Indeks Manufaktur Indonesia Melambat, Stok di Gudang Menumpuk Terus

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:58:14 WIB
Ilustrasi Pabrik Plastik. ( sumber : net )

JAKARTA - Instansi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mempublikasikan bahwa Indeks Kepercayaan Industri (IKI) dalam kurun Agustus 2026 bertengger di angka 52,30.

Indikator yang berada di atas ambang batas 50 ini memperlihatkan sektor manufaktur nasional tengah berada dalam fase ekspansi.

Kendati demikian, fase pertumbuhan tersebut mengalami perlambatan jika disandingkan dengan performa industri manufaktur nasional pada Juli 2026 lampau, serta tatkala dikomparasikan dengan Agustus 2025.

Juru Bicara Kemenperin dari Sumbernya memaparkan, besaran angka IKI di bulan Agustus 2026 ini melandai 0,80 poin sekiranya dibandingkan dengan IKI Juli 2026 yang dahulu dicatatkan pada posisi 53,10.

Di samping itu, angka tersebut pun merosot 1,25 poin manakala disandingkan bersama nilai IKI Agustus tahun 2025 silam yang menyentuh 53,55.

Diuraikan pula bahwa dari total 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, tercatat ada 22 subsektor yang sukses mengalami ekspansi.

Sementara itu, hanya ada satu subsektor yang justru membukukan kontraksi, yakni industri kulit, komoditas berbahan kulit, serta alas kaki (KBLI 15).

Menurut keterangan dari Sumbernya, kelompok subsektor yang berekspansi tersebut menyumbangkan andil sebesar 98,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Industri Pengolahan Nonmigas Triwulan II 2026.

“Artinya, subsektor yang ekspansi adalah industri-industri besar,” kata dari Sumbernya dalam konferensi pers yang ditayangkan kanal Youtube Kementerian Perindustrian RI, Senin (31/8/2026).

“Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Minuman (KBLI 11) dan Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia (KBLI 20),” sambungnya.

Dari Sumbernya menguraikan bahwa indeks IKI itu sendiri ditopang oleh 3 parameter utama, yaitu variabel pesanan baru, tingkat produksi, dan ketersediaan persediaan produk.

Berdasarkan hasil rekapitulasi IKI Agustus 2026, tercatat bahwa variabel pesanan baru menghadapi koreksi perlambatan sebesar 0,67 poin atau kini berada di level 53,13.

Bahkan, nilai IKI pada variabel persediaan produk menunjukkan penurunan tajam sebesar 3,16 poin yang menyebabkan variabel ini masih tertahan di zona kontraksi pada level 46,02.

Di sisi lain, parameter produksi justru memperlihatkan kenaikan sebesar 0,55 poin sehingga mampu mencapai angka 55,10.

Dari Sumbernya mengungkapkan bahwa fenomena yang sebelumnya terjadi pada Juli 2026 ternyata masih terus berlanjut di bulan Agustus 2026.

“Perlu kami sampaikan dan ingatkan kembali, pada bulan Juli 2026 lalu, permintaan industri dalam negeri, produksi dalam negeri berdasarkan IKI, meningkat.

Sedangkan stok produk manufaktur di gudang, cenderung meningkat juga atau menumpuk,” katanya.

“Industri menahan melepas barangnya ke pasar domestik atau pun ekspor karena menunggu berbagai perubahan perbaikan pasar domestik maupun pasar ekspor.

Pada bulan Agustus 2026 ini, kami melihat fenomena yang sama.

Bahwa, industri masih menunggu perubahan yang terjadi baik di pasar domestik maupun ekspor,” papar dari Sumbernya.

Kendati demikian, lanjut beliau, aktivitas produksi pabrik tetap berjalan secara kontinu karena korporasi memandang kondisi makroekonomi Indonesia maupun global diproyeksikan bakal terus membaik.

“Berdasarkan orientasi pasar industri, IKI domestik dan ekspansi masih ekspansif meski melambat.

Dua-duanya masih di atas 50,” kata dari Sumbernya.

