DBS Sebut 3 Tren Ubah Industri Otomotif, dari Elektrifikasi ke AI

Rabu, 16 September 2026 | 13:09:00 WIB

BULETINFINANSIAL.COM — Bank DBS Indonesia mencatat tiga tren besar yang mengubah daya saing industri otomotif nasional, mulai dari elektrifikasi, lokalisasi rantai pasok, hingga pemanfaatan AI dan data. Ketiganya disampaikan dalam diskusi bertajuk "Building a Resilient Automotive Ecosystem Beyond EV Amid Global Supply Chain Shift" yang digelar CNBC Indonesia bersama DBS, Kamis (17/9/2026).

Direktur Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Antonius Sehonamin, menilai kapasitas produksi saja tidak lagi cukup menjadi penentu daya saing pemain otomotif. Adaptasi teknologi dan efisiensi operasional disebutnya kini sama menentukan.

"Kami melihat ada transisi di industri otomotif di semua level, ada faktor-faktor yang mempengaruhi baik dari elektrifikasi, affordability, economics productivity, utilisasi, dan operational efficiency," ujar Antonius dalam acara tersebut.

Elektrifikasi, Lokalisasi, dan AI Jadi Penentu Daya Saing

Dari sisi competitiveness, DBS memetakan tiga tren yang tengah membentuk arah industri. Pertama, elektrifikasi kendaraan. Kedua, lokalisasi rantai pasok. Ketiga, pemanfaatan kecerdasan buatan, data, dan teknologi.

Antonius menyoroti modal Indonesia di sektor hulu, terutama nikel dan tembaga, sebagai bekal hilirisasi otomotif nasional. Namun ia menekankan pentingnya membangun ekosistem yang utuh, bukan hanya di manufaktur.

"Untuk itu semua kami melihat bahwa ada tiga, jadi harus ada investasi, ada kapabilitas, dan harus ada pengembangan ekosistem," ungkapnya.

Ekosistem yang dimaksud mencakup rantai nilai end-to-end: manufaktur canggih, sektor baterai, penyimpanan energi, produksi baterai, hingga daur ulangnya.

Dari Just-in-Time ke Just-in-Scale

DBS juga mencatat pergeseran pendekatan manajemen rantai pasok otomotif. Konsep just-in-time dinilai mulai ditinggalkan menuju apa yang Antonius sebut sebagai just-in-scale.

Pendekatan baru ini lebih antisipatif dan berorientasi pada optimalisasi untuk membangun resiliensi, baik dalam manajemen inventori, rantai pasok, maupun kapasitas manufaktur lokal.

Pergeseran itu mendorong perlunya alokasi modal yang matang, untuk kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang. Investasi dan modal kerja perusahaan otomotif menjadi dua pos yang paling terpengaruh.

DBS Bidik Peran Mitra Bank Ekosistem Otomotif

Antonius menegaskan industri otomotif perlu dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem, bukan segmen-segmen terpisah. Di titik ini perbankan disebut punya peran menopang seluruh rantai nilai.

"Bagi DBS, kami mau jadi banking partner dari para pemain-pemain," katanya.

DBS memetakan rantai bisnis otomotif dari sektor hulu, produsen kendaraan (OEM), hingga distributor dan diler. Selain solusi perbankan yang komprehensif, DBS menyebut keunggulan konektivitas regional sebagai nilai tambah untuk mendukung transaksi lintas negara pelaku industri di Indonesia.

Bagi pelaku usaha otomotif, tiga tren yang dipetakan DBS memberi sinyal bahwa keputusan investasi tidak lagi semata soal volume produksi. Kesiapan teknologi, kedalaman rantai pasok lokal, dan akses pendanaan jangka panjang menjadi tiga variabel yang bakal menentukan posisi mereka di pasar.

Terkini