Momentum Rupiah dan Bayang-Bayang Harga Minyak USD100 per Barel

Senin, 14 September 2026 | 11:39:30 WIB
Ilustrasi Rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Penguatan rupiah mulai menghadapi tantangan baru sesudah harga minyak kembali menembus USD100 per barel.

Beberapa pengamat menilai rupiah masih mengantongi ruang buat menguat dalam jangka pendek, namun lonjakan harga minyak sanggup kembali menekan mata uang Garuda menerusi jalur fiskal serta neraca eksternal.

Ekonom Indo Premier Sekuritas dari sumbernya dalam riset 10 September 2026 mencatat rupiah sudah menguat menuju rentang Rp17.500 per USD, atau melonjak 1,2 persen secara month-to-date (MTD), melampaui penguatan valuta Asia yang menyentuh 0,5 persen.

Penguatan itu terjadi seiring membaiknya sentimen beserta pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan analisis Indo Premier, penguatan rupiah turut ditopang oleh fundamental dan perbaikan sentimen, mencakup terjaminnya batas defisit fiskal 2026, patokan defisit 2027 yang makin rendah, serta minimnya kejutan kebijakan.

Namun, kenaikan harga minyak ke kisaran USD100 per barel kembali menjadi perhatian.

Indo Premier menganggap, jikalau harga minyak bertahan pada posisi tersebut hingga penutupan 2026, guncangan atas anggaran negara berpeluang meningkat dan pada akhirnya memberatkan rupiah.

Ancaman tersebut utamanya bersumber dari kebutuhan subsidi serta kompensasi energi.

Pada pembaruan anggaran di bulan Juli 2026, pemerintah telah menaikkan alokasi subsidi dan kompensasi energi sejumlah Rp132 triliun menjadi Rp470 triliun, berlandaskan asumsi harga Indonesian Crude Price (ICP) sebesar USD83 per barel.

Indo Premier memprediksi, apabila harga minyak bertahan kisaran USD100 per barel hingga akhir tahun, rata-rata harga minyak 2026 sanggup menyentuh kisaran USD91 per barel.

Pada skenario itu, kompensasi bahan bakar saja berpotensi menyentuh Rp284 triliun, atau kisaran Rp41 triliun di atas anggaran kompensasi yang telah disesuaikan.

Situasi itu, belum memperhitungkan tambahan kompensasi listrik, berpeluang mendorong defisit fiskal 2026 menembus sekitar 3 persen atas produk domestik bruto (PDB).

Tekanan tersebut turut menyita perhatian ekonom CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) dari sumbernya.

Dalam risetnya, yang rilis pada 10 September 2026, dari sumbernya menilai penguatan rupiah saat ini merupakan proses mean reversion pascadepresiasi tajam pada paruh awal 2026.

Rupiah malah dinilai masih amat undervalued.

Merujuk kerangka real effective exchange rate (REER), CGSI mengestimasi rupiah sempat undervalued sampai 12 persen pada Juli 2026, posisi yang disebut sebagai yang paling dalam sepanjang lebih dari satu dekade.

Kondisi tersebut, ditambah stabilnya arah kebijakan dalam negeri, menopang rupiah bertahan merespons pelbagai guncangan luar negeri, termasuk lonjakan harga minyak Brent di atas USD100 per barel, kenaikan imbal hasil global, dan ekspektasi pengetatan kebijakan Federal Reserve.

CGSI menganggap penguatan rupiah belakangan ini disokong oleh beberapa unsur, mulai dari pelemahan indeks dolar AS (DXY), berujungnya faktor musiman pembayaran dividen, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), suksesi kepemimpinan BI yang dinilai kredibel, sampai arah fiskal yang makin stabil.

Aliran modal menuju surat utang pemerintah juga ikut menyokong, seiring meredanya ketidakpastian domestik serta menariknya valuasi aset Indonesia.

Pada momen yang sama, CGSI mencatat penguatan rupiah atas dolar AS telah berlangsung selama enam pekan secara beruntun.

Rupiah berada kisaran 3,5 persen lebih perkasa dari posisi terlemahnya tahun ini, walau masih terkoreksi 4,5 persen secara year-to-date.

Kendati demikian, CGSI mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak yang bertahan lama dapat kembali memperlebar defisit kembar (twin deficit), yakni defisit transaksi berjalan dan fiskal.

Berdasarkan proyeksinya, saban kenaikan harga minyak sebesar 10 persen berpeluang menaikkan masing-masing defisit kisaran 0,2 poin persentase.

Ancaman dari luar juga belum sepenuhnya sirna.

Pasar memprediksi peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada 16 September menyentuh 63 persen, dengan keputusan tersebut bergantung pada data inflasi AS.

Jika The Fed mengejutkan bursa lewat pengetatan yang makin agresif, lonjakan imbal hasil Treasury AS sanggup kembali memberikan tekanan atas rupiah.

Oleh karena itu, CGSI memandang penguatan rupiah saat ini belum memadai guna melenyapkan kerentanan struktural.

“Rupiah pada akhirnya dapat kembali tertekan jika tingginya harga minyak memperlebar defisit kembar, The Fed menaikkan suku bunga beberapa kali, dan tingginya imbal hasil US Treasury (UST) memicu arus keluar modal,” tulis dari sumbernya.

Penguatan yang berkesinambungan, menurut CGSI, memerlukan kestabilan kebijakan dalam negeri, penguatan penerimaan fiskal, serta strategi substitusi impor pada lini industri dan jasa.

Dilihat dari sisi neraca pembayaran, CGSI menyoroti meningkatnya impor jasa nontransportasi dan pelebaran defisit pendapatan primer akibat maraknya repatriasi dividen.

Sedangkan pada transaksi keuangan, Foreign Direct Investment (FDI) yang jalan di tempat, menyusutnya investasi portofolio, serta meningkatnya arus modal keluar oleh warga lokal turut menjadi tantangan.

Arus keluar aset kas serta deposito sektor swasta malah menyentuh USD9,8 miliar pada semester I-2026.

Dengan begitu, ruang penguatan rupiah masih terbuka sepanjang dolar AS tetap melorot dan tidak muncul kejutan kebijakan dalam negeri.

Namun, harga minyak yang bertahan tinggi serta potensi pengetatan The Fed bisa menjadi hambatan berikutnya.

Indo Premier menganggap risiko fiskal menjadi beban terbesar bagi rupiah dalam jangka menengah.

Di sisi lain, stabilisasi cadangan devisa menghadirkan bantalan, dengan cadangan devisa telah bertambah sekitar USD1,5 miliar dari posisi terendah pada Mei 2026.

Artinya, reli rupiah kali ini tak hanya bakal ditentukan oleh arah dolar AS serta kebijakan suku bunga, melainkan juga seberapa lama Indonesia sanggup menahan dampak harga minyak tinggi terhadap fiskal maupun neraca eksternal.

Terkini