setiap interaksi membuat pengalaman terasa lebih nyata. Gelang ini semacam layar sentuh bagi dunia kacamata pintar.

Responsnya cepat dan nyaris tidak pernah meleset. Interaksi dilakukan lewat gestur yang dibaca dari gerakan otot dan sinyal listrik. Menjawab pesan dengan menulis menggunakan jari, atau mengatur volume lewat kenop tak kasatmata, akan terasa mengejutkan saat pertama dicoba.

Konstruksi kainnya nyaman, berbeda dari jam tangan yang sering mengiritasi pergelangan. Meski begitu, gelang ini tetap harus diisi daya setiap hari. Pengisinya memakai charger khusus yang tidak kompatibel dengan perangkat lain.

Kalau charger itu hilang, kacamata tidak bisa dipakai sampai charger ditemukan atau yang baru dibeli. Baterainya memang sedikit lebih tahan lama daripada kacamatanya, tetapi tetap butuh pengisian harian.

Belum Layak Dibeli Kebanyakan Orang

Jawaban singkatnya: tidak. Sebagian besar orang sebaiknya belum membeli kacamata ini. Kemampuannya memang jauh di atas kacamata Meta AI biasa, tetapi alasan bagi pengguna umum untuk merogoh kocek dua kali lipat atau lebih masih terlalu sedikit.

Meta membangun fondasi yang menarik di sini. Perangkat ini bisa jadi cetak biru bagi kacamata pintar mendatang yang lebih ringan, bingkainya lebih tipis, baterainya lebih awet, dan fungsinya lebih banyak.

Untuk sekarang, Ray-Ban Display lebih pantas disebut mainan teknologi yang mengesankan. Bukan perangkat yang perlu buru-buru dimiliki, terutama bagi pengguna di Indonesia yang belum mendapat dukungan resmi dan layanan purnajualnya.

Terkini