JAKARTA - Harga emas dunia memangkas penguatan dan ditutup relatif stabil pada perdagangan Kamis (6/8/2026) waktu setempat atau Jumat (7/8/2026) pagi WIB.
Pergerakan ini terjadi setelah harga minyak melonjak akibat laporan mengenai usulan Iran untuk membatasi kapal yang dianggap "bermusuhan" melintasi Selat Hormuz.
Lonjakan harga minyak memicu kembali kekhawatiran inflasi.
Kondisi itu meningkatkan ekspektasi pasar terhadap peluang bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Mengutip Reuters, harga emas spot tercatat relatif tidak berubah di level 4.244,29 dollar AS per ons.
Sebelumnya, harga sempat menyentuh level tertinggi sejak 18 Juni pada perdagangan intraday.
Sehari sebelumnya, emas melonjak lebih dari 4 persen, menjadi kenaikan harian terbesar sejak Februari.
Sementara itu, harga kontrak emas berjangka Amerika Serikat turun tipis 0,1 persen menjadi 4.299,60 dollar AS per ons.
Sentimen pasar berubah setelah kantor berita Iran, Fars, melaporkan komite parlemen tengah meninjau rancangan undang undang yang melarang kapal Amerika Serikat, Israel, dan kapal lain yang dianggap "bermusuhan" melintasi Selat Hormuz.
Laporan tersebut mendorong harga minyak melonjak lebih dari 3 dollar AS per barel.
Kenaikan itu kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
"Rancangan undang-undang Iran itu memberikan dampak karena meningkatkan kekhawatiran inflasi jika harga minyak mentah kembali melonjak," kata dari Sumbernya Jim Wyckoff.
Harga energi yang lebih tinggi berpotensi mendorong inflasi karena produsen akan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
Situasi tersebut membuat bank sentral berpeluang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menekan inflasi.
Perhatian investor kini beralih ke laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat.
Data tersebut dinilai menjadi salah satu penentu arah kebijakan suku bunga The Fed.
"Prospek kebijakan The Fed tetap menjadi penggerak utama harga emas, dan data ketenagakerjaan AS pada Jumat akan memengaruhi sinyal bank sentral terkait suku bunga," ujar dari Sumbernya Bob Haberkorn.
Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed mencapai sekitar 57 persen pada pertemuan September dan 84 persen pada pertemuan Desember.
Suku bunga yang lebih tinggi umumnya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Harga emas saat ini juga masih sekitar 24 persen di bawah rekor tertinggi 5.594,82 dollar AS per ons yang tercapai pada akhir Januari.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,9 persen menjadi 61,54 dollar AS per ons.
Harga platinum melemah 0,6 persen menjadi 1.724,64 dollar AS per ons.
Sementara itu, harga palladium naik 0,6 persen menjadi 1.371,48 dollar AS per ons.