“IKI Ekspor pada bulan Agustus 2026 mencapai 53,09, melambat 0,80 poin dibandingkan dengan bulan Juli 2026 yang sebesar 53,95.

Dan, IKI Domestik pada bulan Agustus 2026 mencapai 51,13, mengalami perlambatan 0,86 poin dibandingkan dengan bulan Juli 2026 yang sebesar 51,99,” paparnya.

Sebagaimana jamak diketahui, kelompok industri makanan memegang rekor nilai IKI tertinggi sepanjang Agustus 2026.

Faktor pendorong utama situasi tersebut, tutur dari Sumbernya, salah satunya ditopang oleh geliat industri minyak kelapa sawit di tanah air.

“Kami mendapatkan informasi bahwa industri makanan terutama industri CPO (minyak sawit mentah/ crude palm oil) sedang mengalami kenaikan harga, terutama di pasar ekspor,” ujarnya.

“Dan kemudian ada penundaan permintaan CPO terhadap upaya untuk transformasi biodiesel dari B40 ke B50.

Dan tentu kami berharap ke depan, permintaan CPO untuk domestik tetap akan naik seiring dengan program Presiden Prabowo Subianto dalam ketahanan energi, terutama transformasi biodiesel dari B40 ke B50,” tambahnya.

Di sisi lain, imbuh dari Sumbernya, lonjakan tarif logistik internasional bertindak sebagai faktor penghambat yang memicu kelesuan IKI sektor ekspor selama Agustus 2026.

“Salah satu faktor yang menurut kami cukup berpengaruh terhadap penurunan IKI ekspor adalah meningkatnya biaya logistik luar negeri baik itu untuk pembelian bahan baku impor atau pun juga penjualan ekspor manufaktur,” kata dari Sumbernya.

Secara akumulatif, sambung dari Sumbernya, dinamika kegiatan bisnis industri nasional sepanjang Agustus 2026 memang merekam perlambatan, meski dalam skala yang tipis.

Berdasarkan data rinci, kondisi operasional usaha secara umum pada Agustus 2026 mengalami peningkatan sebesar 0,7 poin jika dibandingkan periode sebelumnya.

Tercatat sebanyak 78,6% responden melaporkan bahwa status kegiatan bisnis mereka berada dalam kategori Membaik serta Stabil.

Proporsi entitas industri yang mengeklaim kondisi bisnisnya bertumbuh Membaik pada Agustus 2026 mencapai 34,2%, atau merosot 0,4% apabila dikomparasikan dengan bulan lalu.

Sementara itu, persentase responden yang menyatakan keadaan usahanya Stabil tercatat di angka 44,4%, yang berarti mengalami kenaikan sebesar 1,1%.

Adapun persentase pelaku usaha yang melaporkan penurunan performa bisnis pada Agustus 2026 terpantau turun 0,7% hingga berada di angka 21,4%.

“Hal ini menunjukkan, kegiatan usaha industri pada bulan Agustus cenderung stagnan,” ujar dari Sumbernya.

Menanggapi tingkat keyakinan para pelaku bisnis di Indonesia untuk horizon waktu 6 bulan ke depan, dari Sumbernya memaparkan data spesifik.

“Pada Agustus 2026, tingkat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya 6 bulan ke depan sebesar 66,6% atau sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya.

Angka ini melambat 1,2% dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya,” paparnya.

Sebanyak 27,4% kalangan pengusaha menyatakan pandangan bahwa kondisi usaha mereka bakal cenderung stabil dalam rentang setengah tahun mendatang.

Persentase tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 2,2% ketimbang catatan bulan terdahulu.

Sementara itu, rasio pesimisme di kalangan pebisnis terhadap prospek usaha untuk 6 bulan ke depan tercatat sebesar 6,0%, yang berarti menyusut 1,0% dari perolehan bulan sebelumnya.

Pada bagian akhir keterangannya, dari Sumbernya menegaskan kembali bahwa tingkat ketahanan atau resiliensi sektor manufaktur Indonesia nyatanya masih jauh lebih tangguh jika disandingkan dengan manufaktur di berbagai negara lain.

Tags

Terkini